Dukung Optimalisasi Tumbuh Kembang, Workshop FK-KMK UGM Bahas Penanganan Klinis Anak dengan Gangguan Bicara

FK-KMK UGM. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Workshop “Tata Laksana Berbasis Kasus pada Anak dengan Gangguan Bicara dan Bahasa”. Kegiatan ini diselenggarakan pada Kamis (15/10/2026) di Auditorium Tahir Foundation Sayap Utara, lantai 1 FK-KMK UGM. Workshop ini menghadirkan Speech Pathologist sekaligus Consultant to Speech Pathology di Cerebral Palsy Alliance, Dr. Johanna Korkalainen, PhD. untuk membahas tata laksana berbasis kasus pada anak dengan gangguan bicara dan bahasa berdasarkan kasus klinis.

Ketua Panitia kegiatan, Prof. dr. Mei Neni Sitaresmi, Ph.D, Sp.A (K), mengatakan bahwa komunikasi merupakan pondasi kehidupan yang ternyata perlu dipelajari anak secara berkelanjutan. Sementara itu, gangguan bicara dan bahasa pada anak merupakan salah satu permasalahan perkembangan yang membutuhkan identifikasi dan tata laksana secara komprehensif. Penanganan anak dengan gangguan bicara dan bahasa memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan tenaga kesehatan dan terapis wicara, dengan mempertimbangkan kondisi klinis, kebutuhan komunikasi, serta karakteristik masing-masing anak.

Dalam sesinya, Dr. Johanna turut menjelaskan, bahasa merupakan sistem kompleks yang saling terhubung, mencakup pemahaman, ekspresi, kosakata, tata bahasa, keterampilan naratif, hingga komunikasi sosial. Kemampuan berbicara melibatkan 134 otot yang melakukan hingga 2.000 penyesuaian per menit, yang menghasilkan 10-15 suara bicara per detik. Proses ini membutuhkan pemrosesan paralel untuk mengkonseptualisasikan pikiran, merumuskan kata-kata, maupun mengartikulasikan ucapan.

Oleh karena itu, anak-anak membutuhkan waktu sekitar 8 tahun sejak lahir untuk berlatih dan menguasai kemampuan berbicara. Konsep neuroplastisitas memainkan peran penting, terutama prinsip “Use It or Lose It”, yaitu latihan yang intensif dalam berbicara kosakata tertentu dan melakukan pengulangan dapat memperkuat jalur saraf, sementara ketidakaktifan menyebabkan penurunan fungsi.

Lalu, apa yang harus dilakukan jika orang tua merasa anaknya mengalami kendala komunikasi? Dr. Johanna menerangkan, langkah pertama yang wajib dilakukan adalah asesmen atau penilaian menyeluruh oleh ahli. Penilaian ini sangat penting untuk mengetahui letak masalah sebenarnya, seberapa berat kondisinya, dan bagaimana dampaknya pada keseharian anak.

“Dari situ, terapis bisa melihat apa saja hambatan di lingkungan anak, serta kemampuan apa yang harus diprioritaskan agar anak bisa langsung merasakan manfaat fungsionalnya dalam kehidupan sehari-hari,” terangnya.

Setelah akar masalahnya jelas, barulah proses terapi disusun dengan alur yang sistematis, mulai dari penentuan target awal, pelaksanaan, hingga evaluasi hasil. Terapi yang berkualitas harus dirancang khusus sesuai kebutuhan anak dan dilandasi oleh praktik berbasis bukti ilmiah (Evidence-Based Practice) yang menggabungkan riset, keahlian praktisi, serta kondisi anak.

Selain itu, kunci keberhasilan terapi bukan hanya ada pada terapis, melainkan pada pelibatan aktif orang tua atau pengasuh. “Anak butuh frekuensi latihan yang cukup dan berulang agar jaringan di otaknya benar-benar terbentuk dengan baik, dan hal ini paling efektif jika diterapkan langsung dalam berbagai aktivitas harian di rumah,” kata Dr. Johanna.

Kegiatan workshop yang diselenggarakan oleh Departemen Ilmu Kesehatan Anak ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera dan SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Hal ini dikarenakan pemberian intervensi terapi dan medis multidisiplin sejak dini bertujuan untuk mengoptimalkan kesehatan perkembangan saraf anak, sekaligus membangun pondasi komunikasi yang menjadi syarat paling mendasar bagi mereka untuk bisa menyerap pembelajaran dan mengakses pendidikan dengan baik di masa depan. (Penulis: Citra/Humas).