FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan kegiatan penyuluhan kesehatan mengenai modifikasi gaya hidup bagi pasien dengan gangguan jantung sebagai bagian dari rangkaian Praktik Profesi Keperawatan Medikal Bedah (PKKMB) sekaligus implementasi pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan yang menyasar pasien Poli Jantung dan keluarga atau pendamping pasien ini dilaksanakan di Poli Jantung RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta.
Penyuluhan berlangsung pada Rabu, 20 Mei 2026, dengan tujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya penerapan gaya hidup sehat dalam pengelolaan penyakit jantung. Melalui kegiatan ini, peserta mendapatkan edukasi mengenai berbagai langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah kekambuhan penyakit serta meningkatkan kualitas hidup secara berkelanjutan.
Kegiatan ini diprakarsai oleh mahasiswa profesi ners FK-KMK UGM, yaitu Christian Agustinus Margianto, S.Kep., Desty Anggraeni Amrya Sofa, S.Kep., Rahmadhani Nurlia Novitasari, S.Kep., dan Mukarramah Ayu Winasis, S.Kep. Pelaksanaan kegiatan didampingi oleh pembimbing klinik Sujiati, S.Kep., Ns., M.Kep. serta pembimbing akademik Arifin Triyanto, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.MB dari Departemen Keperawatan Medikal Bedah FK-KMK UGM.
Dalam sesi edukasi, peserta memperoleh materi mengenai empat pilar utama modifikasi gaya hidup bagi pasien dengan gangguan jantung. Materi tersebut meliputi penerapan pola makan sehat untuk jantung, aktivitas fisik yang aman dan terukur, penghentian kebiasaan merokok, serta pengelolaan stres. Selain itu, peserta juga diajak memahami berbagai mitos dan fakta yang masih sering berkembang terkait penyakit jantung serta mengenali tanda-tanda kondisi gawat darurat yang memerlukan penanganan medis segera.
Tim penyuluh menjelaskan bahwa modifikasi gaya hidup merupakan salah satu aspek penting dalam pengelolaan penyakit jantung. Penerapan pola hidup sehat tidak hanya berfungsi untuk mencegah serangan jantung berulang, tetapi juga membantu menurunkan risiko komplikasi serius seperti gagal jantung maupun stroke. Di samping itu, perubahan perilaku sehat dapat mendukung proses pemulihan pasien dan meningkatkan kemandirian dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Salah satu tantangan yang masih sering ditemui adalah kekhawatiran pasien dan keluarga terhadap aktivitas fisik. Tidak sedikit pasien yang membatasi gerak karena takut mengalami kekambuhan. Melalui kegiatan ini, peserta diberikan pemahaman bahwa aktivitas fisik yang dilakukan secara tepat dan sesuai kondisi kesehatan justru berperan penting dalam menjaga fungsi jantung dan meningkatkan kebugaran tubuh.
Berbagai pertanyaan disampaikan oleh peserta terkait pola makan, olahraga yang aman, hingga cara mengenali gejala perburukan kondisi jantung. Sejumlah peserta juga mengungkapkan bahwa edukasi yang diberikan membantu mereka memahami pentingnya perubahan gaya hidup serta mengurangi rasa takut untuk kembali beraktivitas secara bertahap.
Kegiatan ini turut mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan literasi kesehatan serta pencegahan komplikasi penyakit jantung melalui edukasi yang berbasis bukti. SDG 4: Pendidikan Berkualitas dari proses pembelajaran dan transfer pengetahuan yang dilakukan oleh mahasiswa dan dosen kepada masyarakat sebagai bagian dari pendidikan kesehatan berkelanjutan. Selain itu, SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan juga didukung melalui upaya memberikan akses informasi kesehatan yang setara kepada pasien dan keluarga sehingga mereka memiliki kesempatan yang sama untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan hidup. (Kontributor: Christian Agustinus Margianto, S.Kep., Desty Anggraeni Amrya Sofa, S.Kep., Rahmadhani Nurlia Novitasari S.Kep., dan Mukarramah Ayu Winasis S.Kep, Arif).




