FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada berkontribusi dalam penguatan kebijakan kesehatan nasional melalui partisipasi Prof. Jarir At Thobari dari Departemen Farmakologi dan Terapi sebagai pembicara dalam Pertemuan Pleno Komite Imunisasi Nasional (KIN) atau Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI). Kegiatan yang berlangsung pada 22–24 Mei 2026 di Hotel Luminor Purwokerto, Jawa Tengah, tersebut mempertemukan anggota KIN, perwakilan Kementerian Kesehatan, organisasi internasional, industri vaksin, serta berbagai mitra pembangunan kesehatan untuk membahas isu-isu strategis terkait program imunisasi di Indonesia.
Pertemuan pleno ini diselenggarakan sebagai bagian dari upaya mendukung implementasi Strategi Imunisasi Nasional 2025–2029. Forum tersebut menjadi ruang diskusi penting untuk mengevaluasi capaian program imunisasi sekaligus merumuskan rekomendasi berbasis bukti guna memperkuat kebijakan kesehatan nasional. Berbagai isu strategis yang dibahas meliputi kejadian luar biasa campak, perkembangan vaksin influenza dan malaria, aspek keamanan vaksin, hingga rencana perluasan program imunisasi Human Papillomavirus (HPV) bagi anak laki-laki.
Pada Sabtu, 23 Mei 2026, Prof. Jarir tampil sebagai narasumber dalam Sesi 2 bertajuk “Situasi Program Imunisasi Nasional”. Dalam kesempatan tersebut, ia memaparkan materi berjudul “Situasi dan Intervensi Zero-Dose Children di Indonesia” yang menyoroti kelompok anak-anak yang belum pernah menerima imunisasi dasar sama sekali.
Menurut Prof. Jarir, keberadaan zero-dose children masih menjadi tantangan besar dalam upaya mencapai cakupan imunisasi yang merata. Kelompok ini berisiko tinggi terhadap berbagai penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi. Selain berdampak pada kesehatan individu, keberadaan anak-anak yang belum terjangkau imunisasi juga dapat meningkatkan risiko munculnya wabah penyakit menular di masyarakat.
Dalam paparannya, Prof. Jarir menjelaskan bahwa anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi umumnya berada di wilayah dengan akses layanan kesehatan yang terbatas, kondisi sosial ekonomi yang rentan, daerah terpencil dengan tantangan geografis yang kompleks, maupun komunitas dengan tingkat mobilitas yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif dan kolaboratif untuk memastikan setiap anak memperoleh haknya atas layanan imunisasi dasar.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penggunaan data dan bukti ilmiah dalam merancang intervensi yang tepat sasaran. Strategi untuk menjangkau kelompok zero-dose children tidak hanya bergantung pada ketersediaan vaksin, tetapi juga memerlukan penguatan sistem kesehatan, peningkatan akses layanan, edukasi masyarakat, serta dukungan berbagai pemangku kepentingan.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui penguatan program imunisasi dan pencegahan penyakit menular guna meningkatkan kesehatan masyarakat. SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan kapasitas ilmiah, pertukaran pengetahuan, dan pemanfaatan bukti ilmiah dalam pengambilan keputusan kesehatan. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, karena melibatkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, organisasi internasional, industri vaksin, dan berbagai mitra pembangunan dalam mendukung keberhasilan program imunisasi nasional. (Kontributor: Nimas Bella Puspita).




