Gelar International Postgraduate Symposium 2026, FK-KMK UGM Bahas Inovasi Penanganan Krisis Kesehatan Global

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan International Postgraduate Symposium (IPGS) 2026 dengan tajuk “Health and Medical Innovation: How to Address Global Health Crisis” di Auditorium FK-KMK UGM. Acara yang diselenggarakan selama dua hari pada Sabtu—Minggu, 22—23 Agustus 2026 ini menjadi ruang yang disediakan oleh FK-KMK UGM untuk memfasilitasi mahasiswa post-graduate, peneliti, akademisi, dan profesional untuk bertukar pengetahuan mengenai strategi inovatif dalam bidang kesehatan dan kedokteran. Adapun strategi inovatif yang dibahas dalam IPGS 2026 adalah inovasi kesehatan untuk penanganan krisis kesehatan global.

Hari pertama IPGS 2026 berisi seminar dengan pembicara Profesor Raina Macintyre, M.B.B.S. Hons. 1, M.App.Epid., Ph.D., F.R.A.C.P., F.A.F.P.H.M. dari University of South New Wales (UNSW) dan Profesor Hsiao-Chi Chuang dari Taipei Medical University, dilanjutkan dengan simposium yang menghadirkan lima pembicara dari FK-KMK UGM. Sementara itu, hari kedua acara ini berisi perlombaan yang terdiri atas kompetisi debat, presentasi penelitian, dan presentasi poster. Seiring dengan acara, terdapat Pameran Kursus dan Media Pembelajaran yang menampilkan inovasi pendidikan berbasis teknologi dan media pembelajaran yang dikembangkan oleh para peserta kegiatan. Acara ini terbuka untuk mahasiswa sarjana dan post-graduate dari universitas berbagai negara.

Pada hari pertama, FK-KMK UGM memberikan kesempatan bagi peneliti dan akademisi untuk membahas inovasi penanganan krisis kesehatan global saat ini. Presentasi diawali dengan pemaparan isu krisis kesehatan global oleh Profesor Raina Macintyre, M.B.B.S. Hons. 1, M.App.Epid., Ph.D., F.R.A.C.P., F.A.F.P.H.M., seorang pakar biosekuriti global. Ia menyoroti kompleksitas biological attacks atau serangan biologis modern yang  beririsan dengan disinformasi, serangan siber, sabotase infrastruktur, serta ancaman di wilayah “gray zone”. Biological attacks yang dimaksud Profesor Raina adalah tindakan pelepasan virus, bakteri, atau agen biologi lainnya secara sengaja yang menyebabkan orang, binatang, atau tumbuhan menjadi sakit atau mati.

Selain Profesor Raina, Profesor Hsiao-Chi Chuang dari Taipei Medical University turut membahas permasalahan kesehatan dalam bidang iklim dan lingkungan, yaitu polusi udara di Indonesia. “Polusi udara merupakan isu yang sangat penting di Indonesia,” tuturnya. Menurut Profesor Chuang, permasalahan polusi menjadi penyebab signifikan dari Penyakit Paru Obstruktif Kronis. Profesor Chuang menyebutkan bahwa penyebab penyakit ini bukan hanya kebiasaan merokok, tetapi juga paparan polusi lalu lintas, emisi karbon industri, atau pembakaran biomassa. Terlebih, perubahan iklim di Indonesia turut memperumit persoalan tersebut.

Merespons isu kesehatan global, akademisi dari FK-KMK UGM turut menghadiri IPGS 2026 dalam dua sesi simposium yang membahas inovasi pengobatan. dr. Dwi Aris Agung Nugrahaningsih, M.Sc., Ph.D., dokter Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM, mengatakan bahwa terdapat inovasi berupa pengobatan regeneratif yang bertujuan memperbaiki, menggantikan, meregenerasi, dan memulihkan fungsi jaringan tubuh. Menambahi dr. Dwi, dr. Rusdy Ghazali Malueka, Ph.D.,Sp.N.Subsp.N.Onk(K) dari Departemen Neurologi FK-KMK UGM mengatakan bahwa jenis pengobatan ini dapat membuat sel, jaringan, atau organ manusia kembali ke fungsi normal.

Tak selesai di situ, dr. M. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D, dan dr. Luthfi Hidayat, Sp.OT(K). menambah bahasan mengenai inovasi kesehatan berupa teknologi kesehatan pada simposium kedua. Pada awal pembahasan, dr. Lutfan mengkritisi teknologi kesehatan di Indonesia yang tidak merata, misalnya teknologi robotika yang tidak ada di Papua tetapi ada di Jakarta. “Teknologi memang semakin maju, tetapi kesenjangan antara pusat layanan yang baik dan pusat layanan standar menurut saya juga semakin lebar,” ujarnya. Padahal, menurutnya, teknologi kesehatan sangat diperlukan apalagi dalam keterbatasan kemampuan dokter. Dari tantangan ini, dr. Lutfan kemudian membahas inovasi yang dapat dilakukan dalam teknologi kesehatan berupa asisten kesehatan robotik.

IPGS 2026 berhasil diselenggarakan dengan partisipasi penuh peserta. Dalam setiap sesi, terdapat peserta yang aktif bertanya. Atas antusiasme partisipasi ini, IPGS 2026 diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi munculnya ide-ide baru dan kolaborasi dalam mempromosikan kesiapsiagaan dan ketahanan guna menghadapi krisis kesehatan global. (Penulis: Aghits Azka/Humas).