FK-KMK UGM. Pada Jumat (2/10/2026), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan International Vaccine Symposium 2026. Kegiatan diselenggarakan di Auditorium FK-KMK UGM. Pada tahun ini, International Vaccine Symposium 2026 mengusung tema “Building the Vaccine Innovation Ecosystem: From Global Priorities to Local Impact“, yang bertujuan sebagai wahana dialog ilmiah dan dialog strategis tingkat tinggi mengenai penguatan ekosistem inovasi vaksin di Asia, serta menjembatani prioritas global dengan kebutuhan regional dan implementasi lokal.
Ketua Panitia International Vaccine Symposium 2026, Prof. dr. Jarir At Thobari, D.Pharm, PhD., dalam sambutannya mengatakan bahwa vaksinasi tetap menjadi salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif dalam mencegah jutaan kematian dan mengurangi beban penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Berbagai tantangan besar masih ada di sepanjang alur pengembangan vaksin, mulai dari penelitian dan pengembangan klinis hingga manufaktur, kesiapan regulasi, implementasi kebijakan, dan akses yang merata. Dalam mengatasi tantangan-tantangan tersebut, diperlukan ekosistem inovasi vaksin yang kuat.
“Tidak ada satu institusi atau sektor pun yang dapat bekerja sendiri. Kita membutuhkan kolaborasi antara peneliti, pemerintah, regulator, tenaga kesehatan, organisasi penelitian, industri, lembaga pendanaan, serta masyarakat untuk mewujudkan inovasi ilmiah menjadi program vaksinasi yang efektif,” kata Prof. Jarir.
Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D, FRSPH, turut mengemukakan bahwa International Vaccine Symposium 2026 ini sekaligus merayakan dua pencapaian besar. Keduanya antara lain bergabungnya FK-KMK UGM sebagai anggota baru dalam jaringan ARISE (Academic Research Organisations/ARO Alliance for Southeast and East Asia) dan terbitnya izin edar untuk BioRV, sebuah vaksin rotavirus yang ditujukan untuk melindungi anak-anak Indonesia dari penyakit infeksi.
Prof. Yodi menuturkan, kehadiran vaksin BioRV merupakan hasil nyata dari kolaborasi riset lintas negara yang telah berjalan lebih dari 50 tahun antara para peneliti UGM, Murdoch Children’s Research Institute (MCRI), University of Melbourne, dan PT Bio Farma. Kemitraan jangka panjang ini berhasil membangun ekosistem inovasi vaksin yang terintegrasi, mulai dari penelitian ilmiah, uji klinis, peninjauan regulasi, hingga tahap produksi dan distribusi.
“Ekosistem yang kuat ini sangat krusial agar inovasi medis dapat didistribusikan secara cepat, aman, dan terjangkau kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujar Prof. Yodi.
International Vaccine Symposium 2026 diselenggarakan beriringan dengan Pertemuan Tahunan ke-5 ARISE dan Masterclass Asia Pacific Vaccine Research Network (APVRN). Simposium tersebut menghadirkan berbagai pakar dan perwakilan institusi terkemuka, seperti akademisi UGM, Indonesia Clinical Research Centre, Clinical Research Malaysia, IQVIA, MCRI Australia, ARISE Japan, hingga jajaran industri vaksin seperti Takeda, GSK, Etana, Sinovac, dan Bio Farma.
Para narasumber dan pakar yang hadir membahas berbagai topik, meliputi pandangan global terhadap ancaman penyakit infeksi baru, strategi pembangunan ekosistem uji klinis nasional, serta pentingnya penguatan jaringan riset regional. Selain itu, para panelis mengulas perjalanan pengembangan medis dan kapasitas manufaktur lokal untuk berbagai vaksin prioritas, seperti vaksin demam berdarah (dengue), malaria, tuberkulosis, EV71, hingga tifoid.
Pelaksanaan International Vaccine Symposium 2026 secara langsung mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Dukungan terhadap SDG 3 terwujud melalui penguatan ekosistem inovasi vaksin serta riset vaksin penyakit menular lainnya, yang bertujuan mencegah beban penyakit dan melindungi kesehatan masyarakat secara luas. Sementara itu, keterkaitan dengan SDG 17 ditunjukkan lewat kolaborasi strategis lintas negara dan multisektor antara akademisi UGM, lembaga riset internasional, pemerintah, hingga jajaran industri farmasi dalam menciptakan akses vaksin yang terjangkau dan berkelanjutan. (Penulis: Citra/Humas)



