FK-KMK UGM. Tiga mahasiswa UGM berprestasi dalam ajang CIMSATHON 2026: National Digital Health Innovation Competition. Kompetisi ini diselenggarakan pada 24 Mei 2026 di Taman Ismail Marzuki, Menteng, Jakarta Pusat. Dalam kompetisi ini, tim UGM berhasil menarik perhatian juri melalui pengembangan aplikasi kesehatan berbasis kecerdasan buatan yang ditujukan untuk mendukung layanan kesehatan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Tim UGM terdiri atas Nailu Nada Zahra dan Bartholomeus Satria Bima Prastanta dari FK-KMK UGM, serta Deira Aisya Refani dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM. Kolaborasi lintas disiplin tersebut menghasilkan sebuah inovasi bernama CUREPATH-AI (Clinical Utility for Recommendation Evaluation – Personalized Adaptive Therapeutic Heuristics using Artificial Intelligence for Marginalized Hospitals).
Aplikasi CUREPATH-AI dikembangkan sebagai respons terhadap berbagai tantangan yang masih dihadapi fasilitas kesehatan di wilayah 3T, khususnya keterbatasan tenaga medis, akses terhadap layanan spesialis, serta ketersediaan sumber daya kesehatan. Dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan, aplikasi ini mampu memberikan rekomendasi terapi yang adaptif dan personal sesuai kondisi pasien serta sumber daya yang tersedia di rumah sakit setempat.
Selain itu, CUREPATH-AI juga mengintegrasikan konsep telemedicine yang memungkinkan tenaga kesehatan di daerah terpencil memperoleh dukungan pengambilan keputusan klinis secara lebih cepat dan tepat. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas layanan kesehatan sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan medis yang berkualitas tanpa harus melakukan rujukan ke fasilitas kesehatan yang jauh.
Keunggulan utama aplikasi ini terletak pada kemampuannya menyesuaikan rekomendasi terapi berdasarkan kondisi klinis pasien dan ketersediaan obat di masing-masing fasilitas kesehatan. Dengan demikian, tenaga medis dapat memperoleh alternatif penanganan yang lebih realistis dan sesuai dengan kondisi lapangan. Inovasi tersebut dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung pemerataan layanan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah dengan keterbatasan akses kesehatan.
Keberhasilan tim UGM tidak terlepas dari pendampingan dua dosen pembimbing, yaitu Annisa Ristya Rahmanti, M.S., Ph.D., peneliti di bidang kesehatan digital, serta dr. Alfin Harjuno Dwiputro, M.Sc., dosen dan peneliti di bidang parasitologi dan kesehatan masyarakat. Dukungan akademik yang diberikan membantu mahasiswa mengembangkan gagasan menjadi solusi yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Pencapaian ini sejalan dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pengembangan teknologi yang membantu meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah terpencil. SDG 4 Pendidikan Berkualitas karena menunjukkan keberhasilan proses pendidikan tinggi dalam menghasilkan lulusan yang inovatif, kreatif, dan mampu menciptakan solusi bagi permasalahan nyata. SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pemanfaatan kecerdasan buatan untuk memperkuat sistem layanan kesehatan. Kolaborasi antara mahasiswa dari berbagai fakultas serta dukungan dosen pembimbing turut mencerminkan implementasi SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai. (Kontributor: Alfin Harjuno Dwiputro).




