FK-KMK UGM. Departemen Anestesi dan Terapi Intensif menyelenggarakan kegiatan penguatan kebersamaan dan kesejahteraan bagi peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi dan Terapi Intensif melalui pendakian Gunung Prau, Wonosobo. Kegiatan yang diikuti oleh 21 dokter peserta PPDS 1 dan PPDS 2 bersama staf pengajar serta keluarga ini menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan mental, mempererat hubungan antarpeserta didik dan dosen, serta mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang sehat dan humanis. Kegiatan berlangsung pada Sabtu–Minggu, 18–19 Juli 2026.
Turut mendampingi kegiatan tersebut staf pengajar Departemen Anestesi dan Terapi Intensif FK-KMK UGM, yaitu Dr. dr. Akhmad Yun Jufan, M.Sc., Sp.An-TI, Subsp. TI(K) dan dr. Irham Hanafi, Sp.An-TI, Subsp. TI(K). Kehadiran para dosen tidak hanya sebagai pendamping, tetapi juga memperkuat interaksi yang lebih terbuka antara tenaga pendidik dan peserta didik di luar suasana formal rumah sakit.
Bagi seorang dokter anestesi, keseharian identik dengan ruang operasi yang menuntut ketelitian tinggi, pengambilan keputusan secara cepat, serta tanggung jawab besar terhadap keselamatan pasien. Kondisi tersebut menjadikan profesi ini rentan mengalami kelelahan fisik maupun mental apabila tidak diimbangi dengan mekanisme pemulihan yang sehat. Melalui kegiatan di alam terbuka ini, para peserta memperoleh kesempatan untuk sejenak melepaskan diri dari rutinitas klinis, membangun kembali semangat, serta memperkuat hubungan sosial yang menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan mental.
dr. Irham Hanafi, Sp.An-TI, Subsp. TI(K), menyampaikan bahwa kebersamaan di alam terbuka mampu memperkuat ikatan kekeluargaan yang sangat dibutuhkan dalam lingkungan kerja bertekanan tinggi. “Di rumah sakit, hirarki dan ketegangan ruang kritis terkadang membuat jarak. Namun di Gunung Prau ini, kita semua berjalan di jalur yang sama, merasakan dingin yang sama, dan saling merangkul. Kebersamaan ini membangun ikatan kekeluargaan yang kuat sebagai support system utama saat kita kembali menghadapi tugas-tugas berat di rumah sakit,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Dr. dr. Akhmad Yun Jufan, M.Sc., Sp.An-TI, Subsp. TI(K). Menurutnya, pendidikan dokter spesialis tidak hanya berorientasi pada penguasaan keterampilan klinis, tetapi juga pada pembentukan karakter yang utuh. “Pendidikan spesialis bukan hanya tentang mencetak ahli klinis yang tangkas di meja operasi, tetapi juga merawat empati dan jiwa kemanusiaannya.
Kegiatan ini turut mendukung pencapaian SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan tenaga kesehatan. SDG 4 Pendidikan Berkualitas diwujudkan dengan pengembangan karakter, kepemimpinan, dan kompetensi nonteknis peserta pendidikan dokter spesialis. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan tercermin melalui penguatan kolaborasi antara staf pengajar, peserta PPDS, dan keluarga dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang suportif dan berkelanjutan. (Kontributor: dr. SIR, dr. IHA, dr. GIL, Hendro).



