FK-KMK UGM dan Lapas Kelas IIA Yogyakarta Kembangkan Program Promosi Kesehatan Mental WBP

FK-KMK UGM. Tim pengabdian kepada masyarakat FK-KMK UGM memperkuat upaya peningkatan kesejahteraan psikologis Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) melalui kolaborasi dengan Lapas Kelas IIA Yogyakarta. Kegiatan berupa pemaparan hasil need assessment dan diskusi mengenai rencana implementasi program promosi kesehatan mental bagi WBP tersebut dilaksanakan pada Senin, 20 Juli 2026, di Ruang Zona Integritas (ZI) Lapas Kelas IIA Yogyakarta. Kegiatan ini bertujuan memastikan program yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan WBP sekaligus mempertimbangkan kesiapan sistem dan sumber daya yang tersedia di lingkungan Lapas.

Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam proses penyusunan program berbasis kebutuhan atau evidence-based. Melalui pendekatan ini, rancangan intervensi tidak hanya diarahkan untuk merespons persoalan kesejahteraan psikologis yang dihadapi WBP, tetapi juga disusun dengan memperhatikan kondisi dan kapasitas lembaga pemasyarakatan sebagai tempat pelaksanaan program.

Dalam pemaparan hasil asesmen, tim pengabdian kepada masyarakat yang diketuai oleh Prof. dr. Fatwa Sari Tetra Dewi, M.P.H., Ph.D., menyampaikan sejumlah temuan mengenai kondisi kesejahteraan psikologis WBP. Asesmen juga mengidentifikasi berbagai faktor yang memengaruhi kesejahteraan psikologis serta potensi yang dapat dikembangkan oleh Lapas dalam mendukung program promotif dan preventif.

Pemaparan tersebut kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama pimpinan dan petugas Lapas dari berbagai bidang. Berbagai tanggapan yang disampaikan menjadi bahan penting untuk menyempurnakan program agar lebih sesuai dengan kebutuhan di lapangan sekaligus memungkinkan penerapannya secara realistis.

Lapas Kelas IIA Yogyakarta menyambut secara positif rencana program yang diusulkan. Dukungan tersebut mencerminkan adanya komitmen bersama untuk membangun lingkungan pembinaan yang tidak hanya memperhatikan aspek keamanan, tetapi juga kesejahteraan psikologis dan kualitas hidup WBP. Antusiasme yang terlihat selama diskusi turut membuka peluang bagi pengembangan program secara berkelanjutan sebagai bagian dari penguatan layanan pembinaan di Lapas.

Program promosi kesehatan mental yang dirancang nantinya tidak berhenti pada peningkatan literasi kesehatan mental melalui edukasi dan psikoedukasi. Program juga diarahkan untuk mendorong berbagai aktivitas positif yang dapat mendukung produktivitas, kemampuan coping, serta dukungan sosial bagi WBP selama menjalani masa pembinaan. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih suportif dan memperkuat ketahanan psikologis warga binaan.

Kegiatan ini mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan kesejahteraan psikologis; SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui akses kesehatan yang inklusif bagi WBP; serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi perguruan tinggi dan lembaga pemasyarakatan. (Kontributor: Nia Lestari Muqarohmah).