FK-KMK UGM. Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) bersama tim peneliti memublikasi penelitian berjudul “Scoring system to predict the failure of hydrostatic reduction for children with intussusception: a single center study” dipublikasikan dalam jurnal internasional BMC Pediatrics pada November 2025 dengan DOI https://doi.org/10.1186/s12887-025-06235-x.
Penelitian yang dilakukan oleh tim Divisi Bedah Anak, Departemen Ilmu Bedah FK-KMK UGM ini melibatkan Prof. dr. Gunadi, Ph.D., Sp.BA., Subsp.DA(K), Dr. dr. Akhmad Makhmudi, Sp.B., Sp.BA., Subsp.D.A(K), Dewi Novitasari Arifin, Pramana Adhityo, Nabila Ardia Pramono, Rizkia Gustin Nurul Fatimah, Lanang Aditama, Petrus Gandi Purwosatrio, dan Hesti Gunarti.
Intususepsi merupakan kondisi ketika sebagian usus masuk ke bagian usus lainnya. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab obstruksi usus pada anak dan memerlukan diagnosis serta penanganan segera untuk mencegah komplikasi serius, seperti nekrosis atau kematian jaringan usus dan perforasi. Apabila tidak ditangani dengan tepat, kondisi tersebut dapat mengancam keselamatan pasien.
Salah satu pilihan tata laksana nonoperatif untuk intususepsi pada anak adalah reduksi hidrostatik, yakni prosedur untuk mengembalikan posisi usus menggunakan tekanan cairan dengan bantuan pencitraan medis. Metode ini dapat dilakukan dengan panduan fluoroskopi atau ultrasonografi. Meskipun menjadi pilihan awal pada pasien yang memenuhi kriteria klinis, tingkat keberhasilannya bervariasi, yakni sekitar 46–94% dalam berbagai laporan.
Dalam penelitian di RSUP Dr. Sardjito, tingkat keberhasilan reduksi hidrostatik tercatat sebesar 37,7%, sedangkan 62,3% pasien mengalami kegagalan reduksi. Angka tersebut mendorong perlunya pendekatan yang dapat membantu tenaga medis mengenali pasien dengan risiko kegagalan lebih tinggi. Dengan identifikasi yang lebih terarah, evaluasi klinis dan pertimbangan untuk melakukan intervensi bedah dapat dilakukan secara lebih tepat sesuai kondisi pasien.
Penelitian ini menggunakan desain retrospektif dengan menganalisis rekam medis 61 anak dengan intususepsi yang menjalani reduksi hidrostatik di RSUP Dr. Sardjito selama Januari 2017 hingga Desember 2021. Tim peneliti mengevaluasi sejumlah faktor klinis, termasuk usia, berat badan, durasi gejala, muntah, feses berdarah bercampur lendir atau currant jelly stool, distensi abdomen, lokasi massa di perut, serta tanda pseudoportio. Data kemudian dianalisis menggunakan uji statistik dan regresi logistik multivariat untuk mengidentifikasi faktor yang secara independen berkaitan dengan kegagalan reduksi.
Hasil analisis menemukan tiga indikator klinis yang berhubungan dengan kegagalan reduksi hidrostatik, yaitu durasi gejala lebih dari 48 jam, lokasi massa di sebelah kiri abdomen, serta adanya currant jelly stool. Ketiga indikator tersebut digunakan untuk menyusun sistem skoring sederhana dengan nilai masing-masing satu poin, sehingga skor total berada pada rentang 0–3.
Model skoring tersebut menunjukkan kemampuan diskriminasi yang baik, dengan nilai Area Under the Curve (AUC) sebesar 90,7%. Pada ambang skor dua atau lebih, model memiliki sensitivitas 92,1%, spesifisitas 82,6%, dan akurasi 88,5%. Hasil ini menunjukkan bahwa sistem skoring berpotensi membantu mengidentifikasi pasien yang berisiko mengalami kegagalan reduksi. Meski demikian, sistem tersebut merupakan alat bantu prediksi dan tidak menggantikan pemeriksaan klinis maupun pertimbangan dokter dalam menentukan tata laksana.
Penggunaan sistem skoring sederhana dapat membantu menyusun penilaian risiko secara lebih terstruktur berdasarkan tanda dan gejala yang ditemukan pada pasien. Informasi ini berpotensi mendukung pengambilan keputusan klinis, termasuk dalam mempertimbangkan kebutuhan intervensi bedah lebih dini apabila kondisi pasien mengharuskannya. Namun, penerapan yang lebih luas tetap memerlukan penelitian lanjutan untuk menguji kinerja sistem skoring pada populasi dan fasilitas kesehatan yang berbeda.
Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya mendukung deteksi risiko dan peningkatan kualitas penanganan intususepsi pada anak. SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui penguatan pengetahuan dan praktik kedokteran berbasis bukti. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan melalui kontribusi terhadap pengembangan pendekatan klinis yang berpotensi mendukung peningkatan mutu layanan kesehatan anak. (Kontributor: Prof. Gunadi dkk.).




