FK-KMK UGM Kembangkan Media Edukasi Ramah Lansia melalui Workshop Co-Design Desa Kuningan

FK-KMK UGM. Tim Pengabdian kepada Masyarakat Departemen Kesehatan Masyarakat, Gizi, Keperawatan, Pendidikan Kedokteran dan Bioetika menyelenggarakan Workshop Co-Design bersama Kader Lansia Desa Kuningan pada Sabtu, 6 Juni 2026, di Ruang Kelas U.25 A–B Gedung Tahir Lantai 2 Sayap Utara FK-KMK UGM. Sesi ketiga workshop mengangkat tema “Identifikasi Kebutuhan dan Preferensi Media Edukasi bagi Lansia”. Sesi tersebut difasilitasi oleh Ade Sutrimo, S.Kep., Ns., MSN., Sp.Kep.J. dan Amalia Maysarah, S.Tr.KL., MPH., dengan dukungan co-fasilitator Azam David Saifullah, S.Kep., Ns., M.Sc., Ph.D., Luthfia Cahyadina Marjuki, dan Jihan Muna Syahidah. Diskusi diarahkan pada perancangan media edukasi yang dapat digunakan secara mandiri oleh kader dalam kegiatan penyuluhan kesehatan bagi lansia di Desa Kuningan.

Dalam prosesnya, kader diajak memberikan masukan secara langsung mengenai berbagai komponen media, mulai dari ukuran, tampilan visual, jenis dan ukuran huruf, hingga kombinasi warna. Kegiatan dilakukan melalui demonstrasi dummy media edukasi, observasi, penyampaian pendapat, serta pemungutan suara terhadap sejumlah pilihan desain. Metode tersebut digunakan karena setiap kader memiliki preferensi yang berbeda sehingga diperlukan keputusan berdasarkan pilihan mayoritas.

Pada rancangan leaflet, kader menilai ukuran dan jenis huruf sudah sesuai, sementara jumlah informasi dianggap cukup dan tidak berlebihan. Namun, warna tulisan dinilai perlu dibuat lebih cerah dan memiliki kontras yang lebih kuat agar mudah dibaca oleh lansia. Kader cenderung memilih warna latar yang lebih tajam, seperti merah, oranye, hijau, dan kuning. Dari sisi visual, kombinasi gambar kartun dan foto kelompok lansia pada bagian sampul dinilai menarik. Kader juga mengusulkan penambahan kalimat motivasi untuk meningkatkan ketertarikan lansia terhadap materi edukasi.

Selain leaflet, diskusi membahas penggunaan lembar balik sebagai media yang dapat digunakan berulang kali dalam pertemuan lansia. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, leaflet dan buku yang diperoleh dari puskesmas dinilai belum selalu praktis untuk penyampaian edukasi kepada kelompok dengan jumlah peserta lebih banyak. Lembar balik kemudian dinilai lebih sesuai karena dapat digunakan berulang dan membantu kader menyampaikan materi secara langsung.

Kader membandingkan lembar balik berukuran A4 dan A3. Ukuran A3 dinilai lebih mudah dibaca ketika digunakan dalam forum dengan peserta yang lebih banyak, tetapi kurang praktis untuk dibawa. Sementara itu, ukuran A4 lebih ringkas dan sesuai untuk pertemuan kelompok kecil. Pemilihan ukuran nantinya akan disesuaikan dengan jumlah peserta dan bentuk kegiatan edukasi yang dilaksanakan.

Pada aspek visual, sebagian kader memilih foto sebagai elemen utama, sementara sebagian lainnya lebih menyukai ilustrasi grafis. Sebagai alternatif, muncul usulan untuk mengombinasikan keduanya. Kader juga memilih warna solid dengan kontras yang jelas, latar yang cenderung lebih gelap, serta jenis huruf standar tanpa banyak aksen dekoratif. Ukuran huruf yang besar dan warna tulisan yang kontras menjadi pertimbangan penting agar informasi mudah dibaca oleh lansia.

Kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan edukasi kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia. SDG 4 Pendidikan Berkualitas diwujudkan melalui penyediaan media pembelajaran kesehatan yang inklusif, mudah dipahami, dan mendukung pembelajaran sepanjang hayat.(Kontributor: Fadliana H R U Hasanah, S.Tr.Keb., Bdn, MHPM, Luthfia Cahyadina Marjuki, S.Gz.).