Perluas Kesadaran Lingkungan, FK-KMK UGM Latih Tenaga Kependidikan Kelola Sampah Berkelanjutan

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Pengelolaan Sampah pada Rabu (24/6). Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang 1.1 Gedung Pusat FK-KMK UGM dan dihadiri sebanyak 68 peserta yang terdiri dari berbagai unit kerja di lingkungan FK-KMK UGM. Pelatihan Pengelolaan Sampah diawali dengan pemaparan materi manajemen pengelolaan sampah dan praktik pengelolaan sampah.

Prof. Dr. dr. Hera Nirwati, M.Kes., Sp.MK(K), selaku Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan SDM FK-KMK UGM menyampaikan bahwa kegiatan ini diselenggarakan untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan civitas akademika FK-KMK UGM dalam menguatkan manajemen pengelolaan sampah yang terintegrasi.

Prof. Hera menegaskan bahwa FK-KMK UGM memiliki kurang lebih 1.000 staf kependidikan dan pengajar, sekaligus 5.000 mahasiswa yang setiap harinya menghasilkan sampah yang cukup banyak dan perlu untuk dikelola dengan baik. Prof. Hera juga menyampaikan terima kasih kepada para petugas kebersihan yang selalu sigap mengelola sampah, dengan kegiatan ini, diharapkan kesadaran pengelolaan sampah dapat meluas dan tidak hanya bergantung pada petugas kebersihan.

“Terima kasih kepada narasumber yang berkenan mengisi acara pada hari ini. Saya harap civitas akademika FK-KMK UGM dapat belajar banyak dan mampu meningkatkan kesadarannya untuk mengelola sampah dengan bertanggung jawab di lingkungan fakultas,” kata Prof. Hera.

Kemudian, kegiatan berlanjut dengan pemaparan materi dari Arief Mujaab selaku perwakilan dari Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM. Arief mengapresiasi keberhasilan pengelolaan sampah di FK-KMK UGM yang sudah mulai berjalan mandiri. Keberhasilan FK-KMK UGM ini memberikan dampak pada pengurangan sampah campuran yang hendak dikirim PIAT. Arief menegaskan bahwa kebiasaan pengelolaan sampah ini perlu diperluas kembali dengan menyasar unit kerja terkecil di setiap fakultasnya dengan pengenalan alur TPS 3R.

“Strategi pengelolaan sampah, khususnya untuk sampah organik menjadi pupuk di FK-KMK patut untuk diapresiasi. Namun, di sini saya mengenalkan strategi lain seperti pengelolaan berbasis maggot dan eco enzyme yang dapat menjadi opsi lain dan dapat dipraktikan juga di rumah,” kata Arief.

Kegiatan lalu berlanjut dengan praktik langsung pembuatan eco enzyme. Arief memandang praktik ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman bahwa, pengelolaan sampah organik memiliki banyak variasi. Pada praktik eco enzyme Arief menegaskan bahwa, pengelolaan sampah ini memiliki kaya akan manfaat, diantaranya, pengganti bahan pembersih kimia, mengurangi bau tidak sedap, membersihkan air limbah, menjadi pupuk kompos organik, dan mengusir serangga.

“Pembuatan eco enzym cukup mudah dengan menggunakan bahan dasar berupa air, limbah organik, dan campuran larutan gula. Setelah itu cukup didiamkan fermentasi dalam beberapa bulan,” kata Arief.

Kegiatan ini turut mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera dengan menekankan pentingnya pengelolaan sampah yang baik untuk menunjang lingkungan sehat. SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan menekankan pentingnya diseminasi pengetahuan pengelolaan sampah kepada seluruh pihak. SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak dengan menekankan pentingnya pengelolaan limbah yang tepat untuk menghindari pencemaran lingkungan. SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab dengan menguatkan kembali tanggung jawab struktural di ruang lingkup UGM. (Reporter/Tedy).