MENDIDIK ARSITEK PERADABAN (MANG ETOS EDISI II MEDIA EFKAGAMA TAHUN 2026)

Menjadi lulusan perguruan tinggi bagi Masyarakat Indonesia adalah anugerah yang patut disyukuri. Data yang ada menunjukkan bahwa hanya sekitar 10% Masyarakat Indonesia yang lulus dari perguruan tinggi. Sementara itu, angka partisipasi kasar di perguruan tinggi baru mencapai sekitar 33%; lebih rendah jika dibandingkan dengan tetangga dekat Indonesia seperti Thaliand, Malaysia, dan Singapura. Meskipun demikian, saat ini kita juga gembira menyaksikan begitu banyak generasi muda Indonesia yang lulus perguruan tinggi dengan menyandang gelar cumlaude, lulus dengan IPK yang membanggakan. 

Namun tentu, pendidikan sejati bukanlah panggung untuk sekedar menumpuk nilai atau mengumpulkan segudang prestasi yang mewarnai portofolio lulusan. Pendidikan semestinya tidak hanya akan mengantarkan pada lahirnya sederet karya dan inovasi yang membuat kita tersenyum ceria. Pendidikan adalah kawah candradimuka yang menempa diri menjadi seorang manusia yang utuh, yang menjadikan tanggung jawab dan integritas sebagai fondasi utama. Pendidikan akan mengantarkan pada kemampuan untuk berpikir kritis, mengolah setiap informasi yang diterimanya menembus akar masalah dan merumuskan solusi yang nyata. Tentu saja, dengan disertai semangat kepedulian dan tanggung jawab sosial. Tak “hanya” mengandalkan kecerdasan, kreativitas, dan kemampuannya berinovasi. Karena kecerdasan tanpa disertai dengan keluhuran hati Nurani hanya akan melahirkan keangkuhan. 

Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM, telah lama menggaungkan semangat “Pendidikan bermartabat”, yang digadang sebagai wahana untuk mendidik para arsitek peradaban di bidang kedokteran dan kesehatan. Dari proses tersebut, akan terbentuk generasi terbaik bangsa yang memiliki ketajaman berpikir kritis, kemampuan menganalisis masalah dan mencari solusi terbaik sebagai bentuk tanggung jawab sosial kelompok terdidik, serta menjunjung tinggi kepedulian dan integritas. Harapannya, kesempatan mengenyam Pendidikan tinggi tak hanya menjadi atribut pribadi untuk eksis, namun menjadi fitur yang akan mengantarkannya untuk merajut peradaban manusia yang lebih inklusif, bermakna dan berkelanjutan. (Penulis: Supriyati)