FK-KMK Soroti Fenomena Health Influencer Pada Seminar Raboan Research and Perspective

FK-KMK UGM. Center for Bioethics and Medical Humanities FK-KMK UGM menyelenggarakan kegiatan Seminar Raboan: Research and Perspective Sharing pada (22/4). Kegiatan ini platform   dan Youtube dengan mengusung tema “Public Health Ethics of Health Influencers on Social Media”. Serta, kegiatan ini dihadiri puluhan peserta dari civitas akademika FK-KMK UGM.

Seminar Raboan: Research and Perspective Sharing ini menghadirkan dr. Anindyo Pradipta Suryo, M.H., sebagai pembicara utama. dr. Anidyo merupakan seorang dosen Department of Bioethics and Humanities, Faculty of Medicine, UNIKA Soegijapranata Semarang. Serta, dimoderatori oleh Ika Setyasari, S.Kep.Ns., M.N.Sc selaku peneliti Center for Bioethics and Medical Humanities FK-KMK UGM dan anggota UNESCO Chair on Bioethics.

dr. Anindyo memberikan penjelasan bahwa meningkatnya peran health influencer merupakan bentuk peralihan perilaku kesehatan masyarakat. Hal ini terjadi karena masyarakat di era modern ini dapat membentuk persepsi sendiri berdasarkan aktivitas health influencer di media sosial. dr. Anindyo menyoroti bahwa fenomena ini perlu didukung dengan adanya etika kedokteran yang tepat. Etika ini menjadi bagian penting terkait dengan akuntabilitas informasi kesehatan.

Health influencer menjadi bukti kemajuan teknologi di era sekarang. Namun, perlu digaris bawahi bahwa, keberadaan health influencer harus memiliki akuntabilitas, kejujuran, dan paham dengan informasi kesehatan untuk dapat membentuk ekosistem informasi kesehatan yang tepat,” kata dr. Anindyo.

Kemudian, dr. Anindyo menegaskan bahwa health influencer dapat menciptakan masalah etis. Hal ini  dapat terjadi karena desain platform media sosial bukan menjadi ruang netral, tetapi mesin persuasi berbasis emosi publik. dr. Anindyo menjelaskan bahwa algoritma media sosial cenderung memilih emosi daripada bukti. Realita ini justru menciptakan konten media sosial yang cenderung viral secara emosional, bukan secara ilmiah. Dalam konteks ekosistem informasi kesehatan, realita ini justru rawan menimbulkan permasalahan etis, khususnya pada kredibilitas. Fenomena health influencer cenderung menciptakan informasi publik yang terlihat meyakinan daripada kebenaran secara medis.

Health influencer sejatinya memiliki problem etik yang terletak pada konten kreator. Bagi saya, konten kreator cenderung membangun kedekatan emosional sebagai jalan pintas interaksi media sosial. Hal ini menimbulkan masalah apabila konten kreator tersebut tidak kompeten pada bidangnya,” kata dr. Anindyo.

dr. Anindyo merefleksikan fenomena health influencer yang memiliki pola pergeseran otoritas. Pergeseran ini terjadi karena adanya ketimpangan akuntabilitas influencer yang bisa mempengaruhi ribuan orang tanpa standar etik seperti profesi medis. Hal ini justru menimbulkan konflik profesionalisme vs performa digital. dr. Anindyo menekankan fenomena ini sebagai bagian dari pergeseran paradigma yang semula informasi kesehatan dominan di ruang klinik, tetapi kini beralih ke media sosial.

“Menanggapi fenomena health influencer, di sini tanggung jawab kolektif perlu dibentuk sebagai ekosistem informasi kesehatan digital. Oleh karena itu, tenaga kesehatan perlu mengambil peran untuk menyesuaikan diri,” kata dr. Anindyo.

Kegiatan ini turut mendukung komitmen pada SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera dengan menekankan komitmen pembentukan ekosistem informasi kesehatan digital untuk pelayanan informasi kesehatan yang berakuntabilitas. Serta, SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan menekankan pentingnya peran penyesuaian diri bagi akademisi dan tenaga kesehatan untuk mengambil peran terhadap fenomena health influencer (Reporter/Tedy).