FK-KMK UGM Berbagi Pengalaman Pengelolaan IUP Kedokteran kepada Universitas Wahid Hasyim

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan studi banding dari Universitas Wahid Hasyim Semarang untuk membahas pengelolaan program kelas internasional Kedokteran, khususnya terkait tata kelola, kurikulum, regulasi, dan kapasitas penyelenggaraan program. Pertemuan tersebut berlangsung pada Senin, 21 September 2026, di Ruang Rapat 1.1 Kantor Pusat FK-KMK UGM.

Pertemuan tersebut dihadiri Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D., Prof. dr. Eggi Arguni, M.Sc., Ph.D., Sp.A(K)., dr. Dwi Aris Agung Nugrahaningsih, M.Sc., Ph.D dari Program Studi S1 Kedokteran, serta delegasi dari Universitas Wahid Hasyim yang dipimpin Rektor Universitas Wahid Hasyim Semarang, Prof. Dr. H. Helmy Purwanto, S.T., M.T., IPM.

Dalam diskusi, dr. Ahmad Hamim Sadewa menjelaskan bahwa program kelas internasional di FK-KMK UGM dikenal sebagai International Undergraduate Program (IUP). Menurut dr. Hamim, pengembangan pendidikan kedokteran dalam konteks internasional perlu terus diperhatikan oleh setiap institusi pendidikan kedokteran. Perubahan kebutuhan mahasiswa, perkembangan pendidikan, serta dinamika pendidikan kedokteran internasional menjadi bagian yang perlu dipertimbangkan dalam pengelolaan program.

“IUP di FK-KMK UGM sudah mulai di awal tahun 2000, hingga saat ini berbagai konsep tentu berubah. Juga dengan mahasiswanya. Kalau di awal-awal tahun 2000-an itu banyak dari mahasiswa Malaysia, terus di akhir-akhir ini lebih banyak dari dalam negeri yang mengambil IUP karena kebutuhan dokter di Indonesia, ditambah beberapa mahasiswa asing dari negara lain,” jelas dr. Hamim.

Perubahan karakteristik mahasiswa tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan program internasional juga perlu menyesuaikan dengan perkembangan kebutuhan pendidikan kedokteran. Pengalaman FK-KMK UGM dalam mengelola IUP menjadi salah satu bahan pembelajaran yang dibahas bersama dalam kunjungan tersebut.

Sementara itu, Prof. Dr. H. Helmy Purwanto, S.T., M.T., IPM., menyampaikan bahwa Fakultas Kedokteran Universitas Wahid Hasyim baru memasuki sekitar satu dekade sejak dibuka dan saat ini telah memperoleh akreditasi Baik Sekali. Kunjungan ke FK-KMK UGM dilakukan sebagai bagian dari upaya memperoleh gambaran dan pembelajaran dalam mempersiapkan percepatan pembukaan program internasional pada pendidikan kedokteran di Universitas Wahid Hasyim.

“Ada beberapa mahasiswa dari luar negeri seperti dari Malaysia maupun negara-negara di Afrika yang berminat dan tanya terkait program internasional di kedokteran. Karena tentu ada regulasi yang harus kami pelajari,” ungkap Prof. Helmy.

Regulasi menjadi salah satu topik penting dalam diskusi. Dr. Hamim menjelaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan kedokteran dalam konteks internasional memiliki tantangan tersendiri karena setiap negara dapat memiliki ketentuan yang berbeda. Perbedaan regulasi tersebut perlu dicermati agar penyelenggaraan program tetap sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Selain regulasi, kurikulum juga perlu dipersiapkan agar dapat memenuhi standar pendidikan yang relevan dengan konteks internasional.

Dalam kunjungan tersebut, delegasi Fakultas Kedokteran Universitas Wahid Hasyim juga mendapatkan pemaparan dari Program Studi Kedokteran FK-KMK UGM mengenai tata kelola serta kurikulum perkuliahan pada program IUP. Pemaparan tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana program internasional dikelola dan disesuaikan dengan kapasitas institusi.

Prof. dr. Eggi Arguni, M.Sc., Ph.D., Sp.A(K)., turut menjelaskan karakteristik penyelenggaraan program internasional di FK-KMK UGM, termasuk mengenai kapasitas penerimaan mahasiswa. Menurutnya, program internasional memiliki karakteristik tersendiri yang perlu dikelola dengan mempertimbangkan sumber daya manusia serta kapasitas sarana dan prasarana yang tersedia.

“Program internasional itu punya karakteristik tersendiri, jadi di FK-KMK UGM itu kita bilang kelas internasional. Kuota setiap tahun 80 mahasiswa baru, kuota ini dipengaruhi oleh SDM dan kapasitas kami di bidang sarpras. Kita tetap menetapkan kuota 80 orang ini karena jumlahnya cukup efektif untuk kita kelola,” jelas Prof. Eggi.

Kegiatan ini selaras dengan SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui penguatan tata kelola dan pengembangan pendidikan kedokteran berorientasi internasional. Kegiatan ini mendukung SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui pertukaran pengalaman dan penguatan hubungan antarinstitusi pendidikan. (Humas/Sitam).