FK-KMK UGM Kupas Tuntas Peran Komite Mutu dan Keselamatan Pasien dalam Mewujudkan Budaya Mutu Rumah Sakit

FK-KMK UGM. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) menyelenggarakan pelatihan daring bertajuk “Kupas Tuntas Peran Komite Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit: Dari Pengalaman ke Pembelajaran” pada 5 Juni 2026. Kegiatan ini menghadirkan dr. Mahatma Sotya Bawono, M.Sc., Sp.THTBKL sebagai narasumber dan Eva Tirtabayu Hasri, S.Kep., MPH, CQIPS sebagai fasilitator. Pelatihan ditujukan untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dan pengelola rumah sakit dalam memahami peran strategis Komite Mutu dan Keselamatan Pasien guna mendukung peningkatan mutu pelayanan kesehatan serta keselamatan pasien secara berkelanjutan.

Pada sesi pembukaan, Eva Tirtabayu Hasri menegaskan bahwa peningkatan mutu merupakan investasi jangka panjang yang penting bagi rumah sakit. Mengacu pada pandangan Michael Porter dari Universitas Harvard, peningkatan mutu tidak hanya berdampak pada kualitas pelayanan, tetapi juga menjadi strategi efektif dalam mengendalikan biaya layanan kesehatan. Pelayanan yang bermutu, menurutnya, harus memenuhi berbagai aspek penting, mulai dari efektivitas, keselamatan, orientasi pada pasien, ketepatan waktu, keadilan, integrasi layanan, hingga efisiensi penggunaan sumber daya.

Namun demikian, upaya peningkatan mutu di fasilitas kesehatan masih menghadapi berbagai tantangan. Perbedaan tingkat pemahaman dan komitmen tenaga kesehatan, keterbatasan sumber daya, silo data antarunit, serta kompleksitas pelayanan menjadi hambatan yang kerap dijumpai. Selain itu, isu keselamatan pasien juga masih dipengaruhi oleh komunikasi yang belum optimal, budaya menyalahkan ketika terjadi insiden, rendahnya pelaporan kejadian, serta tingginya beban kerja tenaga kesehatan.

Dalam pemaparannya, dr. Mahatma Sotya Bawono menjelaskan bahwa Komite Mutu dan Keselamatan Pasien memiliki fungsi yang jauh lebih luas dibanding sekadar memenuhi persyaratan akreditasi atau regulasi. Komite ini berperan sebagai motor penggerak yang memastikan budaya mutu tumbuh dan diterapkan secara konsisten di seluruh unit pelayanan rumah sakit. Ia menekankan bahwa peningkatan mutu bukanlah tanggung jawab satu kelompok tertentu, melainkan menjadi kewajiban seluruh tenaga kesehatan yang terlibat dalam proses pelayanan.

Pembahasan kemudian berlanjut pada pengelolaan keselamatan pasien dan penanganan insiden keselamatan pasien. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai berbagai jenis insiden, mekanisme pelaporan, proses investigasi sederhana, hingga pelaksanaan root cause analysis (RCA). Narasumber menekankan pentingnya membangun sistem yang mendorong pembelajaran organisasi melalui pendekatan no blaming culture, yaitu budaya yang berfokus pada identifikasi akar masalah dan perbaikan sistem, bukan mencari pihak yang harus disalahkan.

Selain aspek keselamatan pasien, peserta juga diajak memahami pentingnya indikator mutu sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengelolaan rumah sakit. Indikator mutu nasional, indikator prioritas rumah sakit, hingga indikator prioritas unit dijelaskan sebagai instrumen penting untuk memantau kinerja sekaligus menjadi dasar perbaikan layanan. Materi lain yang turut dibahas adalah manajemen risiko, mulai dari proses identifikasi, analisis, evaluasi, hingga penyusunan register risiko untuk mencegah terjadinya kejadian yang tidak diinginkan.

Kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien di fasilitas kesehatan. SDG 4 Pendidikan Berkualitas karena memberikan kesempatan pembelajaran dan peningkatan kompetensi bagi tenaga kesehatan secara berkelanjutan. SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi dengan mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia kesehatan yang profesional dan produktif. (Kontributor: Helen Anggraini Budiono).