FK-KMK UGM Integrasikan Pendidikan Penelitian dan Pengabdian melalui Terapi Sujok di RSPAU dr. Suhardi Hardjolukito

FK-KMK UGM. Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) FK-KMK UGM menyelenggarakan kegiatan pelayanan terapi Sujok sebagai bagian dari integrasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa keperawatan yang memberikan layanan terapi komplementer kepada pasien sebagai bagian dari pembelajaran klinik berbasis pengalaman langsung. Pelaksanaan kegiatan berlangsung di Rumah Sakit Pusat Angkatan Udara (RSPAU) Dr. S. Hardjolukito Yogyakarta dalam dua sesi, yaitu pada 4 Maret 2026 dan dilanjutkan pada 11 Maret 2026 pada waktu yang sama.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program PLPS Program Magang Terapi Sujok yang bertujuan meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam menerapkan terapi komplementer berbasis stimulasi titik refleksi pada tangan dan kaki. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep terapi Sujok secara teoritis di kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman praktik secara langsung dalam mengidentifikasi keluhan pasien, menentukan titik korespondensi yang tepat, serta melakukan terapi dengan tetap memperhatikan prinsip keselamatan pasien.

Mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini merupakan mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan FK-KMK UGM yang sedang menjalani proses pembelajaran praktik berbasis klinik dan komunitas. Pada pelaksanaan kegiatan tanggal 4 Maret 2026, mahasiswa didampingi oleh Intansari Nurjannah, S.Kp., M.NSc., Ph.D., dosen dari Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas FK-KMK UGM yang memberikan arahan serta supervisi selama pelaksanaan terapi. Sementara itu, pada kegiatan lanjutan tanggal 11 Maret 2026, kegiatan didampingi oleh Purwanta, S.Kp., M.Kes. dari departemen yang sama. Pendampingan dosen ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap prosedur terapi yang dilakukan oleh mahasiswa tetap sesuai dengan standar praktik terapi Sujok serta prinsip keselamatan pasien.

Pada sesi pelayanan pertama yang dilaksanakan pada 4 Maret 2026, tercatat sekitar 22 pasien menerima layanan terapi Sujok dengan berbagai keluhan kesehatan. Keluhan yang paling sering disampaikan antara lain nyeri pada ekstremitas bawah, nyeri bahu atau pundak, nyeri punggung, sakit kepala, kelelahan, serta keluhan emosional. Terapi dilakukan melalui stimulasi titik refleksi pada tangan menggunakan probe pijat, penempelan magnet, serta stimulasi titik korespondensi sesuai prinsip terapi Sujok.

Hasil evaluasi selama kegiatan menunjukkan adanya penurunan rata-rata skala nyeri pasien dari sekitar angka 6 sebelum terapi menjadi sekitar angka 4 setelah menjalani terapi selama kurang lebih 30 menit. Temuan ini menunjukkan bahwa terapi Sujok memiliki potensi sebagai pendekatan nonfarmakologis untuk membantu mengurangi keluhan nyeri yang dialami pasien.

Pada kegiatan lanjutan tanggal 11 Maret 2026, beberapa pasien kembali memperoleh layanan terapi Sujok dengan keluhan seperti nyeri pergelangan tangan, nyeri sendi lutut, nyeri punggung, nyeri dada ringan, serta nyeri yang menjalar dari area mata ke kepala. Metode terapi yang digunakan meliputi pemijatan titik refleksi menggunakan probe, penempelan biji pada titik korespondensi, serta penggunaan magnet pada titik terapi tertentu. Sejumlah pasien melaporkan adanya penurunan intensitas nyeri setelah terapi dilakukan.

Salah satu kasus yang cukup menarik terjadi pada pasien dengan keluhan nyeri lutut kronis yang telah dirasakan cukup lama dan mengganggu aktivitas berjalan. Setelah dilakukan stimulasi titik korespondensi pada tangan serta penempelan magnet pada titik terapi yang relevan, pasien melaporkan penurunan nyeri yang cukup signifikan dalam waktu sekitar 20 hingga 30 menit. Pasien bahkan menyampaikan bahwa lutut terasa lebih ringan ketika digerakkan. Pada kasus lain, pasien dengan keluhan nyeri punggung juga melaporkan bahwa rasa nyeri yang dialami berkurang secara signifikan setelah dilakukan stimulasi titik refleksi serta penempelan biji pada titik terapi tertentu.

Selain memberikan manfaat langsung bagi pasien, kegiatan ini juga menjadi pengalaman pembelajaran yang sangat penting bagi mahasiswa. Melalui interaksi langsung dengan pasien, mahasiswa dapat mengembangkan keterampilan komunikasi terapeutik, meningkatkan kemampuan klinis, serta memahami pendekatan pelayanan kesehatan yang lebih holistik. Mahasiswa juga belajar bahwa peran perawat tidak hanya berfokus pada tindakan medis, tetapi juga mencakup upaya meningkatkan kenyamanan, relaksasi, dan kesejahteraan pasien secara menyeluruh.

Kegiatan ini juga berkontribusi terhadap pencapaian SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya peningkatan kesehatan masyarakat dengan pendekatan terapi komplementer yang mendukung kesejahteraan pasien. SDG 9: Industri Inovasi dan Infrastruktur melalui pengembangan pendekatan terapi inovatif dalam pelayanan kesehatan yang dapat menjadi pelengkap terapi medis. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara institusi pendidikan, tenaga kesehatan, serta fasilitas pelayanan kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang lebih komprehensif. (Kontributor: Prof. Intansari Nurjannah, SKp., MNSc., PhD).