FK-KMK UGM. Bayangkan setiap langkah menaiki tangga atau sekadar berdiri dari posisi duduk terasa seperti perjuangan yang menyakitkan. Itulah keseharian yang dihadapi jutaan penderita osteoarthritis (OA) lutut, kondisi degeneratif sendi yang prevalensinya terus meningkat seiring bertambahnya populasi lanjut usia. Persoalan inilah yang menjadi latar penelitian disertasi dr. Muhammad Yusuf Hisam, Sp.An-Ti., FIP, berjudul “Efektivitas Manajemen Intervensi Nyeri Prolotherapy Dikombinasikan dengan Aktivitas Fisik Personal Berdampak pada Penurunan Skor Nyeri, Biomarker IL-1β, MMP-3, dan Kualitas Hidup Pasien Osteoarthritis Lutut” yang dipertahankannya dalam Ujian Terbuka Program Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) pada Rabu, 9 September 2026 di Auditorium lantai 8 Gedung Pascasarjana Tahir Foundation FK-KMK UGM.
Prolotherapy, singkatan dari “proliferation therapy”, merupakan tatalaksana berbasis injeksi untuk menangani nyeri kronik muskuloskeletal sekaligus dikenal sebagai teknik injeksi regeneratif. Prinsip kerjanya memanfaatkan tiga fase penyembuhan alami tubuh, yakni fase inflamasi, fase proliferasi pembentukan jaringan granulasi, dan fase remodeling. Ketika larutan dextrose hiperosmolar disuntikkan ke area sendi yang rusak seperti pada OA lutut, cairan tersebut memicu iritasi ringan yang merangsang respons inflamasi lokal, sehingga mendorong pelepasan faktor pertumbuhan, migrasi dan proliferasi sel, sintesis kolagen, hingga regenerasi jaringan sendi.
Berangkat dari potensi tersebut, dr. Yusuf menyoroti bahwa prolotherapy telah terbukti efektif menurunkan nyeri dan memperbaiki fungsi sendi, sementara aktivitas fisik personal turut berkontribusi pada perbaikan klinis meski efektivitasnya dinilai lebih rendah dibanding terapi intervensi lain. Dari titik temu inilah muncul hipotesis bahwa mengkombinasikan prolotherapy dengan aktivitas fisik personal akan menghasilkan luaran yang lebih optimal, terutama dalam menekan kadar biomarker inflamasi IL-1β dan MMP-3 yang berkaitan erat dengan progresivitas OA lutut.
Kebaruan disertasi ini terletak pada pendekatannya yang lebih komprehensif dibanding penelitian-penelitian sebelumnya. Jika studi terdahulu umumnya membandingkan prolotherapy dengan terapi injeksi lain seperti triamcinolone, atau menguji prolotherapy, PRP, dan exercise sebagai tiga kelompok terpisah, dr. Yusuf justru mengukur dampak kombinasi prolotherapy dan aktivitas fisik personal terhadap prolotherapy tunggal secara simultan pada tiga aspek sekaligus, yaitu keparahan klinis OA, kadar biomarker IL-1β dan MMP-3, serta kualitas hidup partisipan.
Untuk membuktikan hipotesis tersebut, penelitian dirancang menggunakan randomized controlled trial dengan desain pretest-posttest nonequivalent control group terhadap 74 partisipan pasien OA lutut rawat jalan di RSUD Madiun, RSIY PDHI, dan RS Ludira Husada Tama. Hasilnya, kelompok yang menerima kombinasi prolotherapy dan aktivitas fisik personal terbukti unggul signifikan dibanding kelompok prolotherapy tunggal, khususnya pada penurunan kadar MMP-3 serta perbaikan skor WOMAC total, nyeri, fungsi, kekakuan sendi, dan kualitas hidup berbasis utility. Meski demikian, perbedaan bermakna belum terlihat pada kadar biomarker IL-1β maupun penilaian kualitas hidup dengan variabel VAS, sehingga menjadi catatan bagi pengembangan riset lanjutan.
Sebagai tahap akhir sekaligus puncak studi doktoral, forum ini menjadi ruang bagi promovendus mempertahankan hasil risetnya di hadapan tim penguji, civitas akademika, dan masyarakat umum. Temuan dr. Yusuf pun sejalan dengan capaian SDG3, Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui kontribusinya menghadirkan alternatif manajemen nyeri berbasis bukti bagi penderita OA lutut, khususnya kelompok usia produktif dan lanjut yang rentan mengalami keterbatasan gerak. (Reporter: Balanca Qolta).


