FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada meluluskan mahasiswa Program Studi Doktor, Dr. Ahmad Hidayat, S.K.M., M.P.H., dengan predikat Cumlaude sebagai Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan. Dalam ujian terbuka di Auditorium Lantai 8 Gedung Pascasarjana Tahir Foundation FK-KMK UGM pada Senin, (31/8). Ahmad Hidayat memaparkan hasil penelitiannya yang berjudul “Pengembangan Gamifikasi Olahraga untuk Peningkatan Kebugaran Kardiorespirasi dan Intensi Berhenti Merokok”.
Penelitian ini mengembangkan dan menguji aplikasi gamifikasi olahraga sebagai pendekatan untuk mendukung intensi berhenti merokok pada perokok aktif. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah program olahraga berbasis aplikasi dapat menjadi sarana yang membantu perokok meningkatkan aktivitas fisik, kebugaran kardiorespirasi, sekaligus mendorong keinginan untuk berhenti merokok. Intervensi dikembangkan berdasarkan kebutuhan pengguna dan diterapkan melalui program lari berbasis aplikasi selama 12 minggu.
Keinginan untuk berhenti merokok tidak selalu mudah diwujudkan. Bagi perokok aktif, keputusan untuk mengurangi atau menghentikan kebiasaan merokok dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor perilaku dan kebiasaan sehari-hari. Pada saat yang sama, merokok dapat berdampak terhadap kebugaran kardiorespirasi dan meningkatkan risiko penyakit tidak menular. Aktivitas fisik menjadi salah satu pendekatan yang dapat membantu meningkatkan kebugaran. Namun, menjaga motivasi agar olahraga dilakukan secara konsisten juga menjadi tantangan tersendiri.
“Kami memandang, perokok membutuhkan suatu inovasi intervensi agar dapat menurunkan perilaku perokoknya. Dari sini, kami menemukan pendekatan yang menarik bagi perokok berupa intervensi olahraga,” terang Ahmad Hidayat.
Penelitian ini kemudian memanfaatkan gamifikasi melalui aplikasi ponsel untuk membuat aktivitas olahraga lebih menarik dan mendorong keterlibatan pengguna. Pendekatan tersebut dikembangkan dengan terlebih dahulu menggali kebutuhan dan pengalaman pengguna. Penelitian menggunakan desain sequential mixed-method yang terdiri atas studi kualitatif dan uji intervensi.
Pada tahap awal, peneliti melakukan wawancara mendalam terhadap tujuh informan dan diskusi kelompok terarah dengan sembilan informan. Analisis terhadap data kualitatif menghasilkan 903 segmen kode yang digunakan sebagai dasar dalam pengembangan intervensi. Hasil tersebut menjadi pijakan untuk merancang program olahraga berbasis aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.
“Ternyata, tingkat kesiapan untuk berhenti merokok juga sangat beragam. Karakteristik informan pada tahap satu ini menunjukkan bahwa ada yang dapat dikategorikan sebagai perokok berat dan ada pula yang merupakan perokok reguler dengan konsumsi di bawah lima batang per hari. Jadi, keberagaman karakteristik perokok, literasi digital, dan kesiapan untuk berhenti merokok ini ternyata berimplikasi pada kebutuhan dan preferensi yang beragam.”
Tahap berikutnya menggunakan desain quasi-experiment dengan pendekatan one-group pretest-posttest. Sebanyak 52 perokok aktif mengikuti program lari berbasis aplikasi selama 12 minggu. Peneliti mengukur perubahan kebugaran kardiorespirasi melalui VO₂max menggunakan Cooper test, intensi berhenti merokok menggunakan Intention to Quit Smoking Scale, serta aktivitas fisik menggunakan Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa program berhasil meningkatkan aktivitas fisik dan kebugaran kardiorespirasi peserta. Rerata VO₂max meningkat dari 28 menjadi 30 ml/kg/menit dengan perubahan yang signifikan secara statistik (p<0,001). Aktivitas fisik juga meningkat dari 2.075 menjadi 2.422 MET-menit/minggu (p<0,001). Temuan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan gamifikasi melalui aplikasi dapat membantu perokok aktif menjadi lebih aktif secara fisik sekaligus meningkatkan kebugaran kardiorespirasi.
Namun, peningkatan aktivitas fisik tersebut belum diikuti peningkatan intensi berhenti merokok secara signifikan. Rerata skor intensi berhenti merokok berubah dari 28 menjadi 27, tetapi perubahan tersebut belum bermakna secara statistik (p=0,077). Artinya, program olahraga berbasis aplikasi yang diberikan dalam penelitian ini belum dapat menunjukkan efektivitas langsung dalam meningkatkan keinginan peserta untuk berhenti merokok.
Analisis lebih lanjut menunjukkan hubungan yang menarik antara aktivitas fisik dan intensi berhenti merokok. Intervensi terbukti berkaitan dengan peningkatan aktivitas fisik, tetapi aktivitas fisik justru memediasi perubahan intensi berhenti merokok ke arah negatif. Sementara itu, perubahan VO₂max tidak menunjukkan efek mediasi yang signifikan terhadap intensi berhenti merokok. Temuan tersebut mengindikasikan kemungkinan adanya mekanisme kompensasi perilaku pada sebagian peserta, sehingga peningkatan aktivitas fisik belum tentu secara otomatis mendorong keinginan untuk berhenti merokok.
Penelitian ini mendukung SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya mendorong aktivitas fisik dan perubahan perilaku yang berkaitan dengan pencegahan penyakit tidak menular. Pemanfaatan aplikasi gamifikasi juga mendukung SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan inovasi digital untuk intervensi kesehatan. Upaya memahami faktor yang dapat membantu perokok berhenti merokok juga berkontribusi pada penguatan strategi promotif dan preventif untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. (Humas/Sitam).


