FK-KMK UGM Bahas Tantangan Menjaga Keselamatan Pasien Pascaakreditasi melalui Webinar Mutu Corner 3

FK-KMK UGM. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM menyelenggarakan webinar seri Mutu Corner 3 bertajuk “Akreditasi Selesai, Apakah Keselamatan Pasien Tetap Terjaga? Mengungkap Realita Sasaran Keselamatan Pasien di Lapangan”. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini menghadirkan tenaga kesehatan, pengelola mutu, pimpinan fasilitas kesehatan, regulator, akademisi, serta mahasiswa dari berbagai daerah sebagai peserta. Webinar ini diselenggarakan untuk membahas tantangan implementasi sasaran keselamatan pasien setelah proses akreditasi selesai serta mendorong penguatan budaya keselamatan pasien yang berkelanjutan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Webinar dipandu oleh dr. Novika Handayani dan menghadirkan dua narasumber yang memiliki pengalaman luas di bidang mutu dan keselamatan pasien, yakni dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH, FISQua, CRP serta dr. Yael Esthi Nurfitri Kuncoro, Sp.DVE, FINSDV, FAADV, FISQua, CRP. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi untuk mengkaji sejauh mana standar keselamatan pasien dapat diterapkan secara konsisten dalam praktik pelayanan sehari-hari, tidak hanya ketika menghadapi survei akreditasi.

Dalam pengantarnya, moderator menyoroti bahwa keselamatan pasien masih menjadi tantangan penting dalam sistem pelayanan kesehatan. Berbagai fasilitas kesehatan umumnya menunjukkan kepatuhan yang tinggi terhadap sasaran keselamatan pasien menjelang proses akreditasi. Namun, mempertahankan konsistensi penerapan standar tersebut setelah akreditasi sering kali menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian khusus. Oleh karena itu, webinar ini dirancang sebagai sarana refleksi bersama untuk membangun budaya mutu yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Pada sesi pertama, dr. Tjahjono Kuntjoro menyampaikan materi berjudul “Sasaran Keselamatan Pasien: Kepatuhan atau Budaya?”. Ia menjelaskan bahwa keselamatan pasien tidak seharusnya dipandang hanya sebagai kewajiban administratif atau bentuk kepatuhan terhadap regulasi. Menurutnya, keselamatan pasien harus menjadi budaya yang tertanam dalam perilaku dan pola pikir seluruh tenaga kesehatan.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa perubahan dari sekadar kepatuhan menuju budaya memerlukan proses pembiasaan yang konsisten. Budaya mutu dapat tumbuh apabila organisasi menerapkan nilai keterbukaan, pembelajaran berkelanjutan, pemberdayaan sumber daya manusia, keadilan dalam menyikapi insiden, serta komitmen terhadap perbaikan berkesinambungan. Dengan demikian, keselamatan pasien dapat menjadi bagian integral dari praktik pelayanan kesehatan sehari-hari.

Pada sesi berikutnya, dr. Yael Esthi Nurfitri Kuncoro membawakan materi bertajuk “Di Balik Akreditasi: Tantangan dan Strategi Menerapkan Keselamatan Pasien Sehari-hari”. Dalam paparannya, ia mengulas berbagai hambatan yang kerap muncul setelah proses akreditasi, mulai dari rendahnya budaya keterbukaan, komunikasi yang belum optimal, hingga kurangnya dukungan organisasi dalam mempertahankan standar keselamatan pasien.

Menurut dr. Yael, kepemimpinan memiliki peran yang sangat strategis dalam membangun budaya keselamatan pasien. Dukungan pimpinan terhadap kebijakan, sumber daya, dan penguatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman. Selain itu, komunikasi yang efektif antarprofesi maupun dengan pasien dan keluarga juga menjadi elemen utama dalam mencegah terjadinya insiden keselamatan pasien.

Kegiatan ini juga berkontribusi terhadap pencapaian SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya peningkatan keselamatan pasien dan mutu pelayanan kesehatan. SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penyelenggaraan forum pembelajaran yang memperkuat kapasitas tenaga kesehatan, akademisi, dan pengelola layanan kesehatan. (Kontributor: Helen Anggraini Budiono).