FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) turut memperkuat pengembangan inovasi kesehatan berbasis Artificial Intelligence (AI) melalui keterlibatan dr. Dian Kesumapramudya Nurputra, M.Sc., Ph.D., Sp.A., Subsp. Neuro(K), dalam peluncuran UGM Indosat NVIDIA AI Technology Center yang diselenggarakan Universitas Gadjah Mada di Student Center, Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UG pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Peluncuran tersebut dihadiri oleh Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, Direktur Utama dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha, Vice President of Solutions Architecture and Engineering NVIDIA Marc Hamilton, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Prof. Stella Christie, Menteri Komunikasi dan Digital RI Meutya Hafid, serta dr. Dian Kesumapramudya Nurputra dari Biro Transformasi Digital UGM. Dr. Dian juga merupakan Ketua Program Studi Magister Ilmu Kedokteran Klinis (MIKK) FK-KMK UGM sekaligus Lead Researcher e-Nose TB.
Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Program Studi Magister Ilmu Kedokteran Klinis, dr. Dian berkesempatan bertukar pikiran dengan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Prof. Stella Christie mengenai peluang pengembangan kerja sama pendidikan berbasis AI bersama international stakeholders. Pertukaran gagasan tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai pemanfaatan teknologi AI untuk memperkuat proses pendidikan dan riset di lingkungan perguruan tinggi.
Diskusi juga berlanjut bersama Direktur Utama dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha. Dalam pertemuan tersebut, dibahas peluang pengembangan dan investasi infrastruktur AI di UGM untuk mendukung terbentuknya ekosistem riset dan pendidikan yang semakin kuat. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri teknologi dinilai menjadi bagian penting dalam membuka ruang pengembangan inovasi yang dapat menjawab kebutuhan di berbagai bidang, termasuk kesehatan.
Dalam agenda peluncuran, e-Nose TB menjadi salah satu dari tiga inovasi yang diperkenalkan sebagai pionir kolaborasi berbasis AI di UGM. Dua inovasi lainnya adalah Tech4Disaster dan SmartAgri. Kehadiran ketiga inovasi tersebut menunjukkan luasnya penerapan teknologi AI dalam mendukung pengembangan solusi berbasis riset pada berbagai sektor.
Sebagai Lead Researcher e-Nose TB, dr. Dian bersama tim mengembangkan inovasi yang memanfaatkan teknologi dan kapabilitas AI untuk mendukung deteksi tuberkulosis secara noninvasif. Pengembangan tersebut mempertemukan kebutuhan di bidang kesehatan dengan kemajuan teknologi sehingga membuka peluang bagi pemanfaatan AI dalam mendukung proses deteksi penyakit.
Pembahasan mengenai e-Nose TB juga berlanjut dalam diskusi dengan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria. Dalam kesempatan tersebut, dr. Dian menyampaikan bahwa ekosistem UGM Indosat NVIDIA AI Technology Center dapat menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan riset, teknologi, dan AI untuk mendorong lahirnya inovasi kesehatan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Keterlibatan e-Nose TB dalam agenda peluncuran tersebut sekaligus memperlihatkan posisi penelitian kesehatan dalam ekosistem pengembangan AI di UGM. Pengembangan inovasi tidak berhenti pada kemampuan teknologi, tetapi diarahkan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Dalam konteks ini, penelitian e-Nose TB menjadi salah satu contoh bagaimana riset kesehatan dapat dikembangkan melalui dukungan teknologi dan kolaborasi lintas sektor.
Kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pengembangan e-Nose TB untuk mendukung deteksi tuberkulosis secara noninvasif. SDG 4 Pendidikan Berkualitas diwujudkan melalui penguatan pendidikan dan riset berbasis AI. SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur didukung melalui pengembangan inovasi serta infrastruktur AI. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan diperkuat melalui kolaborasi UGM, Indosat, NVIDIA, dan pemerintah. (Kontributor: Penta Kusuma).



