FK-KMK UGM. Prof. Dr. Siti Helmyati, DCN., M.Kes., berhasil memperoleh gelar sebagai Guru Besar dalam bidang Gizi Masyarakat di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM. Beliau melaksanakan pidato pengukuhan jabatan Guru Besar pada Selasa (08/09) di Balai Senat Lantai 2 Gedung Pusat UGM. Pidato pengukuhan Prof. Helmyati berjudul Dari Bukti Menuju Dampak: Transformasi Ilmu Gizi Berbasis Bukti dalam Pencegahan Stunting dan Sistem Pangan Berkelanjutan.
“Izinkan saya memulai dengan sebuah angka yaitu 16. Karena menurut Global Nutrition Report, setiap satu dolar yang kita investasikan pada gizi anak di 1.000 hari pertama kehidupan, akan kembali sebagai 16 dolar bagi bangsa ini. Namun, angka yang jauh lebih menentukan bukan enam 16, melainkan 2030. Tahun ketika Indonesia mulai memasuki jendela bonus demografi, saat 64% penduduk kita berada di usia produktif. Jendela ini memiliki implikasi besar terhadap sistem kesehatan, stabilitas sosial-politik, dan kesejahteraan ekonomi masa depan yang hanya terbuka sekali, tidak akan terbuka lagi,” ujar Prof. Helmyati dalam pembukaan pidato pengukuhan.
Prof. Helmyati menyampaikan bahwa keberhasilan di masa mendatang masih memiliki banyak tantangan, tantang tersebut adalah pemenuhan gizi. Gizi bukan sebagai angka dalam laporan tahunan, tetapi gizi sebagai fondasi otak, tubuh, dan masa depan anak. Tantangan yang dihadapi saat ini, jauh lebih rumit daripada satu dekade yang lalu. Mulai dari stunting, meningkatnya penyakit tidak menular akibat transisi epidemiologi yang menyebabkan anak-anak berada di masalah kekurang dan kelebihan gizi, serta sistem pangan dunia yang saat ini menyumbang 20-30% emisi gas rumah kaca global, sekaligus ancaman kegagalan untuk memenuhi kebutuhan gizi populasi yang terus bertambah.
“Selama ini kita memahami penyebab stunting antara lain kurangnya asupan gizi, infeksi berulang, pola asuh yang belum optimal, hingga akses sanitasi dan air bersih yang timpang antar wilayah. Namun ada penyebab yang belum banyak dibicarakan, mengapa sebagian anak tetap stunting meski asupannya sudah tercukupi.”
Menurut Prof. Helmyati, penyebabnya adalah Environmental enteric dysfunction (EED), yaitu peradangan kronis usus halus akibat paparan berulang di lingkungan yang tidak higienis, yang dapat merusak kemampuan usus dalam menyerap zat gizi, meski asupan makanan sudah cukup dan bergizi. “Penelitian saya dan tim menunjukkan pemberian susu sinbiotik selama tiga bulan mampu memperbaiki pertumbuhan linier anak stunting, bahkan meningkatkan kemampuan kognitifnya.”
Persoalan stunting tidak hanya pada tubuh anak saja, namun lebih besar bagaimana sebuah negara membangun sistemnya secara keseluruhan. Melihat dari pengalaman internasional, penurunan stunting bukanlah sesuatu yang sederhana. Salah satu contoh negara yang berhasil adalah Peru, negara ini berhasil menurunkan prevalensi stunting dari 29% menjadi 14% dalam kurun waktu kurang dari satu dekade. Peru menerapkan bantuan tunai bersyarat bagi ibu hamil, mewajibkan pemeriksaan kesehatan, imunisasi, pemantauan tumbuh kembang anak, sistem Responsive Behavioral Budgeting yang ketat, dan fokus strategi pada intervensi terpilih.
“Beberapa tahun terakhir, perhatian kita banyak tertuju pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah investasi sosial berskala besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penyediaan pangan bergizi bagi anak didik, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Program ini merupakan salah satu intervensi gizi paling ambisius dalam sejarah Pembangunan kesehatan di Indonesia.”
Prof. Helmyati menyoroti sejumlah hal mendasar terkait Program Makan Bergizi Gratis. Mulai dari ketepatan sasaran, kecukupan dan kualitas gizi yang diberikan, kesesuaian kebutuhan gizi dengan tahapan kehidupan, hingga memastikan bahwa makanan yang disediakan benar-benar dikonsumsi oleh penerima manfaat. Hal-hal tersebut perlu dicermati secara bersama agar kebijakan yang diterapkan benar-benar efektif dan memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.
“Pemberian makan pada anak usia sekolah memiliki manfaat yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas konsumsi, kesiapan belajar, kesehatan, dan produktivitas sumber daya manusia. Tetapi tidak dapat dipandang sebagai satu-satunya strategi pencegahan stunting. Program MBG memiliki potensi menjadi bagian dari solusi, tetapi efektivitasnya terhadap stunting bergantung pada integrasinya dengan intervensi lai yang telah terbukti efektif pada periode seribu hari pertama kehidupan. Kebijakan penurunan stunting membutuhkan implementasi yang baik, sayangnya hal itu masih menjadi titik lemah kita. Implementasi yang baik yaitu pemanfaatan data secara optimal untuk pembelajaran, bukan sekadar dilaporkan.”
Pada pemaparannya, Prof. Helmyati juga menekankan bahwa menyelesaikan masalah stunting harus dilakukan secara bersama. Dibutuhkan transformasi sistem yang merangkul aspek biologis, perilaku, lingkungan, dan kebijakan, dan melibatkan lintas disiplin. Beberapa hal yang disoroti antara lain memperkuat sistem data gizi nasional, membangun budaya evaluasi berbasis bukti, dan membangun sistem pangan yang sehat dan berkelanjutan.
“Kita perlu renungkan bersama adalah apakah kita akan tetap puas dengan menyebut keberhasilan program dari besarnya anggaran diserap? Atau laporan yang lengkap dan tebal? Sudah berapa lama kita mengukur keberhasilan dari seberapa banyak yang kita berikan. Kita akan terus membuat program, namun gagal menyentuh akar permasalahannya. Sebab kebijakan yang baik mestinya lahir dari bukti, bukan dari asumsi bahwa niat baik dan besarnya anggaran untuk menyelesaikan masalah sekompleks stunting,” pungkas Prof. Helmyati.
Prof. Dr. Siti Helmyati, DCN., M.Kes., merupakan salah satu dari 544 Guru Besar aktif di Universitas Gadjah Mada. Di tingkat fakultas merupakan Guru Besar ke 66 aktif dari 103 Guru Besar yang dimiliki oleh FK-KMK UGM. Pengukuhan Guru Besar Prof. Anggoro sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 5: Kesetaraan Gender, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Humas/Sitam).


