FK-KMK UGM. Tidak banyak jenis kanker yang penyebabnya telah diketahui dengan jelas sekaligus memiliki vaksin untuk mencegahnya. Kanker serviks termasuk salah satunya. Meski demikian, penyakit ini masih banyak ditemukan di sekitar kita dengan angka kematian yang cukup tinggi. Persoalan inilah yang diangkat dalam Talkshow Kesehatan Reproduksi: Pencegahan Kanker Serviks yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM pada Jumat (25/9) di Panggung Utama Pekan Raya Medika (PRM) 2026 dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube FKKMK UGM.
Dipandu oleh dr. Brenda Geraldin Saragi, talk show ini menghadirkan dr. Muhammad Ary Zucha, Ph.D., Sp.OG, Subsp.Onk. sebagai pemateri. Ia menjelaskan bahwa serviks atau mulut rahim merupakan bagian terendah dari rahim yang dapat berkembang menjadi kanker dengan penyebaran yang cepat.
Secara global, seorang perempuan meninggal akibat kanker serviks setiap dua menit. Di Indonesia, kanker ini menempati urutan kedua, baik sebagai kanker yang paling sering ditemukan maupun penyebab kematian akibat kanker, dengan sekitar 36.000 kasus baru dan 20.000 kematian setiap tahun. Pada 2020, Indonesia bahkan menyumbang sekitar 54 persen insidensi dan mortalitas kanker serviks di kawasan ASEAN.
Namun, dr. Ary menegaskan bahwa kondisi tersebut sebenarnya dapat dicegah. “Kanker serviks termasuk kanker yang paling bisa dicegah. Penyebabnya sudah diketahui, yaitu Human Papillomavirus (HPV) dan vaksinnya sudah tersedia. Letak serviks juga memungkinkan untuk diintip dan diraba sehingga perubahannya bisa dideteksi lebih awal,” tuturnya.
Ia menambahkan, HPV dapat menular melalui kontak seksual maupun jalur nonseksual. Infeksi tersebut tidak serta-merta berubah menjadi kanker, melainkan melalui tahapan, mulai dari infeksi HPV, infeksi persisten, lesi prakanker, hingga akhirnya kanker serviks. Rentang proses inilah yang menjadi peluang untuk melakukan pencegahan melalui dua langkah utama, yakni vaksinasi dan skrining.
Sejalan dengan hal itu, WHO pada 2018 menetapkan target eliminasi kanker serviks pada 2030, yaitu vaksinasi 90 persen perempuan usia 15 tahun, skrining 70 persen perempuan usia 35-45 tahun, serta penanganan 90 persen perempuan yang telah terdiagnosis. “Cakupan skrining di Indonesia baru sekitar tujuh persen, masih jauh dari target. Padahal, skrining rutin setiap tiga tahun saja dapat menurunkan angka kejadian kanker serviks hingga 75 sampai 88 persen,” ungkap dr. Ary.
Talkshow ini menjadi bagian dari rangkaian PRM 2026 yang turut dimeriahkan dengan stand pameran dan beragam kegiatan menarik lainnya. Melalui kegiatan ini, FK-KMK UGM berkomitmen mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya menurunkan kematian akibat kanker serviks serta memperluas akses layanan kesehatan reproduksi. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian SDG 5: Kesetaraan Gender dengan mendorong perlindungan kesehatan perempuan secara menyeluruh. (Reporter: Balanca Qolta)



