FK-KMK UGM. Prof. dr. Anggoro Budi Hartopo, M.Sc., Sp.PD, KKV., Ph.D., Sp.JP(K)., berhasil memperoleh gelar sebagai Guru Besar dalam bidang Jantung dan Pembuluh Darah: Prevensi dan Rehabilitasi Kardiovaskular di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM. Beliau melaksanakan pidato pengukuhan jabatan Guru Besar pada Kamis (06/08) di Balai Senat Lantai 2 Gedung Pusat UGM. Pidato pengukuhan Prof. Anggoro berjudul Prevensi dan Rehabilitasi Kardiovaskular sebagai Daya Upaya Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat.
“Empat pilar pelayanan kesehatan yaitu promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, harus dilaksanakan sebagai satu kesatuan untuk menghasilkan peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan penurunan penyakit kardiovaskular. Dalam konsep pencegahan, penelitian pada populasi bernilai penting untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko, dan saya beruntung bekerja di institusi pendidikan dengan wahana penelitian yang mapan, sehingga memungkinkan penelitian saya di bidang prevensi kardiovaskular terlaksana.”
Prof. Anggoro memaparkan bahwa dari data penelitian perbandingan antara pasien penyakit jantung koroner stabil di RSUP Dr. Sardjito dengan populasi HDSS Sleman sebagai matched control, didapatkan kesamaan faktor-faktor risiko Penyakit Kardiovaskular Aterosklerosis (PKVA) dengan belahan dunia yang lain, yaitu peningkatan risiko lebih dari dua kali pada diabetes melitus, hipertensi, merokok aktif, aktivitas fisik yang kurang, atau gaya hidup sedenter, dan asupan serat makanan yang rendah.
“Penelitian besar di dunia, ditambah dengan validasi hasil pada populasi Indonesia di level nasional dan regional, tidak diragukan lagi bahwa peran identifikasi faktor-faktor risiko PKVA pada individu, penilaian stratifikasi risiko PKVA, dan penurunan risiko PKVA sejak dini merupakan upaya besar yang terus dilakukan sebagai arus utama program Prevensi Primer Kardiovaskular. Prevensi Kardiovaskular bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk melindungi generasi mendatang,” tegas Prof. Anggoro.
Pada awal perkembangannya, Rehabilitasi Kardiovaskular hanya dikhususkan pada pasien paska rawat inap karena kekambuhan akut penyakit jantung koroner, yaitu sindrom koroner akut dan paska tindakan operasi bedah jantung. “Di masa kini, upaya meningkatkan kondisi fisik, mental, dan peran sosial dengan Rehabilitasi Kardiovaskular telah diteliti pada penyakit jantung tipe kronis, yaitu gagal jantung kronik dan hipertensi arteri paru.”
Pelayanan Rehabilitasi Kardiovaskular sebagai upaya Prevensi PKVA Sekunder belum merata di Pusat Pelayanan Kesehatan di Indonesia. Sedangkan pasien dengan penyakit jantung yang seharusnya mendapatkan manfaat dari program tersebut jumlahnya makin bertambah. Penambahan jumlah dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan telah dilaksanakan di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita dan RSUP Dr. Sardjito.
Prof. Anggoro menyampaikan bahwa partisipasi pasien dan rujukan dokter ke Program Rehabilitas Kardiovaskular masih belum optimal. Hal ini menjadi masalah di dunia. Salah satu hambatannya antara lain belum banyak Pusat Pelayanan Rehabilitasi Kardiovaskular di rumah sakit, serta kehadiran pasien secara periodik ke rumah sakit untuk melakukan program tersebut belum banyak.
“Kemajuan dan inovasi teknologi diharapkan semakin mendekatkan pelayanan Rehabilitasi Kardiovaskular kepada masyarakat, karena mampu memperluas akses pelayanan. Investasi pengembangan layanan dengan penelitian, dan pendidikan telah terus dilakukan. Rehabilitasi Kardiovaskular sebagai bagian dari Prevensi Kardiovaskular tetap lekang dengan perjalanan zaman,” pungkas Prof. Anggoro menutup pidato pengukuhannya.
Prof. dr. Anggoro Budi Hartopo, M.Sc., Sp.PD, KKV., Ph.D., Sp.JP(K)., merupakan salah satu dari 539 Guru Besar aktif di Universitas Gadjah Mada. Di tingkat fakultas merupakan Guru Besar ke 65 aktif dari 102 Guru Besar yang dimiliki oleh FK-KMK UGM. Pengukuhan Guru Besar Prof. Anggoro sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Humas/Sitam).



