FK-KMK UGM. Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM menyelenggarakan Seminar ASEAN Dengue Day (ADD) 2026 bertajuk “Menuju Nol Kematian Dengue 2030: Antara Impian atau Kenyataan?” sebagai forum ilmiah untuk memperkuat strategi pengendalian dengue berbasis bukti Kegiatan yang berlangsung pada 29 Juni 2026 ini diselenggarakan secara luring di Auditorium FK-KMK UGM dan daring melalui Zoom serta siaran langsung YouTube. Sebanyak lebih dari 130 peserta mengikuti kegiatan secara langsung, sementara sekitar 450 peserta lainnya berpartisipasi secara daring dari berbagai daerah di Indonesia.
Seminar diawali dengan pemaparan mengenai situasi terkini dengue di Indonesia oleh Ketua Tim Kerja Penyakit Akibat Tular Vektor dan Zoonotik, Gigitan Hewan Berbisa dan Tanaman Beracun Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr. Fadjar S.M. Silalahi. Ia menjelaskan bahwa Indonesia masih menjadi negara dengan beban dengue tertinggi di kawasan Asia Tenggara dan menempati posisi kedua tertinggi di dunia. Pada 2025, Indonesia menyumbang sekitar 17 persen dari total kematian akibat dengue secara global. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa target nol kematian pada 2030 memerlukan pendekatan yang komprehensif, mulai dari deteksi dini, tata laksana klinis, sistem rujukan, pembiayaan kesehatan, surveilans penyakit, hingga inovasi pengendalian vektor.
Dari aspek klinis, Dr. dr. Ida Safitri Laksanawati, Sp.A(K), menekankan bahwa diagnosis dini dan tata laksana yang tepat menjadi kunci utama menurunkan angka kematian karena perjalanan penyakit dengue dapat berkembang dengan cepat. Sementara itu, Dr. Diah Ayu Puspandari, Apt., MBA, M.Kes., menyoroti pentingnya sistem rujukan yang responsif agar pasien mendapatkan penanganan pada waktu yang tepat sebelum mengalami komplikasi berat. Menurutnya, koordinasi yang baik antara layanan primer dan rumah sakit menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan keselamatan pasien.
Aspek pembiayaan juga menjadi perhatian dalam seminar ini. Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH., DrPH., menjelaskan bahwa penguatan layanan kesehatan tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan pembiayaan yang memadai. Pendanaan yang efektif diperlukan agar fasilitas kesehatan mampu menyediakan layanan berkualitas, memperkuat sistem rujukan, serta menjamin keberlangsungan program pengendalian dengue di berbagai daerah.
Selain seminar, rangkaian ASEAN Dengue Day 2026 juga menghadirkan workshop mengenai teknologi Wolbachia sebagai salah satu inovasi pengendalian vektor dengue. Peserta memperoleh penjelasan mengenai prinsip kerja Wolbachia yang mampu menurunkan kemampuan nyamuk Aedes aegypti dalam menularkan virus dengue. Berdasarkan hasil penelitian di Yogyakarta, teknologi tersebut terbukti mampu menurunkan kejadian dengue hingga 77,1 persen dan mengurangi kasus rawat inap akibat dengue sebesar 86,2 persen.
PKT UGM juga membagikan pengalaman implementasi Wolbachia di lima kota, yakni Jakarta Barat, Bandung, Semarang, Bontang, dan Kupang. Bersama Kementerian Kesehatan RI, pemerintah daerah, dinas kesehatan, puskesmas, kader kesehatan, serta masyarakat, PKT UGM berperan sebagai mitra teknis dalam mendukung pelaksanaan program tersebut. Berbagai tantangan pada tahap awal, seperti keraguan masyarakat terhadap keamanan teknologi Wolbachia, diatasi melalui komunikasi yang intensif, dialog bersama tokoh masyarakat, serta pelibatan warga dalam setiap tahapan program.
Melalui seminar dan workshop ini, FK-KMK UGM menegaskan bahwa upaya menuju nol kematian akibat dengue tidak dapat dilakukan melalui satu intervensi saja. Penguatan layanan klinis, sistem rujukan yang efektif, dukungan pembiayaan kesehatan, serta inovasi berbasis bukti seperti Wolbachia perlu berjalan secara terpadu dengan partisipasi aktif masyarakat. Sinergi antara pemerintah, institusi pendidikan, tenaga kesehatan, dan komunitas menjadi fondasi penting untuk membangun sistem pengendalian dengue yang berkelanjutan.
Kegiatan ini mendukung pencapaian SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan upaya pencegahan dan penanganan dengue berbasis bukti. SDG 4 Pendidikan Berkualitas diwujudkan melalui diseminasi ilmu pengetahuan dan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan. SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur didukung melalui pengembangan serta implementasi inovasi Wolbachia dalam pengendalian dengue. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan diwujudkan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam membangun sistem pengendalian dengue yang berkelanjutan. (Kontributor: Muhammad ali mahrus)




