Dosen FK-KMK UGM Publikasikan Temuan Baru untuk Skrining Hipertensi Pulmonal pada Penyakit Jantung Bawaan Dewasa

FK-KMK UGM. Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM bersama tim peneliti memublikasikan artikel ilmiah berjudul “Accuracy of Echocardiographic Parameters in Diagnosing Pulmonary Hypertension in Adult Patients with Uncorrected Secundum Atrial Septal Defect” yang terbit pada jurnal Echocardiography edisi April 2026. Artikel tersebut ditulis oleh Yohanes Adeo Caesar Evan Santoso, Real Kusumanjaya Marsam, Dyah Wulan Anggrahini, Anggoro Budi Hartopo, dan Lucia Kris Dinarti.

Melalui penelitian ini, tim peneliti dari Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FK-KMK UGM mengevaluasi akurasi berbagai parameter ekokardiografi dalam mendeteksi hipertensi pulmonal (pulmonary hypertension/PH) pada pasien dewasa dengan atrial septal defect (ASD) sekundum yang belum menjalani koreksi, sebagai alternatif pemeriksaan yang lebih mudah diakses dibandingkan prosedur invasif. Publikasi yang terbit pada April 2026 tersebut berangkat dari tingginya kebutuhan akan metode diagnosis PH yang akurat dan aman.

Hipertensi pulmonal merupakan salah satu komplikasi progresif yang sering ditemukan pada pasien ASD dewasa yang tidak terkoreksi. Kondisi ini dapat memperburuk perjalanan penyakit serta memengaruhi prognosis pasien secara signifikan. Selama ini, right heart catheterization (RHC) masih menjadi standar emas dalam menegakkan diagnosis PH. Namun, prosedur tersebut bersifat invasif, membutuhkan fasilitas khusus, serta tidak selalu tersedia di seluruh layanan kesehatan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, tim peneliti melakukan studi diagnostik potong lintang menggunakan data retrospektif dari registry COngenital HeARt Disease in Adult and Pulmonary Hypertension (COHARD-PH) yang dikembangkan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Penelitian melibatkan pasien dewasa dengan ASD sekundum yang belum menjalani penutupan defek dan telah menjalani pemeriksaan ekokardiografi serta RHC pada periode Januari 2023 hingga Juli 2025. Diagnosis hipertensi pulmonal ditetapkan berdasarkan hasil RHC dengan kriteria mean pulmonary artery pressure (mPAP) lebih dari 20 mmHg.

Dari total 97 subjek yang dianalisis, sebanyak 87 pasien atau sekitar 89,7 persen terdiagnosis mengalami hipertensi pulmonal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa parameter ekokardiografi memiliki kemampuan yang sangat baik dalam mendeteksi PH. Parameter yang menunjukkan akurasi tertinggi meliputi estimasi pulmonary vascular resistance (PVR), tricuspid regurgitation velocity (TRV), tricuspid regurgitation pressure gradient (TRPG), pulmonary artery systolic pressure (PASP), mean pulmonary artery pressure (mPAP), serta rasio tricuspid annular plane systolic excursion terhadap PASP (TAPSE/PASP).

Peneliti juga menemukan bahwa nilai ambang optimal TRV untuk mendeteksi hipertensi pulmonal pada populasi pasien ASD sekundum dewasa adalah ≥ 2,96 m/s. Pada titik potong tersebut, TRV memiliki sensitivitas sebesar 81,6 persen dan spesifisitas sebesar 80 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa parameter berbasis tekanan dan resistensi yang diperoleh melalui ekokardiografi dapat dimanfaatkan sebagai alat skrining yang efektif untuk membantu pengambilan keputusan klinis, terutama pada fasilitas kesehatan yang memiliki keterbatasan akses terhadap pemeriksaan RHC.

Penelitian ini turut mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera tercermin melalui upaya peningkatan kualitas diagnosis dan tata laksana penyakit kardiovaskular sehingga dapat mendukung pelayanan kesehatan yang lebih efektif dan aman bagi pasien. SDG 4 Pendidikan Berkualitas diwujudkan melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan publikasi ilmiah yang memperkaya bukti ilmiah di bidang kardiologi. Selain itu, SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur juga didukung melalui pemanfaatan teknologi diagnostik noninvasif yang inovatif untuk memperkuat sistem pelayanan kesehatan modern berbasis bukti. (Kontributor: Untara).