RABOAN Bioetika FK-KMK UGM Soroti Ketimpangan dalam Penelitian Kesehatan Global

FK-KMK UGM. Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) FK-KMK UGM dan UNESCO Chair on Bioethics UGM menyelenggarakan RABOAN Bioetika dengan mengangkat topik “Kemitraan yang Berkeadilan dalam Kolaborasi Penelitian Kesehatan Global”. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 26 Agustus 2026,  menghadirkan Dr. Amalia Hasidia, M.Sc. dari Erasmus University Rotterdam, Netherlands, dengan drg. Agnes Bhakti Pratiwi, MPH, PhD dari CBMH FK-KMK UGM dan UNESCO Chair on Bioethics UGM sebagai moderator.

Kolaborasi lintas negara menjadi bagian penting dalam menjawab persoalan kesehatan yang semakin kompleks. Namun, keterlibatan berbagai negara dan institusi dalam satu penelitian belum tentu secara otomatis menghasilkan hubungan yang setara. Dalam pemaparannya, Dr. Amalia membahas sejumlah tantangan yang masih ditemukan dalam kemitraan penelitian kesehatan global, khususnya hubungan antara negara-negara Global North dan Global South.

Ketimpangan sumber daya, akses terhadap pendanaan, kapasitas penelitian, hingga relasi kuasa dapat memengaruhi siapa yang menentukan agenda penelitian, siapa yang memimpin prosesnya, dan siapa yang mendapatkan pengakuan atas hasil penelitian. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan keadilan dalam penelitian tidak hanya berkaitan dengan hasil akhir, tetapi juga dengan bagaimana proses penelitian dirancang dan dijalankan sejak awal.

Pembahasan juga menyoroti pentingnya dekolonisasi penelitian kesehatan global. Warisan kolonial masih dapat tercermin dalam praktik penelitian, termasuk dalam penentuan agenda, distribusi pendanaan, kepemimpinan proyek, hingga produksi dan penyebarluasan pengetahuan. Karena itu, peneliti lokal tidak semestinya hanya dilibatkan ketika proses pengumpulan data dilakukan

Tantangan untuk membangun kemitraan yang lebih setara juga cukup beragam. Persoalan tidak hanya berkaitan dengan sumber daya dan pendanaan, tetapi mencakup pembagian beban kerja, akses terhadap data, kepenulisan ilmiah, pengakuan kontribusi, perbedaan bahasa, dan budaya kerja. Praktik parachute research atau helicopter research turut menjadi perhatian, ketika peneliti dari luar datang untuk mengumpulkan data, sementara keterlibatan pihak lokal dalam kepemimpinan dan pemanfaatan hasil penelitian masih terbatas.

Kegiatan ini mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan penelitian yang berkontribusi pada kesehatan; SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui kemitraan penelitian yang lebih setara; serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi lintas institusi dan negara. (Kontributor: Rafi).