FK-KMK UGM Perkuat Program Imunisasi Nasional melalui Studi Zero Dose Children di Gorontalo

FK-KMK UGM. Pusat Kajian Kesehatan Anak Program Riset dan Organisasi (PKKA-PRO) FK-KMK UGM bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaksanakan studi evaluasi prevalensi penurunan jumlah anak zero dose di Kota Gorontalo melalui kunjungan lapangan dan Focus Group Discussion (FGD) pada 4–5 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung di Dinas Kesehatan Kota Gorontalo, Puskesmas Kota Selatan, dan Puskesmas Pilolodaa ini bertujuan memperoleh gambaran komprehensif mengenai capaian program imunisasi, faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan layanan, serta menyusun rekomendasi kebijakan berbasis bukti untuk mendukung target nasional penurunan angka anak zero dose.

Kegiatan penelitian dipimpin oleh Dr. dr. Ida Safitri Laksanawati, Sp.A., Subsp. IPT(K) sebagai Principal Investigator (PI), didampingi Dr. A.W. Erlin Mulyadi, MPA sebagai Co-Principal Investigator (Co-PI), serta Hanifah Wulandari, S.Gz., MPH sebagai peneliti. Pelaksanaan studi melibatkan Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Dinas Kesehatan Kota Gorontalo, tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta tim peneliti dari FK-KMK UGM dan Kementerian Kesehatan.

Studi ini merupakan bagian dari evaluasi nasional terhadap penurunan jumlah anak dengan status zero dose, yaitu anak yang belum menerima dosis pertama vaksin yang mengandung DTP atau DPT1. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods yang mengombinasikan metode kuantitatif dan kualitatif melalui analisis Survei Cepat Komunitas (SCK), pelaksanaan FGD di tingkat dinas kesehatan dan puskesmas, serta kunjungan langsung ke masyarakat. Kota Gorontalo dipilih sebagai salah satu lokasi penelitian untuk memvalidasi data cakupan imunisasi sekaligus mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan imunisasi rutin bagi anak usia 2 hingga 59 bulan.

Dalam pelaksanaannya, FGD menjadi wadah diskusi berbagai pemangku kepentingan yang berperan dalam penyelenggaraan program imunisasi. Berbagai masukan dan pengalaman lapangan dibahas untuk memahami faktor pendukung maupun hambatan yang memengaruhi cakupan imunisasi di wilayah tersebut. Diskusi juga menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, kader, serta masyarakat dalam memastikan setiap anak memperoleh haknya untuk mendapatkan imunisasi dasar lengkap.

Selain FGD, tim peneliti melakukan pendampingan Survei Cepat Komunitas di wilayah kerja Puskesmas Kota Selatan dan Puskesmas Pilolodaa yang mencakup empat desa dengan total 80 responden. Melalui survei ini, tim memperoleh data langsung mengenai kondisi anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap, alasan keterlambatan atau ketidaklengkapan imunisasi, serta berbagai faktor sosial, ekonomi, dan akses layanan kesehatan yang memengaruhi keputusan keluarga dalam memanfaatkan layanan imunisasi.

Data yang diperoleh dari lapangan selanjutnya akan ditriangulasi dengan data administrasi dan kebijakan daerah untuk menghasilkan gambaran yang lebih akurat mengenai tren penurunan angka zero dose children selama periode 2023–2025. Hasil penelitian juga diharapkan mampu mengevaluasi efektivitas berbagai intervensi yang telah dilakukan sekaligus menghasilkan rekomendasi strategis untuk memperkuat program imunisasi nasional. Temuan tersebut menjadi penting dalam mendukung target pemerintah untuk menurunkan jumlah anak zero dose hingga 50 persen pada tahun 2030.

Kegiatan ini mendukung pencapaian SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera diwujudkan melalui upaya peningkatan akses dan cakupan imunisasi. SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui edukasi dan peningkatan literasi kesehatan kepada orang tua, kader, serta masyarakat mengenai pentingnya imunisasi. SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pemanfaatan pendekatan penelitian berbasis bukti, penguatan sistem informasi kesehatan. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara Kementerian Kesehatan, FK-KMK UGM, pemerintah daerah. (Kontributor: Brigitta Beata Pradhaningtyas, Dhimas Sholikhul Huda.).