Mahasiswa FK-KMK UGM Kembangkan Instrumen MADE-BSC untuk Mengukur Konsep Diri Pasien Kanker Payudara

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) meluluskan mahasiswa Program Studi, Dr. Ni Made Merlin, S.Kep., Ns., M.Kep dengan predikat Cumlaude pada Rabu (07/10/2026). Dalam ujian terbuka di Auditorium Gedung Tahir Foundation Sayap Utara lantai 8 FK-KMK UGM, Merlin memaparkan hasil penelitiannya yang berjudul “Pengembangan Instrumen Konsep Diri pada Pasien Kanker Payudara dengan Pendekatan Budaya”.

Pada penelitiannya, Made Merlin mengembangkan instrumen MADE-BSC untuk mengidentifikasi konsep diri pasien kanker payudara dengan mempertimbangkan aspek budaya dan spiritual. Pengembangan instrumen ini dilakukan untuk menjawab keterbatasan alat ukur yang selama ini lebih banyak berfokus pada citra tubuh, sementara konsep diri pasien kanker payudara mencakup aspek yang lebih luas dan dapat berubah sejak diagnosis hingga selama menjalani pengobatan.

Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-methods dengan rancangan exploratory sequential yang dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggali pengalaman pasien kanker payudara dan berbagai aspek yang membentuk konsep diri mereka. Tahap kedua dilanjutkan dengan pendekatan kuantitatif untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen yang telah dikembangkan.

“Konsep diri kita pahami merupakan masalah yang multidimensional. Dimana konsep diri itu harus diukur secara komprehensif dengan citra tubuh, Harga diri, ideal diri, identitas diri, dan peran diri. Namun ketersediaan instrument yang mengukur secara konprehensif belum tersedia, dan juga yang sensitive terhadap budaya, khususnya Indonesia, ataupun budaya Jawa,” ujar Merlin.

Partisipan penelitian merupakan pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi, radiasi, dan/atau mastektomi serta tidak mengalami gangguan fungsi kognitif. Pada tahap kualitatif, penelitian melibatkan 20 partisipan yang dipilih menggunakan criteria sampling. Sementara itu, tahap kuantitatif melibatkan 528 responden dengan teknik consecutive sampling.

Hasil tahap kualitatif menghasilkan tujuh tema dan 38 kategori yang kemudian diintegrasikan ke dalam 95 butir pernyataan awal. Setelah melalui berbagai proses pengujian dan penyempurnaan, instrumen tersebut menghasilkan versi final yang terdiri atas 21 item. Pengembangan instrumen juga mempertimbangkan nilai-nilai yang hidup dalam konteks budaya masyarakat, termasuk nilai nrima dan aspek spiritual dalam budaya Jawa.

Proses pengujian menunjukkan bahwa instrumen memiliki tingkat validitas isi yang baik. Nilai Content Validity Ratio (CVR) berada pada rentang 0,78–1,00, sedangkan Content Validity Index (CVI) mencapai 0,89–1,00. Nilai Aiken’s V berada pada rentang 0,58–1,00. Dari sisi keterbacaan, rata-rata waktu yang dibutuhkan responden untuk mengisi instrumen adalah sekitar 25 menit.

Pengujian berikutnya menunjukkan bahwa seluruh item memiliki kemampuan diskriminasi yang memadai, dengan koefisien korelasi berada pada rentang 0,371–0,730. Analisis Exploratory Factor Analysis (EFA) juga menunjukkan hasil yang mendukung struktur instrumen, dengan nilai Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) sebesar 0,957 dan factor loading berada pada rentang 0,3–0,7.

Struktur instrumen kemudian diuji melalui Confirmatory Factor Analysis (CFA). Hasil CFA first order menunjukkan model yang sesuai dengan nilai factor loading lebih dari 0,2, CFI sebesar 0,972, TLI 0,967, SRMR 0,003, RMSEA 0,027, serta χ²/df sebesar 1,402. Sementara itu, CFA second order menunjukkan model yang sesuai untuk lima domain yang terbentuk. Dari kelima domain tersebut, identitas diri memiliki factor loading tertinggi, yaitu 0,961.

Penelitian yang dilakukan Merlin juga menguji konsistensi dan kestabilan instrumen. Hasilnya menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,830 dan Intraclass Correlation Coefficient (ICC) sebesar 0,818. Temuan tersebut menunjukkan bahwa instrumen MADE-BSC memiliki konsistensi internal dan reliabilitas yang baik untuk digunakan dalam mengidentifikasi konsep diri pasien kanker payudara.

Pengembangan instrumen ini menjadi penting karena pengalaman pasien kanker payudara tidak hanya berkaitan dengan perubahan fisik akibat penyakit dan pengobatan. Cara pasien memaknai dirinya, menerima kondisi yang dihadapi, serta mempertahankan nilai personal dan spiritual juga dapat menjadi bagian dari konsep diri. Pendekatan berbasis budaya memungkinkan aspek-aspek tersebut masuk dalam proses pengukuran sehingga instrumen lebih sesuai dengan konteks kehidupan pasien.

Ujian terbuka ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pengembangan instrumen yang mendukung pemahaman aspek psikososial pasien kanker payudara. Kegiatan ini juga mendukung SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan dengan mempertimbangkan nilai budaya dan spiritual dalam pengembangan alat ukur kesehatan. (Humas/Sitam).