FK-KMK UGM. Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan (Center of Health Behavior and Promotion/CHBP) FK-KMK UGM berpartisipasi dalam 11th Indonesian Conference on Tobacco or Health (ICTOH) 2026 dengan menjadi bagian dari Simposium 7 yang mengangkat tema “Kolaborasi dalam Pengendalian Tembakau dan Perlindungan Keluarga dari Asap Rokok”. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Tobacco Control Support Center Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC IAKMI), Research Group on Tobacco Control (RGTC) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga tersebut berlangsung pada 21–22 Mei 2026 di Gedung ASEEC Tower Universitas Airlangga, Surabaya
Partisipasi CHBP FK-KMK UGM dalam forum ilmiah nasional tersebut menjadi bagian dari komitmen institusi dalam mendukung pengembangan kebijakan dan praktik pengendalian tembakau berbasis bukti ilmiah. Simposium menghadirkan tiga narasumber dari FK-KMK UGM yang memaparkan pengalaman, hasil penelitian, serta praktik kolaboratif yang telah dilakukan dalam berbagai program pengendalian tembakau di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
Narasumber pertama, Prof. Dra. R.A. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D., selaku peneliti senior CHBP FK-KMK UGM, memaparkan berbagai bentuk kolaborasi internasional yang telah dikembangkan dalam penelitian pengendalian tembakau. Penelitian tersebut mencakup isu etika iklan rokok, pemberdayaan pendukung sebaya bagi remaja usia sekolah, hingga berbagai intervensi yang bertujuan meningkatkan jumlah rumah bebas asap rokok (smoke-free homes). Menurutnya, kerja sama lintas negara dan lintas institusi menjadi faktor penting dalam menghasilkan inovasi serta strategi yang efektif untuk menurunkan konsumsi tembakau dan melindungi kelompok rentan dari dampak paparan asap rokok.
Sementara itu, Ketua CHBP FK-KMK UGM, dr. Bagas Suryo Bintoro, Ph.D., menegaskan bahwa persoalan konsumsi tembakau tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan individual. Ia menjelaskan bahwa pengendalian tembakau memerlukan keterlibatan aktif berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, tenaga kesehatan, hingga masyarakat umum. Dalam paparannya, dr. Bagas menyampaikan bahwa keberhasilan suatu program pengendalian tembakau ditandai dengan adanya rasa kepemilikan program oleh para pemangku kepentingan, advokasi yang didasarkan pada bukti ilmiah, keberlanjutan program dalam jangka panjang, serta partisipasi masyarakat yang kuat.
Perspektif pemberdayaan masyarakat turut dipaparkan oleh Tutik Istiyani, S.Sos., anggota tim Quit Tobacco Indonesia (QTI) CHBP FK-KMK UGM. Dalam presentasinya, ia membagikan berbagai pengalaman pendampingan masyarakat yang telah dilakukan oleh QTI dalam mendukung upaya berhenti merokok dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi elemen penting dalam memastikan keberhasilan berbagai kebijakan dan program pengendalian tembakau di tingkat akar rumput.
Kegiatan ini turut mendukung pencapaian SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya pengendalian tembakau yang bertujuan mengurangi beban penyakit dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. SDG 4 Pendidikan Berkualitas diwujudkan melalui penyelenggaraan forum ilmiah yang mendorong pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas, serta diseminasi hasil penelitian kepada berbagai pemangku kepentingan. Selain itu, SDG 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab tercermin melalui dorongan untuk mengurangi konsumsi produk tembakau yang berdampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan. Kegiatan ini juga mendukung SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi profesi, lembaga nasional, mitra internasional, serta masyarakat dalam mewujudkan pengendalian tembakau yang berkelanjutan. (Kontributor: Isna Nur Qurota A’yun dan Nia Lestari Muqarohmah).




