FK-KMK UGM. Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Program Studi Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah FK-KMK UGM terus mendorong pengembangan riset klinis yang berorientasi pada peningkatan kualitas layanan kesehatan. Salah satu upaya tersebut ditunjukkan melalui penelitian yang dipresentasikan dalam format 3 Minute Thesis oleh peserta didik PPDS, Bintang Kusuma Prabowo, mengenai pemanfaatan parameter ekokardiografi Indeks Kopling Atrioventrikular Kiri (IKAK) sebagai prediktor luaran pasien gagal jantung akut. Penelitian ini dilakukan sebagai bagian dari pengembangan ilmu kardiovaskular yang bertujuan meningkatkan akurasi stratifikasi risiko pasien sejak fase awal perawatan.
Penelitian yang berjudul Parameter Ekokardiografi Indeks Kopling Atrioventrikular Kiri Sebagai Prediktor Luaran Pasien Gagal Jantung tersebut berangkat dari tingginya angka morbiditas dan mortalitas akibat gagal jantung akut. Kondisi ini membutuhkan instrumen penilaian yang tidak hanya akurat, tetapi juga mudah diterapkan dalam praktik klinis sehari-hari untuk membantu tenaga kesehatan menentukan tingkat risiko pasien.
Melalui studi retrospektif yang melibatkan 100 pasien gagal jantung akut, Bintang menemukan bahwa nilai IKAK yang lebih tinggi berkorelasi dengan meningkatnya risiko kematian maupun rawat ulang (rehospitalisasi) dalam kurun waktu enam bulan setelah perawatan. Hasil penelitian menunjukkan titik potong optimal IKAK berada pada nilai ≥0,3365 dengan sensitivitas mencapai 83,9 persen dan spesifisitas sebesar 72,5 persen dalam memprediksi luaran klinis yang buruk.
Indeks Kopling Atrioventrikular Kiri dihitung melalui pemeriksaan ekokardiografi dengan membandingkan volume minimum atrium kiri terhadap volume akhir diastolik ventrikel kiri. Parameter ini mencerminkan gangguan interaksi antara atrium kiri dan ventrikel kiri yang berkaitan erat dengan peningkatan kongesti serta perburukan fungsi jantung. Analisis statistik yang dilakukan menunjukkan bahwa IKAK merupakan prediktor independen terhadap luaran klinis buruk dengan nilai odds ratio sebesar 19,30. Selain itu, kelompok pasien dengan nilai IKAK tinggi memiliki tingkat ketahanan bebas kejadian yang lebih rendah dibandingkan kelompok dengan nilai IKAK rendah.
Penelitian ini dilaksanakan di bawah bimbingan dr. Hasanah Mumpuni, Sp.PD(K), Sp.JP(K) dan dr. Real Kusumanjaya Marsam, M.Kes., Sp.JP(K). Dukungan para pembimbing menjadi faktor penting dalam memastikan kualitas metodologi penelitian sekaligus mendorong pengembangan inovasi yang dapat memberikan manfaat langsung bagi pelayanan kesehatan kardiovaskular.
Kegiatan penelitian ini turut mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pengembangan inovasi diagnostik yang berpotensi meningkatkan kualitas penanganan pasien gagal jantung. SDG 4 Pendidikan Berkualitas karena mendorong penguatan kapasitas akademik dan kompetensi peserta didik spesialis melalui riset berbasis bukti. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan dengan mendukung pengembangan metode penilaian risiko yang lebih mudah diterapkan sehingga berpotensi meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan jantung yang berkualitas di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. (Kontributor: untara).




