FK-KMK UGM. Museum Bio-Paleoantropologi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) turut berpartisipasi dalam Pameran Bersama Abhirama Ranggawarsito 2026 yang diselenggarakan di Museum Ronggowarsito, Semarang. Mengangkat tema “Pangan dalam Jejak Budaya dari Warisan Leluhur menuju Pangan Masa Depan”, kegiatan yang berlangsung pada 8 Mei 2026 tersebut menghadirkan kolaborasi puluhan museum dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengulas perjalanan panjang manusia dalam mengelola sumber daya alam dan mengembangkan teknologi pangan dari masa ke masa.
Pameran ini menjadi ruang edukasi publik yang mempertemukan berbagai perspektif ilmu pengetahuan, sejarah, budaya, lingkungan, dan teknologi dalam satu narasi besar mengenai perkembangan peradaban manusia. Sebanyak 23 museum dari berbagai wilayah Indonesia ambil bagian dalam kegiatan tersebut, menunjukkan semakin kuatnya kolaborasi antarlembaga museum dalam mendukung pembelajaran masyarakat berbasis warisan budaya dan ilmu pengetahuan.
Forum Komunikasi Museum Sleman bersama Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Sleman turut berkontribusi melalui tema “Sleman Mengolah Alam, Menyulam Makna: Pangan dalam Ekspresi Budaya Sleman”. Berbagai museum yang tergabung menampilkan koleksi unggulan yang merepresentasikan hubungan manusia dengan lingkungan, termasuk Museum Bio-Paleoantropologi FK-KMK UGM yang menghadirkan sudut pandang prasejarah dalam memahami sejarah pangan dan perkembangan teknologi manusia.
Dalam pameran tersebut, Museum Bio-Paleoantropologi FK-KMK UGM menampilkan tiga artefak penting, yaitu Beliung Persegi Purbalingga A, Beliung Persegi Purbalingga B, dan Calon Beliung Persegi Pacitan. Ketiga koleksi tersebut menjadi bukti perkembangan teknologi alat batu yang berperan penting dalam perubahan pola hidup manusia dari pengumpul makanan menjadi masyarakat yang mulai mengelola lingkungan secara lebih sistematis, termasuk dalam praktik pertanian awal.
Beliung persegi dikenal sebagai salah satu inovasi teknologi yang memiliki peran besar pada masa prasejarah. Artefak ini dibuat dari batu keras seperti rijang, kalsedon, maupun jasper melalui proses pengerjaan yang rumit, mulai dari pemangkasan, pengikisan, hingga penghalusan secara presisi. Kemampuan tersebut menunjukkan bahwa manusia pada masa lalu telah memiliki keterampilan teknologis yang maju serta pemahaman mendalam terhadap karakteristik material yang digunakan.
Selain dimanfaatkan untuk aktivitas pertanian, beliung persegi juga berfungsi sebagai alat pengerjaan kayu, alat serut, bahkan memiliki nilai simbolik dalam kehidupan sosial masyarakat prasejarah. Keberadaan artefak tersebut menjadi sumber informasi penting bagi para peneliti untuk memahami dinamika kehidupan manusia pada masa lampau.
Koleksi Beliung Persegi Purbalingga A yang diperkirakan berusia sekitar 2.000 tahun memperlihatkan bentuk yang relatif utuh dengan sisi tajam yang masih jelas terlihat. Artefak ini memberikan gambaran mengenai tingginya kemampuan pengasahan alat batu pada masa transisi Neolitik menuju awal periode Hindu-Buddha di Jawa. Sementara itu, Beliung Persegi Purbalingga B yang ditemukan dalam kondisi fragmentaris tetap memiliki nilai ilmiah tinggi karena membantu para peneliti memahami variasi produksi dan penggunaan alat batu dalam kehidupan sehari-hari.
Menariknya, Calon Beliung Persegi Pacitan menghadirkan perspektif berbeda karena belum mencapai tahap akhir produksi. Permukaannya yang masih kasar memperlihatkan proses manufaktur alat batu yang jarang ditemukan dalam kondisi serupa. Koleksi ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memahami tahapan teknologi yang dilakukan manusia purba sebelum menghasilkan alat yang siap digunakan.
Pameran Abhirama Ranggawarsito 2026 juga mengajak pengunjung untuk memahami bahwa kemajuan teknologi dan peradaban manusia merupakan hasil dari proses panjang adaptasi, kreativitas, dan inovasi yang berlangsung lintas generasi. Artefak sederhana yang digunakan ribuan tahun lalu menjadi bukti bahwa kemampuan manusia dalam memecahkan masalah telah berkembang sejak masa prasejarah dan terus menjadi fondasi bagi perkembangan teknologi hingga saat ini.
Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera tercermin melalui upaya peningkatan literasi masyarakat mengenai sejarah adaptasi manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup yang berkelanjutan. SDG 4: Pendidikan Berkualitas diwujudkan melalui penyediaan ruang pembelajaran publik berbasis koleksi ilmiah dan budaya. SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur tercermin dari pengenalan perkembangan teknologi manusia sejak masa prasejarah sebagai fondasi inovasi masa kini. Selain itu, SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan tercermin melalui kolaborasi 23 museum dan berbagai institusi dalam menghadirkan pameran yang memperkaya wawasan publik serta memperkuat jejaring kerja sama di bidang pendidikan, budaya, dan ilmu pengetahuan. (Kontributor: Ilham Novitasari).




