FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) berpartisipasi dalam Seminar Kesehatan Hari Jadi Kabupaten Sleman ke-110 dengan memaparkan berbagai temuan ilmiah terkait tantangan penurunan stunting dan paparan asap rokok pada anak. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (6/5/2026) di Atrium Shinta, Sleman City Hall tersebut menghadirkan dua dosen Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM, yakni Dr. rer. nat. dr. B.J. Istiti Kandarina dan dr. Bagas Suryo Bintoro, Ph.D., yang membahas faktor-faktor penting yang masih memengaruhi tumbuh kembang anak di Kabupaten Sleman.
Dalam pemaparannya, dr. Istiti mengungkapkan bahwa prevalensi stunting di Kabupaten Sleman telah berhasil ditekan hingga mencapai 4,29 persen pada tahun 2025, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional yang masih berada pada angka 19,8 persen. Namun, hasil Audit Kasus Stunting Dinas Kesehatan Sleman Tahun 2024 menunjukkan fakta menarik bahwa sekitar 95 persen kasus stunting yang masih ditemukan justru terjadi pada keluarga dengan kondisi ekonomi yang tergolong mampu.
Menurut dr. Istiti, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan stunting di Sleman tidak lagi didominasi oleh keterbatasan ekonomi, melainkan rendahnya literasi gizi dalam keluarga. Ia menegaskan bahwa masyarakat saat ini umumnya memiliki akses terhadap bahan pangan yang cukup, namun belum sepenuhnya memahami pola pemberian makan yang tepat bagi anak pada masa pertumbuhan.
Ia menjelaskan bahwa stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Dampak stunting tidak hanya terlihat dari tinggi badan yang kurang optimal, tetapi juga memengaruhi perkembangan otak, kemampuan belajar, produktivitas, serta kualitas hidup anak ketika dewasa.
Salah satu faktor penting yang sering terabaikan adalah konsumsi protein hewani harian. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa asupan protein hewani seperti telur, ikan, ayam, dan susu memiliki hubungan kuat dengan pertumbuhan optimal balita. Namun, berbagai mitos yang berkembang di masyarakat masih menjadi hambatan dalam penerapan pola makan sehat bagi anak.
Selain faktor gizi, seminar ini juga menyoroti bahaya paparan asap rokok terhadap kesehatan dan pertumbuhan anak. dr. Bagas Suryo Bintoro menjelaskan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan prevalensi perokok laki-laki tertinggi di dunia. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian besar anak Indonesia terpapar asap rokok di lingkungan rumah tangga.
Ia menjelaskan bahwa kebiasaan merokok di dalam rumah masih menjadi tantangan besar di Kabupaten Sleman. Data Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tahun 2024 menunjukkan bahwa indikator “Tidak Merokok di Dalam Rumah” memiliki capaian paling rendah dibanding indikator kesehatan lainnya.
Menurut dr. Bagas, anggapan bahwa membuka jendela atau merokok di ruangan lain dapat menghilangkan risiko paparan asap rokok merupakan persepsi yang keliru. Asap rokok dapat menyebar ke berbagai ruangan dalam waktu singkat dan meninggalkan residu berbahaya pada berbagai permukaan dalam rumah selama berjam-jam.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa berbagai penelitian menunjukkan hubungan antara paparan asap rokok dengan gangguan pertumbuhan anak, peningkatan risiko penyakit pernapasan, serta dampak kesehatan jangka panjang lainnya. Oleh karena itu, rumah bebas asap rokok menjadi salah satu strategi penting dalam mendukung tumbuh kembang anak yang optimal.
Sebagai langkah konkret, kedua narasumber merekomendasikan sejumlah upaya sederhana yang dapat dilakukan keluarga, seperti memberikan ASI eksklusif selama enam bulan, menyediakan makanan pendamping ASI yang kaya protein hewani sejak usia enam bulan, melakukan pemantauan tumbuh kembang secara rutin di posyandu, melengkapi imunisasi, memberikan stimulasi perkembangan anak melalui komunikasi dan permainan, serta menjadikan rumah sebagai lingkungan bebas asap rokok.
Kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak serta pencegahan stunting sejak dini. SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui penyebarluasan pengetahuan berbasis bukti ilmiah mengenai gizi dan kesehatan masyarakat. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan dengan mendorong pemerataan kualitas kesehatan anak tanpa memandang kondisi sosial ekonomi keluarga, SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam percepatan penurunan stunting di Kabupaten Sleman. (Kontributor: M. Ilham Gibran).




