Mahasiswa Magister Keperawatan FK-KMK UGM Terapkan Pembelajaran Terapi Sujok bagi Warga Kampus

FK-KMK UGM. Mahasiswa Magister Keperawatan melaksanakan praktik terapi Sujok bagi warga kampus sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Complementary and Alternative Therapy (CAT), sekaligus mengintegrasikan proses pengajaran dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan tersebut mendapat antusiasme tinggi dengan diikuti 43 peserta, melampaui target awal yang diperkirakan sekitar 23–30 peserta.

Kegiatan terapi Sujok ini merupakan bagian dari “Integrasi penelitian, pengajaran dan pengabmas tahun 2026”. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk membawa pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari di ruang kelas ke dalam situasi praktik secara langsung bersama warga kampus.

Para peserta hadir dengan beragam keluhan, mulai dari nyeri tubuh, kelelahan, gangguan pencernaan, hingga keluhan lainnya. Sebelum terapi dilakukan, peserta terlebih dahulu melakukan pendaftaran dan menyampaikan keluhan yang dirasakan. Untuk keluhan yang dapat dinilai menggunakan skala, seperti nyeri, dilakukan penilaian sebelum dan sesudah terapi sebagai bagian dari evaluasi sederhana selama kegiatan.

Pelaksanaan kegiatan dipersiapkan mahasiswa dalam waktu tiga hari dengan pendampingan dosen. Dalam persiapan tersebut, mahasiswa membagi tugas mulai dari menyiapkan kegiatan, menerima peserta, mencatat keluhan, melaksanakan terapi, hingga memberikan edukasi setelah terapi. Persiapan yang singkat menjadi pengalaman tersendiri bagi mahasiswa untuk belajar mengelola kegiatan secara terstruktur.

Kegiatan juga melibatkan tiga mahasiswi Program Sarjana Keperawatan FK-KMK UGM yang turut membantu pelaksanaan. Kehadiran mereka mendukung kelancaran alur kegiatan, termasuk dalam proses interaksi dengan peserta. Kolaborasi lintas jenjang pendidikan tersebut memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk bekerja bersama dalam sebuah kegiatan pelayanan kepada warga kampus.

Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., M.N.Sc., Ph.D., selaku Koordinator Mata Kuliah CAT, mengapresiasi antusiasme warga kampus yang mengikuti kegiatan tersebut. “Ini luar biasa, artinya kita diberi kesempatan untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain,” ujar Prof. Intansari.

Setelah menyampaikan keluhan, peserta mendapatkan terapi Sujok yang dilakukan mahasiswa berdasarkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari, dengan pendampingan dosen. Karena keterampilan mahasiswa masih berada pada tingkat dasar, tim pendamping tetap memberikan arahan selama proses berlangsung, terutama apabila ditemukan kondisi yang memerlukan perhatian lebih lanjut.

Usai terapi, peserta juga memperoleh edukasi mengenai titik-titik tertentu yang dapat distimulasi secara mandiri di rumah sesuai arahan terapis. Mahasiswa memperkenalkan penggunaan biji-bijian dalam metode Sujok serta cara melakukan stimulasi sederhana sebagai bagian dari self-care. Edukasi tersebut menjadi bagian penting agar peserta tidak hanya mengikuti terapi, tetapi juga mendapatkan pemahaman mengenai perawatan mandiri.

Tingginya jumlah peserta sempat membuat kapasitas ruangan menjadi terbatas. Namun, pembagian tugas dan koordinasi antara mahasiswa Magister Keperawatan, tiga mahasiswi Program Sarjana Keperawatan, serta tim pendamping membuat rangkaian pelayanan tetap dapat berlangsung dengan tertib.

Aspek etika, privasi, dan kenyamanan peserta juga menjadi perhatian selama kegiatan. Mahasiswa berupaya menjaga batas kesopanan dalam proses terapi dan memberikan pelayanan dengan mempertimbangkan kondisi serta kenyamanan masing-masing peserta. Hal tersebut menjadi bagian dari pembelajaran profesional yang tidak hanya berkaitan dengan keterampilan teknis, tetapi juga sikap dalam memberikan pelayanan.

Dr. Ibrahim Rahmat, S.Kp., S.Pd., M.Kes., selaku pendamping kegiatan, menilai pelaksanaan kegiatan berjalan dengan baik dan mendapatkan respons positif dari peserta. “Dari yang direncanakan sekitar 23 hingga 30 orang, yang hadir mencapai 43 orang. Ada peserta yang melaporkan nyeri skala 8 dari 10 menjadi 5 setelah terapi, dan ada pula yang menyampaikan keluhan sesak napasnya berkurang,” jelas Dr. Ibrahim.

Perubahan keluhan tersebut merupakan laporan subjektif peserta pada saat kegiatan dan tidak dimaksudkan sebagai kesimpulan mengenai efektivitas klinis terapi Sujok. Respons setiap individu terhadap terapi komplementer dapat berbeda. Keluhan sesak napas tetap memerlukan penilaian medis sesuai kondisi peserta, terutama apabila menetap, memburuk, atau disertai tanda dan gejala lain yang membutuhkan pertolongan medis.

Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pengenalan pendekatan komplementer dan edukasi self-care bagi warga kampus. SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui praktik langsung yang memperkuat kompetensi mahasiswa SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi dosen, mahasiswa Magister Keperawatan, mahasiswa Program Sarjana Keperawatan, tim pendamping, dan warga kampus. (Kontributor: Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., M.N.Sc., Ph.D.).