FK-KMK UGM Perkuat Regenerasi Kader Lansia melalui Pemetaan Jejaring Dukungan Desa Kuningan

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Workshop Co-Design bersama Kader Lansia Desa Kuningan pada Sabtu, 6 Juni 2026, di Ruang Kelas U.25 A–B Gedung Tahir Lantai 2 Sayap Utara FK-KMK UGM. Sesi kedua workshop mengangkat tema “Identifikasi Kebutuhan Regenerasi Kader dalam Mendukung Perawatan Lansia Tirah Baring”. Sesi ini difasilitasi oleh Dr. Fitrina M. Kusumaningrum, SKM., MPH., dengan dukungan co-fasilitator Ade Sutrimo, S.Kep., Ns., MSN., Sp.Kep.J., Fadliana H R U Hasanah, S.Tr.Keb., Bdn, MHPM, Jihan Muna Syahidah, dan Anindita Primasanti Sugito. Diskusi diarahkan untuk mengidentifikasi pihak yang selama ini terlibat serta pihak potensial yang dapat mendukung keberlanjutan kegiatan lansia dan proses regenerasi kader di Desa Kuningan.

Melalui diskusi, kader memetakan pihak internal dan eksternal yang memiliki potensi mendukung kegiatan lansia. Pihak internal meliputi RT dan RW, kepala padukuhan, kelompok pengajian, karang taruna, PKK RT, serta donatur lokal. RT dan RW dinilai memiliki peran penting dalam penyediaan tempat, pendanaan, gagasan, hingga pelaksanaan kegiatan. Kepala padukuhan dapat memperkuat koordinasi kelembagaan, sementara kelompok pengajian dan PKK berpotensi membantu menjangkau keluarga dan memberikan dukungan sosial. Karang taruna juga dapat dilibatkan untuk mendukung kebutuhan teknis serta menjadi salah satu sumber calon kader baru.

Dari sisi eksternal, UGM menjadi salah satu mitra yang diharapkan dapat mendukung pemantauan kesehatan, pemeriksaan, penyediaan alat, serta penyuluhan. Puskesmas, Rumah Sakit Panti Rapih, Psikologi UGM, kelurahan, instruktur senam, dunia usaha, dan berbagai kelompok lainnya juga memiliki peluang untuk memberikan dukungan sesuai kapasitas masing-masing. Namun, hasil diskusi menunjukkan perlunya jalur komunikasi dan koordinasi yang lebih jelas agar berbagai bentuk dukungan tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Pemetaan tersebut menunjukkan bahwa Desa Kuningan sebenarnya memiliki sumber daya dan jejaring yang cukup luas. Tantangan yang dihadapi bukan semata-mata keterbatasan pihak yang dapat dilibatkan, melainkan belum optimalnya pembagian peran dan mekanisme koordinasi. Karena itu, penguatan kegiatan lansia dapat dimulai dengan memperjelas kontribusi pihak-pihak yang telah aktif, sekaligus membuka ruang bagi keterlibatan kelompok lain.

Dalam konteks regenerasi kader, calon kader tidak harus berasal dari kelompok yang selama ini telah menjalankan peran tersebut. Anggota PKK, kelompok pengajian, karang taruna, keluarga lansia, maupun warga lain yang memiliki kepedulian terhadap lansia dapat mulai dilibatkan melalui kegiatan sederhana. Keterlibatan secara bertahap diharapkan dapat membangun pengalaman dan kesiapan sebelum mereka mengambil tanggung jawab yang lebih besar sebagai kader.

Jejaring tersebut juga penting dalam mendukung perawatan lansia tirah baring. Perawatan tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada keluarga maupun kader karena dapat membutuhkan pemantauan kesehatan, bantuan alat, mobilisasi, edukasi, dukungan psikologis, dan akses pelayanan kesehatan. Kader dapat berperan mengenali kebutuhan lansia dan menghubungkan keluarga dengan pihak yang tepat. Karang taruna dapat membantu kebutuhan nonmedis, PKK dan kelompok pengajian memberikan dukungan sosial, sedangkan puskesmas, rumah sakit, dan perguruan tinggi dapat memberikan dukungan kesehatan, pelatihan, serta edukasi.

Kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan dukungan kesehatan dan perawatan lansia berbasis masyarakat. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan diwujudkan melalui kolaborasi masyarakat, pemerintah, fasilitas kesehatan, perguruan tinggi, dan sektor lainnya. (Kontributor: Fadliana H R U Hasanah, S.Tr.Keb., Bdn, MHPM, Luthfia Cahyadina Marjuki, S.Gz.).