FK-KMK UGM. Center for Health Behavior and Promotion (CHBP), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) Komunikasi Inklusif dengan melibatkan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GERKATIN Kota Yogyakarta dan perwakilan tenaga kesehatan dari Puskesmas Tegalrejo sebagai bagian dari penyempurnaan materi Pelatihan Komunikasi Inklusif bagi Tenaga Kesehatan. Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 3 Agustus 2026, di Ruang Sekber Lantai 2 Gedung Litbang FK-KMK UGM ini bertujuan memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang lebih inklusif bagi penyandang Tuli di layanan kesehatan primer.
Pelaksanaan ToT diawali dengan peninjauan materi pengantar mengenai situasi penyandang Tuli serta tantangan komunikasi yang masih kerap dijumpai di fasilitas pelayanan kesehatan. Dalam sesi tersebut, perwakilan DPC GERKATIN Kota Yogyakarta membagikan pengalaman mengenai berbagai hambatan yang dialami pasien Tuli ketika mengakses layanan kesehatan. Salah satu tantangan yang masih sering ditemui adalah keterbatasan informasi yang mudah dipahami serta belum optimalnya komunikasi langsung antara tenaga kesehatan dengan pasien Tuli.
Dari perspektif tenaga kesehatan, dr. Fajar dari Puskesmas Tegalrejo menyampaikan bahwa sebagian tenaga kesehatan masih merasa kurang percaya diri ketika harus berkomunikasi dengan pasien Tuli, terutama apabila pasien datang tanpa pendamping. Masukan tersebut menjadi bahan evaluasi penting dalam penyusunan materi pelatihan agar tidak hanya memperkenalkan karakteristik pasien Tuli, tetapi juga memberikan panduan praktis yang dapat diterapkan dalam pelayanan sehari-hari.
Selanjutnya, peserta bersama tim pengabdian masyarakat CHBP FK-KMK UGM melakukan telaah terhadap berbagai media komunikasi inklusif yang tengah dikembangkan. Media tersebut meliputi flipchart, kartu obat, dan response card yang dirancang sebagai alat bantu komunikasi selama proses anamnesis maupun pemberian edukasi kesehatan. Perwakilan GERKATIN dan tenaga kesehatan memberikan berbagai masukan terkait isi materi, desain visual, hingga kemudahan penggunaan media agar lebih sesuai dengan kebutuhan pasien Tuli.
Diskusi pada kegiatan ini juga menyusun rancangan pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) yang nantinya akan diberikan kepada tenaga kesehatan bersama narasumber dari DPC GERKATIN Kota Yogyakarta. Materi pelatihan mencakup pengenalan kosakata dasar, percakapan saat pemeriksaan, penyampaian informasi waktu, hingga latihan komunikasi melalui metode bermain peran dalam kelompok kecil.
Tim memaparkan rancangan alur pelayanan bagi pasien Tuli di fasilitas kesehatan primer. Alur tersebut disusun untuk membantu tenaga kesehatan mengenali kebutuhan komunikasi pasien sejak awal kedatangan, memberikan pendampingan yang sesuai selama proses pelayanan, serta memastikan setiap tahapan layanan dapat diakses dengan lebih mudah dan nyaman.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan simulasi pelayanan kesehatan menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia. Dalam simulasi tersebut, dr. Ardhina Ramania selaku Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat bersama dr. Fajar mempraktikkan komunikasi menggunakan BISINDO dengan perwakilan DPC GERKATIN Kota Yogyakarta yang berperan sebagai pasien. Simulasi ini memberikan gambaran nyata mengenai interaksi di fasilitas kesehatan sekaligus menjadi sarana evaluasi terhadap materi, media komunikasi, dan skenario pelatihan sebelum diterapkan kepada tenaga kesehatan dalam skala yang lebih luas.
Kegiatan ini turut mendukung pencapaian SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan akses layanan kesehatan yang inklusif bagi penyandang Tuli. SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam komunikasi inklusif. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan didukung dengan upaya mengurangi hambatan komunikasi agar pelayanan kesehatan lebih setara bagi penyandang disabilitas. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan tercermin melalui kolaborasi antara FK-KMK UGM, DPC GERKATIN Kota Yogyakarta, dan Puskesmas Tegalrejo dalam mengembangkan pelayanan kesehatan yang lebih inklusif. (Kontributor: Alvira Rahmasari & Sinta Ristiyanti).



