FK-KMK UGM Gelar Webinar Resiliensi Fasilitas Kesehatan Bahas Struktur Organisasi dan Uji Aktivasi Sistem saat Bencana

FK-KMK UGM. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) menyelenggarakan Webinar Series Resiliensi Fasilitas Kesehatan Seri 2 bertema “Struktur Organisasi dan Uji Aktivasi Sistem” pada Selasa, 2 Juni 2026, secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas fasilitas pelayanan kesehatan dalam menghadapi berbagai ancaman bencana maupun krisis kesehatan melalui penguatan tata kelola organisasi, kesiapan sumber daya manusia, serta sistem respons yang terintegrasi.

Webinar menghadirkan tiga narasumber yang membahas berbagai aspek penting dalam membangun ketangguhan fasilitas kesehatan. Materi yang disampaikan mencakup pengelolaan struktur organisasi saat bencana, pembentukan Emergency Medical Team (EMT), hingga perencanaan simulasi sebagai sarana menguji kesiapan sistem pelayanan kesehatan.

Pada sesi pertama, dr. Bella Donna, M.Kes menjelaskan pentingnya penerapan Incident Command System (ICS) dalam situasi kedaruratan. Menurutnya, kondisi krisis membutuhkan pola koordinasi yang berbeda dari birokrasi rutin karena menuntut pengambilan keputusan yang cepat, komunikasi yang efektif, dan pembagian tugas yang jelas. Melalui ICS, seluruh sumber daya rumah sakit dapat diorganisasikan ke dalam lima fungsi utama, yaitu komando, operasional, perencanaan, logistik, serta keuangan dan administrasi. Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan efektivitas koordinasi dan mempercepat respons organisasi saat menghadapi situasi darurat.

Materi berikutnya disampaikan oleh dr. Corona Rintawan, Sp.EM yang mengulas pembentukan Emergency Medical Team (EMT) di fasilitas pelayanan kesehatan. EMT merupakan tim multidisiplin yang terlatih, terorganisasi, dan dapat dimobilisasi secara cepat untuk memberikan layanan kesehatan pada kondisi bencana maupun krisis kesehatan. Dalam paparannya, dr. Corona menekankan pentingnya dukungan pimpinan institusi, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, penyusunan standar operasional prosedur, penguatan sistem logistik, serta pelaksanaan pelatihan dan simulasi secara berkelanjutan. Ia juga menegaskan bahwa EMT harus terintegrasi dengan sistem penanggulangan krisis kesehatan nasional agar mampu memberikan layanan sesuai standar nasional maupun internasional.

Sementara itu, Apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid membahas perencanaan simulasi bencana dan krisis kesehatan sebagai bagian penting dari implementasi Hospital Disaster Plan (HDP). Simulasi tidak hanya berfungsi sebagai latihan, tetapi juga sebagai instrumen evaluasi untuk mengukur kesiapan organisasi, kompetensi personel, efektivitas koordinasi, dan kelayakan prosedur yang telah disusun. Berbagai bentuk simulasi, mulai dari table top exercise, command post exercise, hingga full scale exercise, dapat diterapkan sesuai tujuan dan kapasitas masing-masing fasilitas kesehatan.

Kegiatan ini turut mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan kapasitas fasilitas kesehatan dalam memberikan pelayanan yang berkelanjutan saat terjadi bencana maupun krisis kesehatan. SDG 4 Pendidikan Berkualitas dengan menyediakan ruang pembelajaran dan peningkatan kompetensi bagi tenaga kesehatan dan pengelola fasilitas kesehatan. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara akademisi, praktisi kesehatan, dan berbagai pemangku kepentingan dalam membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh dan berkelanjutan. (Kontributor: Vina Yulia Anhar).