FK-KMK UGM. Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM bersama tim peneliti memublikasikan artikel ilmiah dengan judul “Serum Vitamin D and its Association with Acute Ischemic Stroke Severity: A Systematic Review” pada jurnal International Journal of Neurosciences in Rural Practice yang terbit pada Mei 2026. Artikel yang ditulis oleh Rafi Zaki Arrizqi, Anisa Maria Ulfa, Puguh Oktavian, dan dr. Mawaddah Ar Rochmah, Ph.D., Sp.N. ini mengulas hubungan kadar vitamin D dengan tingkat keparahan stroke iskemik akut, luaran fungsional pasien, serta luas infark otak melalui pendekatan systematic review dan meta-analysis.
Publikasi ini menjadi salah satu kontribusi Departemen Neurologi FK-KMK UGM dalam memperkuat pengembangan ilmu neurologi berbasis bukti ilmiah. Melalui kajian terhadap berbagai penelitian internasional, tim peneliti berupaya menjawab pertanyaan mengenai sejauh mana kadar vitamin D berpengaruh terhadap kondisi klinis pasien stroke iskemik akut yang hingga kini masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dan disabilitas di dunia.
Penelitian dilakukan dengan menelusuri publikasi ilmiah dari basis data PubMed, Scopus, dan Web of Science. Sebanyak 18 studi observasional dari berbagai negara berhasil dihimpun dan dianalisis secara komprehensif. Dari keseluruhan studi tersebut, 14 penelitian yang melibatkan total 2.242 partisipan memenuhi syarat untuk dilakukan meta-analisis.
Hasil kajian menunjukkan bahwa kadar vitamin D yang rendah berkaitan dengan tingkat keparahan stroke yang lebih tinggi. Pasien dengan defisiensi vitamin D cenderung memiliki skor National Institutes of Health Stroke Scale (NIHSS) yang lebih buruk, luaran fungsional yang kurang baik berdasarkan modified Rankin Scale (mRS), serta volume infark otak yang lebih luas pada pemeriksaan pencitraan. Analisis gabungan menunjukkan adanya korelasi negatif sedang antara kadar vitamin D dan skor NIHSS (r = -0,39), yang berarti semakin rendah kadar vitamin D seseorang, semakin berat kondisi stroke yang dialami.
Menurut dr. Rafi Zaki Arrizqi, temuan ini memperkuat pandangan bahwa vitamin D memiliki peran yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar menjaga kesehatan tulang. Vitamin D diketahui terlibat dalam berbagai mekanisme biologis, termasuk pengaturan inflamasi, fungsi endotel pembuluh darah, serta proses neuroproteksi yang berpengaruh terhadap perjalanan penyakit stroke.
Ia menjelaskan bahwa tingginya angka defisiensi vitamin D, bahkan di negara tropis seperti Indonesia, menjadikan vitamin D berpotensi sebagai biomarker prognostik yang relatif murah dan mudah diperiksa. Dengan demikian, pemeriksaan kadar vitamin D dapat menjadi salah satu komponen penting dalam penilaian risiko dan prognosis pasien stroke di masa mendatang.
Sementara itu, dr. Mawaddah Ar Rochmah menegaskan pentingnya systematic review dan meta-analysis dalam mendukung praktik evidence-based medicine. Menurutnya, sintesis bukti dari berbagai penelitian dapat membantu menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif dibandingkan studi tunggal. Ia juga menyoroti bahwa seluruh proses penyusunan artikel dilakukan secara daring dari lokasi masing-masing penulis, menunjukkan bagaimana teknologi digital mampu mendukung kolaborasi riset yang efektif lintas institusi.
Penelitian ini juga menemukan bahwa sebagian besar studi yang dianalisis berasal dari kawasan Asia dan Afrika Utara, wilayah yang memiliki prevalensi defisiensi vitamin D relatif tinggi. Para peneliti menduga bahwa kekurangan vitamin D dapat memperburuk proses aterosklerosis, disfungsi endotel, respons inflamasi, serta gangguan perfusi pada jaringan otak yang mengalami iskemia.
Penelitian ini turut mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan upaya pencegahan, diagnosis, dan tata laksana penyakit neurologis berbasis bukti ilmiah. Selain itu, studi ini berkontribusi pada SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan budaya riset dan publikasi ilmiah berbasis systematic review serta meta-analysis yang memperkuat kapasitas akademik dan keilmuan. Kolaborasi penelitian yang dilakukan secara digital dan lintas institusi juga mencerminkan implementasi SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Kontributor: Distya nugrahening Pradhani).




