FK-KMK UGM Ajak Masyarakat Kenali Hepatitis Berdasarkan Fakta Bukan Mitos

FK-KMK UGM. Pusat Kedokteran Tropis (PKT) FK-KMK UGM menyelenggarakan podcast TropmedTalk bertajuk “Hepatitis: Sering Didengar, Tapi Masih Sering Disalahpahami?” sebagai bagian dari peringatan Hari Hepatitis Sedunia. Podcast ini menghadirkan dr. Fahmi Indrarti, Sp.PD-KGEH, dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK-KMK UGM sebagai narasumber untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai penyebab, cara penularan, pencegahan, hingga pengobatan hepatitis. Podcast tersebut ditayangkan melalui kanal YouTube Tropmeducation pada 6 Agustus 2026.

Dalam pemaparannya, dr. Fahmi menjelaskan bahwa hepatitis merupakan peradangan pada organ hati yang paling sering disebabkan oleh infeksi virus hepatitis. Namun demikian, penyakit ini juga dapat dipicu oleh konsumsi alkohol, obesitas, efek samping obat-obatan tertentu, maupun infeksi yang ditularkan melalui makanan dan minuman yang tidak higienis. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang mengidentikkan hepatitis hanya dengan kondisi kulit dan mata yang menguning, padahal penyakit ini memiliki penyebab dan manifestasi yang jauh lebih beragam.

Lebih lanjut, dr. Fahmi menguraikan bahwa terdapat lima jenis utama virus hepatitis, yaitu hepatitis A, B, C, D, dan E, yang masing-masing memiliki mekanisme penularan berbeda. Hepatitis A dan E umumnya menyebar melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi, sedangkan hepatitis B dan C ditularkan melalui paparan cairan tubuh, terutama darah. Adapun hepatitis D hanya dapat menginfeksi individu yang telah terinfeksi hepatitis B sehingga dapat memperberat kondisi penyakit. Ia menegaskan bahwa hepatitis B dan C merupakan jenis yang paling banyak ditemukan di Indonesia.

Menurut dr. Fahmi, hepatitis B dan C menjadi perhatian utama karena keduanya berpotensi berkembang menjadi infeksi kronis, sirosis hati, hingga kanker hati apabila tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini. Ia menyebutkan bahwa diperkirakan sekitar 6,7 juta penduduk Indonesia hidup dengan hepatitis B dan sekitar 2,5 juta lainnya terinfeksi hepatitis C. Besarnya beban penyakit tersebut menunjukkan pentingnya upaya pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan yang tepat untuk menekan angka kesakitan maupun kematian akibat hepatitis.

Dalam podcast tersebut, dr. Fahmi juga menjelaskan langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan sesuai dengan karakteristik masing-masing virus. Hepatitis A dan E dapat dicegah melalui penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk menjaga kebersihan makanan dan minuman. Sementara itu, pencegahan hepatitis B dan C dilakukan dengan menghindari penggunaan jarum suntik secara bergantian, tidak berbagi sikat gigi, alat cukur, maupun gunting kuku, serta memastikan seluruh tindakan medis, tindik, atau tato menggunakan peralatan yang steril. Ia juga menekankan pentingnya vaksinasi hepatitis B, terutama bagi bayi baru lahir dan kelompok berisiko tinggi. Hingga saat ini, vaksin untuk hepatitis C masih belum tersedia sehingga upaya pencegahan difokuskan pada menghindari paparan darah yang terinfeksi.

Mengenai pengobatan, dr. Fahmi menjelaskan bahwa peluang kesembuhan berbeda pada setiap jenis hepatitis. Hepatitis A dan E pada umumnya dapat sembuh sendiri apabila tidak disertai gangguan hati yang berat. Sementara itu, hepatitis C memiliki tingkat kesembuhan lebih dari 95 persen apabila mendapatkan terapi yang tepat sejak dini. Ia menambahkan bahwa pengobatan hepatitis B dan D kronis membutuhkan waktu yang lebih panjang serta harus dijalankan sesuai rekomendasi dokter dengan pemantauan yang ketat.

Podcast ini juga meluruskan sejumlah mitos yang masih berkembang di masyarakat. Salah satunya adalah anggapan bahwa hepatitis B dan C dapat menular melalui makan bersama. “Makan bersama boleh, berpelukan juga tidak masalah,” jelas dr. Fahmi. Ia menegaskan bahwa penyandang hepatitis tidak perlu dijauhi ataupun dikucilkan karena penyakit tersebut tidak menular melalui interaksi sosial sehari-hari. Hepatitis juga dapat dialami siapa saja, termasuk bayi yang tertular dari ibunya maupun individu yang terpapar darah atau alat yang tidak steril.

Sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat, dr. Fahmi mengimbau agar seseorang segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti kulit dan mata menguning, urine berwarna pekat menyerupai teh, perut membesar, muntah darah, buang air besar berwarna hitam, maupun penurunan kesadaran. Selain itu, individu yang memiliki faktor risiko juga dianjurkan menjalani pemeriksaan meskipun belum menunjukkan gejala.

Kegiatan ini turut mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera diwujudkan melalui peningkatan literasi masyarakat mengenai pencegahan, deteksi dini, dan pengendalian hepatitis. SDG 4 Pendidikan Berkualitas didukung melalui penyebarluasan edukasi kesehatan berbasis bukti ilmiah kepada masyarakat. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan diwujudkan melalui kolaborasi antara PKT UGM, FK-KMK UGM, dan berbagai pihak dalam memperluas akses informasi kesehatan yang akurat kepada masyarakat. (Kontributor: Muhammad ali mahrus).