FK-KMK UGM. Sayatan bedah tidak berhenti pada urusan menyelamatkan nyawa. Bagi pasien kanker payudara dan penderita limfedema, perjalanan panjang justru dimulai setelah operasi, ketika fungsi tubuh dan kualitas hidup harus dipulihkan kembali. Dari titik itulah Visiting Professor & Guest Lecture bertajuk “Bridging Japan and Indonesia Through Surgical Innovation: Latest Advances in Lymphedema, Breast Reconstruction, and Medical–Engineering Collaboration” berangkat.
Diselenggarakan oleh Program Pendidikan Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik, kegiatan ini digelar secara hybrid pada Senin, 31 Agustus 2026, di Auditorium Tahir Foundation Lantai 1 FK-KMK UGM dan melalui Zoom. Dua pembicara lintas negara hadir, yaitu Shinsuke Akita, MD, PhD, Associate Professor Departemen Bedah Plastik Chiba University School of Medicine, Jepang, serta Ir. Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D, Assistant Professor Biomedical Engineering FT UGM. Diskusi dipandu oleh Aditya Wicaksana, MD, MSc, dosen Divisi Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik FK-KMK UGM/RSUP Dr. Sardjito.
Representatif RSUP Dr. Sardjito, dr. Danny Pratama Kuswadi, Sp.P.D., Subsp. G.H. (K), berharap forum ini membuka ruang diskusi bermakna serta pertukaran pengalaman antara kolega Jepang dan Indonesia. Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, menegaskan bahwa bedah modern harus melampaui upaya menyelamatkan nyawa untuk memulihkan fungsi, martabat, dan kualitas hidup pasien, capaian yang menuntut kolaborasi erat antara klinisi, insinyur, ilmuwan, spesialis rehabilitasi, perawat, hingga pasien itu sendiri.
Mengusung semangat tersebut, Shinsuke Akita memaparkan perkembangan mutakhir penanganan limfedema dan rekonstruksi payudara, dua kondisi yang kerap menyertai perjalanan pasien kanker payudara pascaoperasi, dengan sorotan pada inovasi bedah yang mampu mengembalikan bentuk tubuh sekaligus fungsi fisiologis secara lebih presisi.
Materi dilanjutkan Ridwan Wicaksono yang mengangkat sisi rekayasa biomedis, menekankan pentingnya inovasi translasional sebagai jembatan antara riset teknik di laboratorium dan solusi klinis di ruang operasi. Rangkaian kegiatan turut diisi sesi tanya jawab serta kunjungan ke RSUP Dr. Sardjito, memberi kesempatan bagi peserta melihat langsung penerapan kolaborasi klinis dan teknik di lapangan.
Kegiatan ini menjadi wujud nyata kontribusi FK-KMK UGM terhadap capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan layanan kesehatan pasca bedah, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur lewat kolaborasi medis-teknik, serta SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui jejaring akademik lintas negara antara Indonesia dan Jepang. (Reporter: Balanca Qolta).

