Dosen FK-KMK UGM Raih FAOBMB Travel Fellowship dan Presentasikan Riset Mikrobioma di Hong Kong

FK-KMK UGM. Dosen Departemen Biokimia FK-KMK UGM, Abrory A. C Pramana yang juga merupakan mahasiswa program doktor (PhD) pada Division of Nutritional Sciences, University of Illinois Urbana-Champaign (U. of I.), Amerika Serikat, berkesempatan mengikuti 32nd FAOBMB Conference yang diselenggarakan di The University of Hong Kong pada 10–13 Agustus 2026 untuk mempresentasikan penelitian mengenai peran metabolit mikrobiota usus dalam perkembangan kanker kolorektal.

Konferensi yang mengusung tema “Breaking New Ground on Disease Mechanisms in the Post-Pandemic Era” tersebut mempertemukan peneliti dari berbagai negara di kawasan Asia-Pasifik. Forum ini menjadi ruang untuk berbagi perkembangan penelitian dan gagasan terbaru di bidang biokimia, biologi molekuler, serta ilmu biomedis.

Dalam rangkaian konferensi, Abrory berhasil memperoleh FAOBMB Travel Fellowship bersama sembilan penerima fellowship lainnya yang berasal dari Indonesia, Sri Lanka, dan Australia. Sebagai penerima fellowship, Abrory mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan penelitian melalui presentasi oral dalam sesi khusus bagi penerima Travel Fellowship. Ia juga mempresentasikan penelitiannya dalam sesi poster yang membuka ruang diskusi dan pertukaran gagasan dengan peneliti dari berbagai institusi dan latar belakang keilmuan.

Penelitian yang dipresentasikan berfokus pada potensi peran metabolit yang dihasilkan mikrobiota usus dalam perkembangan kanker kolorektal atau colorectal cancer (CRC). Kajian tersebut menyoroti hubungan antara perubahan komposisi dan aktivitas mikrobioma usus dengan perkembangan kanker melalui interaksi antara mikroorganisme usus, sel epitel, dan metabolit yang dihasilkan oleh mikrobiota.

Metabolit turunan indol merupakan senyawa yang terbentuk melalui proses metabolisme triptofan oleh mikroorganisme di dalam usus. Senyawa tersebut menjadi salah satu perhatian dalam penelitian mikrobioma karena potensinya dalam menjaga keseimbangan lingkungan usus atau intestinal homeostasis serta mengatur interaksi antara mikrobiota dan sel inang.

Perubahan kadar metabolit tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai hubungan antara ketidakseimbangan mikrobiota usus atau gut microbiome dysbiosis dengan perkembangan kanker kolorektal. Dalam konteks penelitian yang dipaparkan, perubahan profil metabolit menjadi salah satu aspek yang dikaji untuk memahami lebih jauh mekanisme yang mungkin menghubungkan mikrobiota dengan perkembangan penyakit.

Abrory menekankan bahwa hasil yang disampaikan dalam konferensi masih merupakan temuan awal sehingga diperlukan penelitian dan pengujian lebih lanjut. Meskipun demikian, hasil tersebut memberikan indikasi bahwa perubahan mikrobiota usus selama perkembangan kanker kolorektal dapat berkaitan dengan perubahan profil metabolit yang dihasilkan mikroorganisme. Perubahan lingkungan usus tersebut selanjutnya berpotensi memiliki kaitan dengan proses perkembangan penyakit.

Kegiatan ini mendukung SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan kapasitas akademik dan penelitian. Kegiatan ini juga mendukung SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui pertukaran pengetahuan dan jejaring ilmiah lintas negara. (Kontributor: Abrory Cahya Purnama).