FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) bekerja sama dengan RSUP Dr. Sardjito dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan edukasi dan kampanye kesadaran autisme dalam rangka memperingati World Autism Awareness Month 2026. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 29 April 2026, di Ruang Tunggu Poliklinik Anak Sayap Barat Gedung Kesehatan Ibu dan Anak (KIAT) RSUP Dr. Sardjito.
Kegiatan tersebut diikuti oleh pasien anak yang menjalani pemeriksaan di Poliklinik Anak dan Klinik Tumbuh Kembang, orang tua pasien, serta pengunjung poliklinik. Melalui pendekatan edukatif yang dekat dengan masyarakat, peserta diajak memahami autisme sebagai kondisi neurodevelopmental yang ditandai dengan hambatan dalam komunikasi dan interaksi sosial serta adanya pola perilaku repetitif atau stereotipik. Pemahaman yang tepat mengenai autisme dinilai penting untuk mengurangi stigma dan kesalahpahaman yang masih sering ditemui di tengah masyarakat.
Peringatan Hari Kesadaran Autisme Sedunia yang diperingati setiap tanggal 2 April pada tahun 2026 mengusung tema “Advancing Neurodiversity and the United Nations Sustainable Development Goals (SDGs)”. Tema tersebut menyoroti pentingnya pengakuan terhadap neurodiversitas sebagai bagian dari keberagaman manusia yang perlu dihargai dan diakomodasi dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan demikian, individu dengan autisme memiliki kesempatan yang setara untuk berpartisipasi dalam pendidikan, kehidupan sosial, serta pembangunan masyarakat.
Dalam sesi edukasi, dr. Braghmandita Widya Indraswari, M.Sc., Ph.D., Sp.A(K), menjelaskan bahwa gerakan global terkait autisme saat ini telah berkembang dari sekadar meningkatkan kesadaran menuju upaya yang lebih luas, yakni membangun penerimaan dan inklusi. Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa individu dengan autisme memiliki potensi, kemampuan, dan kontribusi yang dapat dikembangkan apabila mendapatkan dukungan yang tepat dari lingkungan sekitar.
Lebih lanjut, peserta memperoleh pemahaman bahwa autisme bukanlah kondisi yang harus dipandang sebagai keterbatasan semata. Sebaliknya, individu dengan autisme memiliki karakteristik unik yang membutuhkan pendekatan khusus dalam proses pendidikan, pengasuhan, dan interaksi sosial. Oleh karena itu, dukungan keluarga, tenaga kesehatan, pendidik, serta masyarakat menjadi faktor penting dalam membantu mereka mencapai perkembangan yang optimal.
Selain memberikan edukasi, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mengampanyekan penghormatan terhadap hak-hak anak dengan autisme. Melalui peningkatan literasi kesehatan masyarakat, diharapkan semakin banyak pihak yang memahami pentingnya menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Upaya ini sekaligus menjadi langkah nyata dalam mengurangi diskriminasi dan meningkatkan kesempatan bagi penyandang autisme untuk berkembang sesuai potensi yang dimiliki.
Kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan literasi kesehatan masyarakat. SDG 4 Pendidikan Berkualitas karena mendorong pemahaman yang lebih baik mengenai kebutuhan belajar, perkembangan, dan potensi anak dengan autisme. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan dengan menciptakan kesempatan yang lebih setara bagi kelompok rentan. (Kontributor: Muhammad Nasiruddin Afif).




