Bakti Sosial BERSAMA, FK-KMK UGM Beri Layanan Kesehatan Telinga dan Pendengaran bagi Santri Tunarungu Jamhariyah

FK-KMK UGM. Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher (IK THTBKL) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menggelar bakti sosial bertajuk “Bersama Peduli Kesehatan Telinga dan Pendengaran” pada Minggu, 23 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Tunarungu Jamhariyah. Kegiatan bernama BERSAMA (Berbagi, Skrining, dan Pelayanan Audiologi untuk Masyarakat) ini digagas bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Indonesia (PERHATI-KL) DIY Jatengsel dan tim ABDI guna memberikan layanan kesehatan telinga dan pendengaran terpadu bagi santri jenjang SD hingga SMA.

Kepedulian ini bermula dari sebuah kesenjangan yang selama ini luput dari perhatian. Ketua Departemen IK THTBKL FK-KMK UGM, dr. Agus Surono, Ph.D., M.Sc., Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.B.E.(K), mengungkapkan bahwa penyaluran alat bantu dengar selama ini lebih banyak menyasar kelompok lansia, sementara anak-anak dengan keterbatasan pendengaran kerap terlewat dari program serupa. “Padahal anak-anak yang memiliki keterbatasan pendengaran juga membutuhkannya. Melalui kegiatan ini, kita memastikan agar mereka turut menjadi sasaran dari bantuan tersebut,” ujarnya.

Kesenjangan itu pula yang dirasakan langsung oleh Pondok Pesantren Tunarungu Jamhariyah selama ini. Pengasuh pesantren, Hadi, S.Kom., S.Pd., menuturkan bahwa pihaknya sejauh ini mampu menangani kebutuhan pendidikan santri secara mandiri, namun menghadapi keterbatasan ketika harus memenuhi kebutuhan di luar aspek pendidikan. Dengan santri yang masih berada di usia sekolah, ia meyakini potensi sisa pendengaran mereka sesungguhnya masih sangat mungkin dioptimalkan. Kebutuhan itulah yang kemudian dijawab lewat kehadiran PERHATI-KL DIY Jatengsel. Ketuanya, dr. Mahatma Sotya Bawono, M.Sc., Sp.T.H.T.B.K.L., menegaskan bahwa organisasi profesi semestinya hadir sebagai jembatan yang menghubungkan kebutuhan tersebut dengan bantuan yang tepat. “Kami tidak ingin bantuan ini bersifat one-shot, melainkan harus berupa program pemberdayaan yang berkelanjutan,” tuturnya, menegaskan arah jangka panjang dari kolaborasi ini.

Semangat itu kemudian diterjemahkan ke dalam rangkaian layanan yang sistematis. Kegiatan diawali dengan registrasi dan anamnesis singkat untuk menggali keluhan telinga serta riwayat pendengaran tiap santri, dilanjutkan pemeriksaan THT melalui otoskopi dan bersih-bersih telinga (BBT) bagi peserta yang memenuhi indikasi. Tim ABDI kemudian melengkapi proses ini dengan pemeriksaan audiometri sesuai kemampuan respons masing-masing santri. Setiap hasil pemeriksaan dicatat secara cermat dan ditindaklanjuti dengan rekomendasi maupun rujukan bagi santri yang memerlukan penanganan lebih lanjut, sebelum akhirnya IK THTBKL FK-KMK UGM menyerahkan bantuan berupa barang, bingkisan, dan donasi, dan kegiatan ditutup dengan foto bersama.

Melalui rangkaian kegiatan ini, FK-KMK UGM turut memberi kontribusi nyata bagi pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera lewat pemerataan akses layanan kesehatan telinga dan pendengaran, SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui layanan yang inklusif bagi penyandang disabilitas, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan yang tergambar dari sinergi FK-KMK UGM, PERHATI-KL DIY Jatengsel, tim ABDI, dan Pondok Pesantren Tunarungu Jamhariyah dalam merawat keberlanjutan program pemberdayaan ini. (Reporter: Balanca Qolta)