FK-KMK UGM. Pusat Kedokteran Herbal FK-KMK UGM menyelenggarakan kegiatan edukasi kesehatan bertajuk diskusi daring mengenai kosmetik herbal dan keamanan penggunaannya pada Rabu, 13 Mei 2026. Kegiatan yang dikemas dalam format Instagram Live tersebut menghadirkan drg. Fara Silvia Yuliani, M.Sc., Ph.D sebagai narasumber dan dipandu oleh Dr. Sci. apt. Beni Lestari, M.Bio.Sci. Diskusi ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan kosmetik berbahan herbal secara tepat sekaligus memberikan perspektif ilmiah terhadap berbagai tren perawatan kulit yang berkembang di media sosial.
Dalam pemaparannya, drg. Fara menjelaskan bahwa kosmetik herbal merupakan produk perawatan tubuh yang memanfaatkan bahan-bahan alami, terutama yang berasal dari tumbuhan, untuk membantu menjaga dan meningkatkan kesehatan kulit. Menurutnya, penggunaan bahan alam dalam perawatan kecantikan bukanlah hal baru. Berbagai budaya di dunia telah memanfaatkan bahan alami selama berabad-abad, termasuk tradisi lulur di Indonesia maupun praktik perawatan tubuh yang dikenal sejak zaman peradaban kuno.
Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa label “alami”, “herbal”, atau “bebas bahan kimia” tidak selalu menjamin keamanan suatu produk. Banyak masyarakat masih beranggapan bahwa seluruh bahan alami pasti aman digunakan tanpa risiko. Padahal, setiap bahan tetap memiliki karakteristik, dosis, serta potensi efek samping yang perlu diperhatikan.
Sebagai contoh, tea tree oil yang sering digunakan untuk membantu mengatasi jerawat memang memiliki manfaat tertentu apabila digunakan dalam konsentrasi yang tepat. Namun, penggunaan yang berlebihan justru dapat menyebabkan iritasi dan gangguan pada kulit. Hal serupa juga berlaku pada penggunaan lemon atau jeruk nipis yang kerap dijadikan bahan perawatan wajah rumahan. Kandungan asam yang tinggi pada bahan tersebut dapat merusak lapisan pelindung kulit apabila diaplikasikan secara langsung tanpa pengolahan yang sesuai.
Fenomena meningkatnya popularitas DIY skincare atau perawatan kulit buatan sendiri juga menjadi salah satu topik yang mendapat perhatian dalam diskusi tersebut. drg. Fara menjelaskan bahwa bahan-bahan dapur seperti kopi, gula, maupun baking soda sering kali digunakan sebagai campuran produk perawatan kulit karena dianggap mudah diperoleh dan murah. Namun, penggunaan bahan-bahan tersebut perlu dilakukan secara hati-hati karena dapat menyebabkan pengelupasan kulit berlebihan atau over-exfoliation yang berpotensi merusak skin barrier.
Selain risiko iritasi, produk perawatan yang dibuat sendiri umumnya tidak melalui proses uji keamanan, stabilitas, maupun uji mikrobiologi. Akibatnya, produk tersebut lebih rentan mengalami kontaminasi bakteri dan jamur yang justru dapat memperparah kondisi kulit, terutama pada individu dengan kulit sensitif atau memiliki masalah jerawat.
Dalam kesempatan tersebut, masyarakat juga diajak menjadi konsumen yang lebih cermat dan kritis dalam memilih produk kosmetik. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah menerapkan prinsip “KLIK”, yaitu memeriksa Kemasan, Label, Izin edar, dan Kedaluwarsa sebelum membeli maupun menggunakan suatu produk. Prinsip ini dinilai penting untuk membantu masyarakat mengidentifikasi produk yang aman dan sesuai standar.
drg. Fara juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur oleh berbagai klaim hasil instan yang banyak beredar di media sosial maupun platform perdagangan daring. Menurutnya, kesehatan kulit merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan perawatan sesuai kebutuhan individu. Oleh karena itu, tujuan penggunaan skincare seharusnya berfokus pada upaya menjaga kesehatan dan kenyamanan kulit, bukan sekadar mengejar hasil cepat tanpa mempertimbangkan aspek keamanan.
Kegiatan ini turut mendukung pencapaian SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan literasi kesehatan masyarakat terkait penggunaan kosmetik yang aman dan sehat, SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan menyediakan edukasi berbasis ilmu pengetahuan yang mudah diakses oleh masyarakat melalui platform digital, serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab karena mendorong masyarakat menjadi konsumen yang lebih kritis, cerdas, dan bijaksana dalam memilih serta menggunakan produk perawatan diri. (Kontributor: Maisah Hanani).




