FK-KMK UGM. Pada Pionir Morfogenesis 2026 Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), salah satu rangkaian acara yang diselenggarakan yakni Talkshow Pengembangan Karier Tenaga Kesehatan di Era Digital untuk para mahasiswa baru. Kegiatan dilaksanakan di Lapangan Tahir Foundation FK-KMK UGM, Kamis (6/8/2026). Talkshow menghadirkan tiga pembicara, antara lain dr. Furqon Satria Adi Pradana, Sp.JP sebagai dokter Spesialis Jantung Pembuluh Darah alumnus FK-KMK UGM; Ns. Arcellia Farosyah Putri, M.Sc., Ph.D., AFHEA selaku dosen Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia; dan Ineka Andi Tabita, S.Gz., MPH., RD selaku Founder dan CEO LIVO Nutrition Center.
dr. Furqon yang berpraktik di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro memaparkan bahwa jalur karier tenaga kesehatan saat ini sangat beragam. Selain menjadi klinisi dan dosen, seorang dokter atau perawat bisa merambah menjadi ilmuwan di luar negeri, direktur rumah sakit, pengusaha, content creator, hingga pengacara medis.
Ia juga menyoroti peran penting media sosial untuk membangun personal branding sekaligus menyebarkan edukasi kesehatan preventif. Namun, ia mengingatkan agar tenaga medis tidak membuka layanan konsultasi spesifik secara online, selalu berpegang pada bukti ilmiah (evidence-based), serta menghindari perdebatan dengan warganet yang dapat berujung pada turunnya kredibilitas profesi.
“Tujuan kita di media sosial adalah menyebarkan pengetahuan, bukan untuk berdebat tentang siapa yang benar atau siapa yang salah. Tetap berpegang teguh pada tugas kita sebagai profesional kesehatan. Pasien ataupun masyarakat adalah yang utama,” ujar dr. Furqon.
Sementara itu, Ns. Arcellia menitikberatkan pembahasannya pada Interprofessional Collaboration (IPC) dan pentingnya soft skill. Menurutnya, kerja sama yang baik antara dokter, perawat, ahli gizi, dan profesi kesehatan lainnya di rumah sakit bermula dari relasi yang dibangun sejak masa perkuliahan.
“Soft skill itu didapatkan bukan di akademik atau dengan membaca, tapi dengan berorganisasi. Soft skill sangat membantu untuk komunikasi, kemampuan negosiasi, dan mengelola orang lain saat terjun di dunia nyata,” jelas pengajar yang juga berprofesi sebagai perawat emergensi di RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo tersebut.
Pada sesinya, Ineke sebagai seorang Registered Dietitian justru memberikan perspektif lain. Ia membagikan kisah transisi kariernya dari seorang klinisi menjadi influencer kesehatan, hingga akhirnya sukses menjadi wirausahawan multisektor.
Berangkat dari kebutuhan untuk memperluas peluang, Ineke berani keluar dari zona nyaman dengan membangun bisnis katering diet, klinik gizi, hingga berekspansi ke bidang outsourcing tenaga kesehatan. Bahkan, ia turut mendirikan aplikasi pengolahan sampah “Pastiklola” di Yogyakarta dan platform karier “Gesit” untuk memfasilitasi gaya kerja generasi muda yang dinamis.
“Teman-teman harus mencoba berbagai macam profesi. Banyak kesempatan itu membutuhkan banyak sekali modal, sehingga kita membutuhkan koneksi, bergaul, membuka diri,” pesannya.
Kegiatan Talkshow Pengembangan Karier Tenaga Kesehatan ini selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Keterkaitan ini terlihat dari tujuan acara yang berupaya membekali mahasiswa baru dengan wawasan karier lintas profesi, pengembangan soft skill, dan adaptasi teknologi digital agar mereka memiliki daya saing tinggi di dunia kerja. Melalui edukasi yang komprehensif ini, para calon tenaga medis dipersiapkan tidak hanya menjadi praktisi kesehatan yang kompeten, tetapi juga sumber daya manusia yang inovatif dan mampu menciptakan peluang kewirausahaan. (Penulis: Citra/Humas).



