FK-KMK UGM Perkuat Respons Medis Pascagempa melalui Tim Darurat di RSUD Bajawa

FK-KMK UGM. Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif FK-KMK UGM bersama RSUP Dr. Sardjito menyelenggarakan respons medis darurat dengan menerjunkan tim kesehatan ke RSUD Bajawa, Nusa Tenggara Timur, untuk mendukung penanganan korban gempa, khususnya pasien dengan trauma berat yang membutuhkan tindakan operatif maupun perawatan intensif. Respons kemanusiaan tersebut berlangsung dalam rangkaian penugasan pada 17 Agustus hingga 1 September 2026. Kehadiran tim ditujukan untuk membantu RSUD Bajawa mempertahankan pelayanan di tengah tingginya jumlah pasien cedera, keterbatasan fasilitas, serta ancaman gempa susulan yang masih terjadi di wilayah terdampak.

Situasi di lapangan menuntut kesiapan dan kemampuan beradaptasi dari seluruh tenaga kesehatan. Akses menuju lokasi bencana sempat menghadapi kendala akibat kondisi pascagempa. Ketika tiba di RSUD Bajawa, tim mendapati rumah sakit berada dalam kondisi penuh oleh pasien cedera yang membutuhkan penanganan segera. Pada saat yang sama, sejumlah gempa susulan masih dirasakan sehingga aspek keselamatan pasien dan tenaga kesehatan harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap tindakan.

Kondisi tersebut bahkan berdampak langsung pada pelaksanaan operasi. Ketika terjadi guncangan, prosedur operasi harus dihentikan sementara untuk memastikan keamanan pasien dan tim medis. Setelah kondisi dinilai lebih aman, tindakan dapat dilanjutkan. Situasi ini menggambarkan kompleksitas pelayanan kesehatan dalam kondisi bencana, ketika kebutuhan medis tetap tinggi sementara lingkungan pelayanan belum sepenuhnya stabil.

Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, tim bersama tenaga kesehatan RSUD Bajawa berhasil menangani 57 tindakan operasi. Tindakan tersebut mencakup berbagai bidang, antara lain ortopedi, bedah digesti, serta obstetri dan ginekologi. Selain tindakan operatif, pelayanan medis nonoperatif juga tetap dilakukan untuk memastikan kebutuhan pasien dapat ditangani sesuai kondisi masing-masing.

Kehadiran tim dari Yogyakarta memiliki makna tersendiri bagi RSUD Bajawa. Rumah sakit tersebut merupakan bagian dari jejaring yang sebelumnya mendapatkan pendampingan melalui program Sister Hospital RSUP Dr. Sardjito dan FK-KMK UGM. Hubungan kelembagaan yang telah terbangun melalui program tersebut menjadi modal penting dalam mempercepat komunikasi dan koordinasi ketika bencana terjadi.

Direktur RSUD Bajawa, Heronimus Du’e, S.Kep. NS, M. Adm. Kes, menyampaikan apresiasi atas kesiapsiagaan dan dukungan yang diberikan tim RSUP Dr. Sardjito dan FK-KMK UGM. “Kami sangat berterima kasih atas kesiapsiagaan dan bantuan dari Tim RSUP Dr. Sardjito dan FKKMK UGM. Hubungan kami lebih dari sekadar sesama fasilitas kesehatan, karena RSUD Bajawa adalah ‘lulusan’ program Sister Hospital Sardjito-UGM.”

Ia menambahkan, “Di tengah rumah sakit yang overload dan ancaman gempa susulan, kehadiran tim dokter dan perawat ini benar-benar membakar semangat kami dan memastikan puluhan pasien trauma tertangani dengan cepat serta aman.”

Untuk menjaga kesinambungan pelayanan, dukungan tenaga kesehatan dilakukan dalam dua gelombang. Tim pertama bertugas pada 17–28 Agustus 2026, terdiri atas dr. Yudha Mathan, Sp.OT (Spine); dr. Sharfan, Sp.OT; dr. Ratna Kelembu, Sp.B; dr. Nashiruddin, Sp.An-TI; Lutfi Tomi, A.Md.Kep; Sigit Prabowo, S.Kep., Ners; serta Nur Ahmad, AMK.

Selanjutnya, tim kedua bertugas pada 26 Agustus–1 September 2026, yang terdiri atas Dr. dr. Meirizal, Sp.OT, Subsp.T.L.B.M.(K); dr. Adijaya Dita Pratama, Sp.An-TI; dr. Ginanjar Reza Putra; Septa Adhi Hermawan, S.Kep., Ners dari RSUP Dr. Sardjito; serta dr. I Wayan Arya Mahendra Karda, Sp.OT dari Puskris Kementerian Kesehatan/RSUP Fatmawati. Dukungan lapangan juga diperkuat oleh dr. Tulus S, Sp.An-TI yang merupakan lulusan RSUP Dr. Sardjito-FK-KMK UGM.

Dalam penanganan pasien trauma, tim berfokus pada kondisi yang dapat mengancam keselamatan jiwa, termasuk risiko syok dan gangguan pernapasan. Penanganan nyeri juga menjadi perhatian penting melalui pendekatan anestesi modern dan multimodal analgesia. Upaya tersebut dilakukan agar pasien dapat melewati fase kritis dengan lebih baik dan memiliki kondisi yang memungkinkan untuk memulai proses pemulihan serta fisioterapi sedini mungkin.

Respons terhadap bencana tidak hanya membutuhkan tenaga medis yang memiliki kompetensi klinis, tetapi juga koordinasi yang kuat antarfasilitas kesehatan. Dalam kondisi dengan sumber daya terbatas, keberadaan jejaring yang telah dibangun sebelum bencana menjadi faktor penting untuk mempercepat mobilisasi dukungan. Pengalaman RSUD Bajawa dalam program Sister Hospital dengan RSUP Dr. Sardjito dan FK-KMK UGM menjadi salah satu contoh bagaimana hubungan kelembagaan dapat berkembang menjadi dukungan nyata ketika fasilitas kesehatan menghadapi situasi krisis.

Kegiatan ini mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penanganan korban trauma dan upaya mempertahankan layanan kesehatan dalam situasi bencana. SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui penguatan ketahanan fasilitas kesehatan daerah dalam menghadapi kondisi darurat. SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kerja sama dalam penanggulangan bencana dan penguatan sistem kesehatan. (Kontributor: Irham Hanafi, Nashiruddin, Gilar, Hendro).