FK-KMK UGM. Center for Tropical Medicine menyelenggarakan kegiatan Tropmed Talk pada Jumat (13/3). Kegiatan ini diselenggarakan secara daring menggunakan platform Zoom dan Live Streaming Youtube. Pada edisi Ramadhan Tropmed Talk dilaksanakan dengan nuansa yang cukup berbeda. Kali ini Tropmed Talk mengusung tajuk “Ngabuburit Bahas Campak: Kasus Campak Naik Menjelang Mudik Haruskan Kita Panik?”, dengan diikuti oleh puluhan peserta.
Kegiatan ini dipandu Dwi Rizki Prananda selaku Peneliti di Center for Tropical Medicine. Tropmed Talk edisi kali ini menghadirkan 3 pembicara diantaranya, Dr. dr. Ida Safitri Laksanawati, Sp.A(K) selaku dokter spesialis anak, konsultan penyakit tropis dan infeksi RSUP Dr. Sardjito; dr. Ari Kurniawati, M.P.H selaku Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Yogyakarta; serta, dr. Risalia Reni Arisanti, M.P.H selaku dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi FK-KMK UGM.
Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi pertama yang disampaikan oleh dr. Ari Kurniawati, M.P.H., menjelaskan bahwa penyakit campak di Yogyakarta beberapa waktu terakhir mengalami peningkatan. Kasus ini tercatat sebanyak 73 temuan yang terkonfirmasi sejak kasus pertama yang muncul pada minggu ke-9 tahun 2016. dr. Ari menegaskan kasus ini memberikan bukti adanya peningkatan sebanyak 5,6 kali lipat dibanding beberapa periode sebelumnya.
“Kasus campak ini banyak ditemukan pada anak 2-9 tahun. Kasus ini terjadi cenderung pada bayi di bawah sembilan bulan yang belum memiliki cukup umur untuk mendapatkan antibodi dari imunisasi”.
Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi dari Dr. dr. Ida Safitri Laksanawati, Sp.A(K) yang memberikan pengantar bahwa, kegiatan Tropmed Talk merupakan unit kegiatan yang menjadi bagian dari respon tanggap FK-KMK UGM untuk memberikan edukasi pada isu kesehatan yang berkembang. dr. Ida menegaskan bahwa campak merupakan penyakit yang dapat menular. Selain itu, dr. Ida menyatakan bahwa, anda-tanda gejala campak terjadi umumnya diawali dengan kondisi demam tinggi disertai dengan batuk, pilek, dan mata memerah. Selain itu, pada kondisi fisik terdapat ruam pada kulit yang menyebar di seluruh badan dengan dimulai muncul di area kepala.
“Saat ini belum ada obat khusus untuk campak, sehingga penanganan kasus ini dibutuhkan secara suportif dengan pencegahan melalui imunisasi. Pencegahan ini penting dilakukan karena satu orang penderita campak dapat menularkan penyakit ini ke 12-18 orang lainnya,” kata dr. Ida.
Setelahnya pemaparan disampaikan oleh dr. Risalia Reni Arisanti, M.P.H yang menyatakan bahwa, naiknya kasus campak ini perlu direspon dengan kesadaran untuk imunisasi. Hal ini perlu dilakukan untuk membentuk kekebalan tubuh dan menghindari penularan penyakit secara luas. dr. Risalia menekankan cakupan vaksinasi yang dibutuhkan minimal berkisar 95% untuk dapat melindungi kelompok rentan. Selain itu, dr. Risalia juga menghimbau bahwa adanya mobilitas masyarakat yang cukup tinggi meningkatkan resiko terjadinya penularan dan temuan kasus campak antar wilayah. dr. Risalia menegaskan menjelang mudik lebaran semua pihak harus meningkatkan kewaspadaan untuk pencegahan.
“Kasus campak ini tidak hanya cenderung beresiko pada 3 kelompok rentan, diantaranya anak-anak yang sistem kekebalan tubuh belum terbentuk, lansia dengan sistem kekebalan tubuh menurun, dan orang yang kekebalan tubuh rendah (sedang sakit),” kata dr. Risalia.
Kegiatan ini sejalan dengan komitmen pada SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Kesejahteraan dengan menekankan edukasi publik agar tidak terjadinya kenaikan massal akibat naiknya kasus campak menjelang mudik lebaran. Serta, SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan menekankan komitmen diseminasi pengetahuan secara luas untuk memberikan mitigasi secara personal dan keluarga (Reporter/Tedy).




