Mahasiswa FK-KMK UGM Belajar Respons Kegawatdaruratan Pra-Rumah Sakit di PSC 119 Sleman

FK-KMK UGM. Mahasiswa Program Studi Kedokteran untuk mengikuti Praktik Lapangan Kegawatdaruratan Medis Pra-Rumah Sakit di UPTD Public Safety Center (PSC) 119 Sleman Siaga sebagai bagian dari pembelajaran langsung mengenai sistem pelayanan kegawatdaruratan di luar rumah sakit. Kegiatan yang diikuti Dewa Avicena Songsong Gading tersebut berlangsung selama periode 1–29 September 2025 dan memberikan pengalaman kepada mahasiswa untuk memahami mekanisme respons kegawatdaruratan, koordinasi tim, serta pentingnya kecepatan dan ketepatan penanganan pasien sejak sebelum tiba di fasilitas kesehatan.

UPTD PSC 119 Sleman Siaga merupakan unit pelaksana teknis di bawah Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman yang menjalankan fungsi koordinasi layanan kegawatdaruratan medis pra-rumah sakit selama 24 jam. Sebagai bagian dari Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) di Kabupaten Sleman, PSC 119 mengintegrasikan layanan call center, ambulans gawat darurat, serta jejaring fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk rumah sakit dan puskesmas. Sistem tersebut memungkinkan laporan kegawatdaruratan ditindaklanjuti melalui koordinasi yang cepat dan terarah.

Selama praktik, Dewa memperoleh pengalaman di dua area utama, yakni layanan call center dan respons lapangan. Pada layanan call center, ia mempelajari proses triase melalui telepon, pencatatan informasi pasien, serta koordinasi rujukan menggunakan sistem informasi kesehatan, seperti SISRUTE dan SIAP PSC. Dari proses tersebut, mahasiswa memahami bahwa informasi awal yang diterima petugas menjadi dasar penting dalam menentukan tingkat kegawatdaruratan dan respons yang diperlukan.

Kemampuan menggali informasi secara tepat menjadi semakin penting karena kondisi di lapangan tidak selalu sesuai dengan laporan awal penelepon. Informasi yang kurang lengkap atau tidak akurat dapat memengaruhi penilaian terhadap situasi yang sebenarnya. Karena itu, proses komunikasi melalui call center tidak sekadar menerima panggilan, tetapi juga membutuhkan kemampuan melakukan triase dan memberikan arahan awal kepada masyarakat sebelum tim medis tiba di lokasi.

Pada respons lapangan, Dewa bergabung bersama tim ambulans untuk mengamati sekaligus mempraktikkan berbagai aspek penanganan pasien pra-rumah sakit di bawah supervisi tenaga profesional. Sistem kerja dengan pola shift 24 jam menuntut kesiapan tim dalam menghadapi panggilan kapan pun dibutuhkan. Perhatian terhadap response time menjadi bagian penting dalam setiap respons, disertai kepatuhan terhadap standar operasional prosedur.

Pada setiap pergantian shift, mahasiswa turut mengikuti proses handover dan pemeriksaan kelengkapan logistik ambulans. Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa kesiapan pelayanan kegawatdaruratan tidak hanya ditentukan ketika panggilan masuk, tetapi juga dipersiapkan sejak sebelum tim berangkat ke lokasi. Kelengkapan peralatan dan komunikasi antarpetugas menjadi bagian dari rangkaian sistem yang saling berkaitan.

Aspek pembimbingan juga memberikan kontribusi besar selama pelaksanaan praktik. Di bawah supervisi dr. Dharmawan Lingga, mahasiswa memperoleh arahan dalam menangani berbagai situasi di lapangan sekaligus memahami pertimbangan klinis yang dilakukan oleh tim. Diskusi bersama staf dan paramedis turut dilakukan secara rutin, antara lain mengenai teknik pembidaian, penanganan syok hipovolemik, dan berbagai aspek pelayanan kegawatdaruratan pra-rumah sakit.

Kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan kompetensi dalam pelayanan kegawatdaruratan, serta SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran klinis berbasis pengalaman langsung di lapangan. (Kontributor: Agustina Latifah Hanum SPsi).