FK-KMK UGM. Dua mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat (MKM), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Ester Bellandina Tameno dan Dwi Wijayanti mengikuti kegiatan magang di Badan Gizi Nasional (BGN). Kegiatan magang yang berlangsung pada April–Juni 2025 ini menjadi wadah pembelajaran lapangan bagi mahasiswa untuk memahami implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), mulai dari aspek rantai pasok pangan hingga komunikasi publik program.
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang menyasar anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Program ini diharapkan mampu mendukung upaya penurunan stunting yang berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 tercatat sebesar 15,6 persen serta menekan prevalensi anemia pada remaja putri yang masih mencapai 37 persen. Dalam implementasinya, program ini tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan bergizi, tetapi juga melibatkan berbagai elemen pendukung mulai dari pelaku usaha lokal hingga sistem komunikasi publik.
Melalui penempatan magang di bidang penguatan rantai pasok, Ester Bellandina Tameno melakukan penelusuran terhadap ekosistem penyedia bahan pangan untuk MBG. Hingga Mei 2025, tercatat sebanyak 1.298 UMKM, 319 koperasi, dan 534 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) telah terlibat sebagai pemasok bahan baku program. Keterlibatan berbagai aktor ini memperlihatkan bahwa keberhasilan program gizi nasional sangat bergantung pada penguatan ekonomi lokal.
Selama kegiatan, Ester mengikuti rapat koordinasi di Maluku Utara, melakukan kunjungan ke Sekolah Tinggi Pertanian Kewirausahaan Banau di Halmahera Barat, serta observasi lapangan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bogor dan Solo. Dari hasil pengamatan tersebut, ditemukan sejumlah tantangan, di antaranya keterbatasan jumlah koperasi pemasok di wilayah tertentu, tingginya persentase BUMDes yang belum aktif, serta kebutuhan penguatan regulasi kemitraan UMKM dan penyesuaian harga pangan lokal.
Sementara itu, Dwi Wijayanti menjalani magang di Biro Hukum dan Humas BGN dengan fokus pada komunikasi publik program MBG. Ia terlibat dalam pengelolaan media sosial resmi kabarmbg, mulai dari perencanaan konten, pembuatan infografis dan video singkat, hingga dokumentasi lapangan di berbagai SPPG dan sekolah penerima manfaat di Bogor, Bekasi, Bandung, dan Lapas Sukamiskin.
Selama Mei 2025, tim berhasil menghasilkan 22 konten edukatif dengan capaian engagement rate sebesar 16,82 persen. Konten yang diproduksi tidak hanya berfungsi sebagai media informasi, tetapi juga menjadi sarana klarifikasi terhadap berbagai hoaks yang berkembang terkait program MBG, termasuk isu keracunan makanan dan persepsi negatif di media sosial. Pendekatan komunikasi yang mengedepankan fakta, visual edukatif, dan pengalaman penerima manfaat dinilai efektif dalam membangun kepercayaan publik.
Pengalaman kedua mahasiswa tersebut memperlihatkan bahwa implementasi program kesehatan masyarakat berskala nasional membutuhkan pendekatan multidisiplin. Program gizi tidak hanya terkait aspek kesehatan, tetapi juga mencakup penguatan ekonomi lokal, tata kelola logistik, kebijakan publik, serta komunikasi strategis. Bagi mahasiswa kesehatan masyarakat, pengalaman ini menjadi ruang belajar nyata untuk mengintegrasikan ilmu akademik dengan dinamika lapangan dan tantangan pembangunan kesehatan nasional.
Kegiatan ini juga berkontribusi pada SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui dukungan terhadap penyediaan pangan bergizi bagi kelompok rentan serta upaya penurunan stunting. Selain itu, kegiatan ini mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan intervensi peningkatan status gizi masyarakat dan pencegahan masalah kesehatan berbasis gizi. Kegiatan ini juga selaras dengan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, karena keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis memerlukan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat dalam membangun sistem pangan dan kesehatan yang berkelanjutan. (Kontributor: Muhammad Ilham Gibran).




