FK-KMK UGM. Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM bersama tim peneliti memublikasikan artikel ilmiah dengan judul “Radiology Surveillance for Breast Cancer Survivors: A Systematic Review and Meta-Analysis” pada Jurnal Breast Cancer Radiology Surveillance Tahun 2026. Artikel yang diterbitkan pada tahun 2026 tersebut ditulis oleh dr. Ajeng Viska Icanervilia, MPH bersama Prof. Dr. dr. Lina Choridah, Sp.Rad(K), dr. Dhite Bayu Nugroho, M.Sc., Ph.D., dr. Sita Nur Agustyana, dr. Afdina Melya G. Febiyanti, dan dr. Afina Azka L. Kuncoro. Publikasi dengan DOI 10.31557/APJCP.2026.27.2.433 ini menyoroti pentingnya pemantauan berbasis radiologi dalam meningkatkan luaran klinis dan kualitas hidup penyintas kanker payudara melalui deteksi dini kekambuhan penyakit.
Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti FK-KMK UGM tersebut berfokus pada evaluasi efektivitas berbagai metode surveilans radiologi, termasuk mammografi, ultrasonografi (USG), dan magnetic resonance imaging (MRI), dalam mendeteksi lesi rekuren atau kekambuhan kanker payudara pada stadium awal. Kajian ini dilakukan menggunakan pendekatan systematic review dan meta-analysis dengan menghimpun berbagai penelitian internasional yang relevan untuk memperoleh gambaran ilmiah yang lebih komprehensif mengenai manfaat pemantauan radiologi pasca terapi kanker payudara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemantauan rutin berbasis pencitraan memiliki peran signifikan dalam mendeteksi kekambuhan kanker secara lebih dini. Deteksi yang dilakukan pada fase awal memungkinkan pasien mendapatkan intervensi medis lebih cepat sehingga berpotensi meningkatkan angka harapan hidup sekaligus memperbaiki kualitas hidup jangka panjang. Temuan ini menjadi semakin penting mengingat jumlah survivor kanker payudara terus meningkat seiring kemajuan teknologi diagnosis dan terapi kanker di berbagai negara.
Selain mengonfirmasi manfaat surveilans radiologi, penelitian ini juga menekankan pentingnya penerapan protokol pemantauan yang terstruktur dan berbasis bukti. Menurut tim peneliti, keberhasilan program surveilans tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi pencitraan yang tersedia, tetapi juga oleh integrasi sistem kesehatan yang baik, edukasi pasien yang berkelanjutan, serta dukungan kebijakan nasional yang menjamin tindak lanjut jangka panjang bagi para penyintas kanker.
Kajian ini turut mengungkap adanya variasi akses terhadap layanan radiologi di berbagai negara. Ketimpangan ketersediaan mammografi, USG, maupun MRI masih menjadi tantangan yang memengaruhi kualitas pelayanan kesehatan, terutama di negara berkembang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya meningkatkan luaran pasien kanker payudara tidak hanya memerlukan inovasi teknologi, tetapi juga strategi pemerataan akses layanan kesehatan agar manfaat deteksi dini dapat dirasakan oleh seluruh kelompok masyarakat.
Penelitian ini sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya peningkatan deteksi dini kekambuhan kanker, pengurangan angka kematian, serta peningkatan kualitas hidup penyintas kanker payudara. SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pemanfaatan teknologi pencitraan medis sebagai bagian dari inovasi layanan kesehatan modern. SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan karena menyoroti pentingnya pemerataan akses terhadap layanan radiologi yang berkualitas di berbagai wilayah. SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan dalam memperkuat kerja sama riset dan pengembangan layanan kesehatan yang berkelanjutan. (Kontributor: dr. Ajeng Viska Icanervilia, MPH, Prof. Dr. dr. Lina Choridah, Sp.Rad(K), dr. Dhite Bayu Nugroho, M.Sc., Ph.D, dr. Sita Nur Agustyana, dr. Afdina Mel).




