FK-KMK UGM. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) menyelenggarakan Webinar Bagian 3d dengan tema “Memahami Kemampuan Meningkatkan Dana Filantropi untuk Tenaga Medis dan Kesehatan serta Manajer Operasional Pelayanan Kesehatan untuk Mendukung Transformasi Kesehatan”. Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa, 21 Juli 2026, tersebut membahas peluang penguatan dana filantropi sebagai salah satu alternatif pembiayaan untuk membantu tenaga medis dan kesehatan serta manajer operasional pelayanan kesehatan menghadapi berbagai tantangan pendanaan dan mendukung keberlanjutan layanan kesehatan.
Dalam webinar tersebut, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc., PhD., menjelaskan bahwa keterbatasan pendanaan kesehatan di Indonesia menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian. Menurutnya, pendanaan kesehatan yang stagnan pada kisaran 3% dari GDP, ditambah dengan rasio pajak negara yang sekitar 10%, turut memengaruhi kondisi arus kas atau cash flow rumah sakit. Situasi tersebut menjadi semakin kompleks ketika rumah sakit harus menghadapi kebutuhan operasional yang terus berjalan, sementara sumber pendanaan dari asuransi swasta maupun anggaran pemerintah memiliki mekanisme dan waktu pencairan masing-masing.
Pembahasan kemudian diarahkan pada pentingnya perubahan pendekatan dalam mengelola potensi filantropi. Para manajer rumah sakit dan tenaga medis tidak hanya perlu melihat donasi sebagai bantuan yang datang secara spontan, tetapi juga memahami bagaimana potensi donor dapat dipetakan dan dikelola secara lebih strategis. Pendekatan pemasaran atau marketing dapat digunakan untuk mengenali karakteristik dan kemampuan masing-masing kelompok donor sehingga bentuk komunikasi dan kebutuhan yang ditawarkan dapat disesuaikan.
Webinar juga membahas perlunya pergeseran dari filantropi tradisional yang cenderung reaktif menuju pengelolaan ZISWAF produktif secara lebih profesional. Selain itu, skema pembiayaan campuran atau blended finance dapat menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan untuk mempertemukan berbagai sumber pendanaan. Kombinasi tersebut diharapkan dapat membantu menciptakan dukungan pembiayaan yang lebih berkelanjutan bagi pelayanan kesehatan.
Pada sesi diskusi, peserta mengangkat persoalan yang dihadapi rumah sakit swasta dalam menjaga keberlangsungan operasional. Tingginya biaya tetap atau fixed cost, termasuk kebutuhan pembayaran gaji staf, membuat rumah sakit membutuhkan arus pendanaan yang dapat mendukung kebutuhan operasional secara berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, filantropi dinilai memiliki keunggulan dari sisi fleksibilitas karena keputusan pemberian bantuan dapat dilakukan tanpa melalui mekanisme birokrasi anggaran pemerintah yang panjang.
Berbagai inovasi penggalangan dana juga menjadi bagian dari pembahasan. Pemanfaatan kotak amal khusus untuk kebutuhan kesehatan di lingkungan masjid menjadi salah satu contoh pendekatan yang dapat menjangkau masyarakat secara langsung. Di sisi lain, perkembangan teknologi digital membuka peluang pemanfaatan digital crowdfunding berbasis komunitas untuk memperluas partisipasi masyarakat. Dengan mekanisme tersebut, kontribusi masyarakat dapat dihimpun secara lebih mudah dan dilakukan secara rutin sesuai kebutuhan yang disampaikan.
Pengalaman dari Mataram, Lombok, turut memberikan gambaran mengenai bentuk dukungan filantropi yang dapat dikembangkan dalam pelayanan kesehatan. Kemitraan dengan donatur telah dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan nonmedis yang mendesak, seperti biaya transportasi pasien dari luar pulau. Dukungan juga diberikan untuk pembiayaan darurat bayi terlantar melalui program perbankan daerah hingga pembangunan ruang rawat inap yang didukung sepenuhnya oleh perusahaan atau donatur perseorangan.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa dukungan filantropi tidak selalu harus diarahkan pada pembiayaan layanan medis secara langsung. Kebutuhan pendukung yang sering kali menjadi hambatan pasien dalam memperoleh layanan kesehatan juga dapat menjadi bagian dari sasaran penggalangan dana. Dengan pemetaan kebutuhan yang jelas, rumah sakit dapat menawarkan bentuk dukungan yang lebih konkret kepada calon donatur.
Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui dukungan terhadap keberlanjutan pembiayaan pelayanan kesehatan. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan melalui upaya memperluas dukungan pembiayaan bagi masyarakat yang menghadapi hambatan memperoleh layanan kesehatan. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui penguatan kolaborasi antara fasilitas kesehatan, donatur, masyarakat, dan berbagai pihak pendukung pembiayaan kesehatan. (Kontributor: Latifah Alifiana).



